Sekilas Info

LEGENDA SEPAKBOLA

PSA Ambon, Kontributor Pemain Timnas Indonesia dan Liga yang “Mati Suri”

Skuat tim PSA Ambon awal 1960 an. Terdapat tiga pemain yang kemudian jadi pemain PSSI atau timnas yakni kiper Notje Souisa dan Nicky Putiray (pindah ke Persebaya) yang ikut Kejuaraan Yunior Asia 1962 di Bangkok serta Bertje Matulapelwa yang kemudian hengkang ke Persija. -dokumen-

BOND atau Perserikatan PSA Ambon punya sejarah panjang. Keberadaannya sudah sejak jaman kolonial Belanda hingga kemerdekaan republik ini. Sayangnya, PSA kini sudah "mati suri". Pingsan dalam waktu yang lama.

Padahal dulu PSA eksis, bersejarah dan disegani. Ini terbukti klub-klub anggotanya sudah berdiri sejak 1900 an. Sebut saja klub semisal Pusparagam, HVC (Hative Voetball Club), Bintang Timur, Putnus (Putera Nusantara), Perspim Benteng dan lainnya. Inilah klub-klub tua yang banyak pemainnya mampu menembus skuat Tim PSSI atau kini disebut tim nasional sejak masa 1950 an hingga 1990 an..

Serta juga tim-tim elit Kompetisi Perserikatan hingga jaman sepakbola semi profesional era Galatama (Liga Sepakbola Utama) awal 1980 dan kemudian trend Liga Indonesia sejak 1990 an sampai kini.

PSA Ambon memang bukan tim elit. Bukan pula tim langganan juara di kompetisi nasional. Namun tak bisa dibantah. Bahwa PSA Ambon punya kontribusi besar untuk skuat timnas Indonesia sejak tahun 1950 an. Lantaran beberapa mantan pemain binaan PSA Yunior maupun Senior sukses masuk tim PSSI atau timnas.

Itu pun hanya bicara tentang PSA. Belum lagi tentang persepakbolaan di Pulau Ambon. Yang didalamnya terdapat kampung sepakbola yaitu Negeri Tulehu, kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Yang para pemain nya berjumlah puluhan selalu warnai klub-klub Liga Indonesia bahkan timnas yunior maupun senior Indonesia. Termasuk juga Negeri Liang dan lainnya.

Kembali ke PSA Ambon. Penulis hanya fokus pada reputasi dan kontribusinya pada sepakbola nasional pasca kemerdekaan RI 1945. Pasalnya, meski PSA sudah hadir sejak jaman kolonial Belanda, namun sulit mendapatkan referensi tentang eksistensinya secara organisasi maupun kompetisi dan para pemainnya.

Dalam referensi PSSI. Pemain PSA Ambon sudah sejak tahun 1950 an pernah masuk skuat timnas Indonesia. Yaitu ketika seleksi nasional untuk pembentukan tim Indonesia yang akan ikut Asian Games (AG) 1954 di Manila Filipina. Waktu itu pelatihnya asal Yugoslavia, Toni Poganik. Pelatih inilah yang membawa Indonesia rebut medali perunggu AG 1958 di Jepang dan lolos Olimpiade Melbourne 1956.

Kolase foto dari kiri ke kanan: Jacob Sihasale, Bertje Matulapelwa, dan Simson Rumapasal.

Saat itu ada dua pemain PSA dipanggil ikut Seleknas. Satu diantaranya penyerang Matheos Putiray dari klub Pusparagam. Puluhan pemain Perserikatan jalani Seleknas di Solo dan Jakarta. Sampai sisa 28 pemain, Putiray masih lolos. Ia bersaing dengan striker legendaris PSSI, Ramang, Jamiat Dahlar, Witarsa dan lainnya. Sayangnya, PSSI hanya membawa 20 pemain ke Asian Games 1954. Putiray akhirnya gagal masuk tim inti.

Awal era 1960 an. Banyak talenta muda PSA bermunculan. Tercatat dalam sejarah PSSI, dua pemain yunior PSA yakni kiper Notje Souisa dan pemain belakang Nicky Putiray direkrut masuk skuat timnas Indonesia ikut Kejuaraan Asia Yunior 1962 di Bangkok Thailand. Souisa jadi kiper kedua setelah Yudo Hadianto. Indonesia saat itu jadi juara ketiga.

PARA LEGENDA

Dekade 1950 an sampai 1980 an. Merupakan masa kejayaan pemain-pemain PSA Ambon atau mantan pemain di klub-klub besar Indonesia bahkan jadi legenda seperti di Persija, Persebaya, PSM dan lainnya, termasuk di timnas Indonesia pula.

Misalnya Bertje Matulapelwa (Persija/Timnas), Nicky Putiray (Persebaya/Timnas), Jacob Sihasale (Persebaya/Timnas), Simson Rumapasal (PSM/Warna Agung/Persija/Timnas),, Yance Lilipaly (Niac Mitra/Persebaya/Timnas), Toni Tanamal (Persija/Timnas), Najib Assagaff (PSA/Timnas), John Parinusa (PSA/Timnas ABRI), Doni Putiray (PSA/Seleknas PSSI), Haruna Samual (PSA/Timnas ABRI), Idris Karim (PSA/Timnas ABRI), Rochy Putiray (Arseto/Persija/PSM/Liga Hongkong/Timnas), Reynold "Koko" Pietersz (Persebaya/Timnas) hingga generasi terakhir 1990 an Zakarias Rumlus (PSA/Seleksi Tim PSSI Primavera) dan lainnya.

Dari nama-nama eks PSA tersebut, diantaranya merupakan pelatih dan pemain legendaris klubnya maupun timnas Indonesia yang sukses. Bertje Matulapelwa contohnya. Dia adalah pemain gelandang dan pelatih Persija/timnas yang berprestasi. Kemudian Bertje adalah pelatih lokal timnas Indonesia tersukses sepanjang sejarah PSSI. Mampu bawa Indonesia jadi semifinalis Asian Games 1986 di Seoul dan medali emas sepakbola Indonesia di SEA Games 1987 di Jakarta. Belum ada pelatih lokal yang bisa samai prestasinya.

Berikutnya Jacob Sihasale. Striker timnas Indonesia 1960 an hingga 1975 ini, adalah penyerang paling ditakuti di benua Asia di masa jayanya. Karenanya Jacob Sihasale pernah masuk Tim Asian All Stars, skuat terbaik Asia. Ia saat itu masuk bersama empat rekannya Sucipto Suntoro, Iswadi Idris, Max Timisela dan Abdul Kadir. Mereka dijuluki "Macan Asia". Jacob dkk ketika itu merajai berbagai turnamen penting Asia di Malaysia, Thailand, Pakistan, Korea Selatan dan Jakarta .

Selanjutnya Simson Rumapasal. Dia dikenal sebagai salah satu bek kanan terbaik Indonesia di jaman 1970 an - 1980 an. Simson berjaya di masa awal kompetisi Galatama dengan klub Warna Agung, lalu sukses pula bersama Persija dan ikut berprestasi dengan timnas Indonesia. Ia juga sempat perkuat PSM Makassar.

Lantas yang melegenda juga adalah Toni Tanamal. Sang libero tenang ini bertahan lama dan sukses bersama Persija. Ia pun sempat menjadi kapten tim ibukota tersebut. Selain itu, Toni juga menjadi pemain timnas dalam proyek pembinaan Tim PSSI Garuda 1980 an.

Legenda selanjutnya adalah Rochy Putiray. Dikenal sebagai striker Indonesia nyentrik di era 1990 an. Khasnya dengan rambut warna warni dan juga sepatu beda warna. Rochy dikenang sebagai legenda klub elit dulu Arseto Solo. Ia pun malang melintang dengan Persija dan PSM. Masa keemasannya pernah dikontrak beberapa klub di Liga Hongkong.

Di negara itu, Rochy Putiray pernah mencetak dua gol ke gawang tim elit Eropa AC Milan saat bertanding di sana. Padahal waktu itu AC Milan diperkuat para bintang timnas Italia maupun dunia. Di timnas Indonesia, Rochy bagian dari skuat yang meraih emas kedua sepakbola pada SEA Games 1991 di Manila.

Selain itu, eks PSA yang melegenda di klubnya adalah Reinold Pietersz. Ia merupakan penyerang Persebaya yang menjuarai Liga Indonesia 1997. Bersama Jackson F. Tiago asal Brasil waktu itu adalah duet penyerang yang disegani. Reinold sebelumnya juga membawa tim sepakbola Jatim meraih medali emas PON 1996 Jakarta.

Itu mereka yang sukses masuk timnas atau seleksi nasional serta yang jadi legenda sepakbola Indonesia. Belum terhitung banyak skuat tim PSA atau eks anggota klub PSA yang kemudian hengkang main di klub-klub era Galatama maupun Liga Indonesia masa 1980 an sampai 1990 an.

Kolase Foto dari kiri ke kanan: Toni Tanamal, Reynold Koko Pietersz., dan Rochy Putiray..

Mereka diantaranya Koko Bakarbesy (Bintang Timur Galatama), Eddy Tauran (PSM), kiper Husein Ongso (Persijatim), Yance Souhuwat (Pelita Jaya/Petrokimia Putra/PSM), Yance Metmey (Perkesa/Persegres), Ali Litiloly (Persijatim), Willem Lokolo (Petrokimia Putra), Dodi Sahetapy (Persijatim), Charles Putiray (Persela), Donny Nanlohy (Persebaya), Ahmad Latupono (Mitra Surabaya).

Sammy Pieter Kayadoe (ASG/Persebaya), Robby Salakory (PKT), Samuel Pariama (Krama Yudha), Yongki Kastanya (Persebaya), Franky Wenno (Makassar Utama/Timnas), Jemmy Putiray, Martin Sarimanela dan Ali Lisaholet (Pelita Jaya), Muklis Mony (Assyaabab), Jufry Samual (Persitara) hingga generasi terkini Vinky Pasamba (PSIS) dan masih banyak lainnya.

Sekian banyak mantan dan pemain anggota PSA Ambon itu yang berkarier di klub-klub Liga dan timnas Indonesia, tentunya belum termasuk talenta dari Negeri Tulehu. Semisal marga Umarela, Lestaluhu, Tuasalamony, Nahumarury, Ohorela dan lainnya yang tak hentinya menghiasi Liga dan timnas yunior maupun senior Indonesia.

KIPRAH DAN PRESTASI

Meskipun PSA bukan tim elit jaman Perserikatan atau Liga Indonesia. Namun secara tim, PSA pernah punya reputasi nasional. Itu terjadi tahun 1959 dan 1964 di berbagai kota di Jawa. Tahun 1959 PSA ikut kompetisi nasional PSSI. PSA satu grup dengan Persibal Bali dan Persik Kediri. Dewi fortuna belum berpihak ke PSA. Pasalnya ketiga tim saling mengalahkan, namun PSA kalah hitungan gol memasukan ke gawang lawan. Karena hasil pertandingan PSA kalahkan Persibal Bali 3-1, takluk dari Persik Kediri 0-1, sedangkan Persibal tundukkan Persik 4-1. Bali yang lolos ke 4 Besar.

Momen lain di tahun 1964. Ketika PSA lolos ke Kejurnas Perserikatan mewakili Indonesia Timur bersama PSM Makassar dalam Kejurnas 9 Besar Perserikatan PSSI di Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Semarang dan Solo.

9 tim utama saat itu adalah Persija, Persebaya, Persib, PSM, PSMS Medan, PSP Padang, Persijem Jember, PSB Bogor dan PSA Ambon. Dari 8 kali main, PSA menang atas PSP Padang 3-1, dua kali seri dengan PSB Bogor 3-3 dan lawan Persijem 0-0. Serta lima kali kalah dari tim-tim besar yaitu Persija, Persebaya, Persib, PSMS dan PSM.

Ironisnya, dua pemain bintang Persija dan Persebaya adalah mantan skuat PSA yaitu Bertje Matulapelwa (Persija) dan Jacob Sihasale (Persebaya). Klasemen akhir PSA berada di peringkat 7 nasional dengan poin 4. Waktu itu nilai satu kemenangan 2 poin. PSA berada di atas Persijem dan PSP. Juaranya Persija dan runner up PSM Makassar.

Masa 1960 an merupakan kejayaan PSA dan juga tim kuat dari Indonesia Timur bersama PSM. Ketika Irian Barat bergabung dengan Indonesia tahun 1963, tim sepakbola nya mulai masuk PSSI. Nama tim nya Persibar (Persatuan Sepakbola Irian Barat) cikal bakal nya Persipura Jayapura. PSA lah yang mengundang Persibar untuk bertanding di Lapangan Merdeka Ambon. Waktu itu PSA menang telak 5-0. Namun tahun 1970 an Persipura mampu balik kalahkan PSA dan menjadi kekuatan baru dari timur di arena sepakbola nasional hingga kini.

Era 1970 an kiprah PSA menurun setelah pemain-pemain utamanya hengkang ke klub-klub di Makassar, Surabaya dan Jakarta. Pamor PSA sebagai kekuatan sepakbola Indonesia Timur diambil alih Persipura Jayapura yang terus eksis dan berprestasi. Kiblat sepakbola timur pun beralih ke anak-anak Irian Jaya (Papua) di kompetisi Perserikatan.

PSA bangkit kembali pada dekade 1980 an di arena nasional. Momen nya saat Turnamen HUT PSSI ke-52 tahun 1982 di Stadion Utama Senayan lolos hingga partai final lawan PSP Padang. Sayangnya PSA hanya jadi runner up setelah kalah 2-3 dari PSP..

Waktu itu diikuti 12 tim Galatama (6) yaitu Pardedetex, Mercu Buana, Warna Agung, Jayakarta, Indonesia Muda dan Niac Mitra. Sedangkan 6 tim Perserikatan yaitu Persija, PSIM Jogjakarta, PSP Padang, Persema Malang, Persipon Pontianak dan PSA Ambon.

Baik Galatama maupun Perserikatan dipisahkan dalam pembagian grup. PSA masuk Grup A dengan PSP dan PSIM. Hasilnya PSA vs PSP 2-2, PSA vs PSIM 2-2 dan PSP vs PSIM 3-0. Jadinya PSP dan PSA lolos ke semifinal. PSP ketemu Persija serta PSA ketemu Persema Malang.

Di luar dugaan terjadi kejutan. PSP mampu kalahkan Persija 3-2 melalui perpanjangan waktu. Sedangkan PSA tumbangkan Persema 2-0 dengan gol yang diciptakanJohn Parinusa dan Yosi Latuperisa. Maka terjadi partai ulangan grup di final antara PSP vs PSA.

PSP Akhirnya juara jalur Perserikatan setelah kalahkan PSA 3-2. Dua gol PSA dicetak oleh John Parinusa dan Ali Lilisula. Sedangkan jalur Galatama dijuarai Mercu Buana Medan. Setelahkan taklukkan Niac Mitra 7-6 melalui adu penalti.

Kiprah dan prestasi PSA lainnya di arena nasional yaitu lolos ke 12 Besar Divisi I PSSI tahun 1984. Kembali PSA belum beruntung. Sebab hanya juara grup yang melaju ke 4 Besar untuk berebut dua tiket promosi Divisi Utama. PSA satu grup dengan PSB Bogor dan Persiharjo Sukoharjo. Pertandingan dengan sistem kandang dan tandang. Namun semuanya berlangsung di Stadion Siliwangi Bandung.

Hasil dua putaran tersebut adalah PSA menang dua kali, kalah dua kali. PSA vs PSB 2-3, PSA vs Persiharjo 4-0. PSB vs Persiharjo 1-1. Putaran kedua PSA vs PSB 0-3, PSA vs Persiharjo 1-0 dan PSB vs Persiharjo 3-1. Akhirnya PSB juara grup dengan poin 7, PSA runner up poin 6.

PSB lolos ke 4 Besar. Namun hasilnya dua tim yang lolos dan berhak raih tiket promosi ke Divisi Utama adalah Perseman Manokwari dan PS Bengkulu. Bintang Perseman ketika Adolf Kabo bersinar dan direkrut masuk timnas.

Nasib PSA dijauhi hoki atau keberuntungan. Pasalnya, peluang masuk Divisi Utama terjadi lagi tahun 1987. Ketika itu PSA lolos ke Final 4 Besar Divisi I PSSI untuk menentukan dua tim lolos promosi ke Divisi Utama. Namun lagi-lagi PSA "sial" dan gagal masuk Divisi Utama. 4 tim terbaik Divisi I saat itu adalah PSDS Deli Serdang, Persitara Jakarta Utara, Persegres Gresik dan PSA Ambon.

Ketika itu yang promosi ke Divisi Utama yaitu PSDS dan Persitara. Persegres dan PSA gagal dan tetap di Divisi I PSSI. Dari tiga kali main, PSA kalah dari Persegres dan Persitara serta seri lawan PSDS. Ironisnya, gol Persegres dan Persitara diantaranya dicetak oleh anak-anak asal Ambon yakni Rani Ngawaro dan Mansyur Lestaluhu ((Persitara) serta Reno Latuperisa dan Yance Metmey (Persegres).

Kesempatan PSA masuk Divisi Utama PSSI terulang lagi tahun 1992 karena lolos ke 6 Besar Divisi I. Saat itu PSA satu grup bersama Persiraja Banda Aceh dan PSIR Rembang. PSA mampu kalahkan Persiraja, namun kalah dari PSIR, sebaliknya PSIR kalah dari Persiraja. Ketiga tim punya nilai 3 yang sama. Penentuan satu tiket ke Divisi Utama ditentukan melalui selisih gol.

"Kalau tidak salah ingat PSIR Rembang yang maju ke grandfinal ketemu PSIM Jogjakarta. Namun keduanya lolos ke Divisi Utama. Saya waktu itu sejak zona grup timur hingga 6 Besar Nasional cetak 7 gol. Tetapi kita belum beruntung," ungkap striker PSA jaman itu, Joseph Papilaya yang kini bertugas di Bank Maluku Cabang Dobo kepada satumaluku.id via whatsapp, Kamis malam (22/10).

Usaha PSA untuk bangkit kembali coba diwujudkan pada kompetisi Divisi I PSSI Zona Timur di Manado 1996. Ada 4 tim yang harus merebut dua tiket ke putaran nasional. Yaitu Persma Manado, PSA Ambon, Persiss Sorong dan Persidafon Dafonsoro.

Hasilnya PSA gagal ke grup nasional. Lantaran Persma dan Persidafon yang lolos. PSA hanya peringkat ketiga. Momen itu adalah kebangkitan Persma karena akhirnya mampu tembus Divisi Utama. Persma waktu itu ditangani pelatih nasional Eddy Sofyan dan disuport Gubernur E.E. Mangindaan.

Sejak saat itu. PSA tak mampu lagi menembus putaran Divisi I Nasional atau kompetisi untuk promosi ke Divisi Utama. PSA berkutat alias penghuni tetap Divisi I PSSI Wilayah Timur saja. Eksistensi PSA makin redup, bahkan "mati suri". Apalagi Ambon dan sekitarnya dilanda konflik sosial berdarah 1999. Maka sampai kini, nama besar PSA tinggal kenangan. Ibarat hidup segan, mati tak mau. Ada namun tiada. Lantaran dengan sistem kompetisi liga, maka PSA kini harus merangkak dari Divisi III. Ini akibat vakum dari kompetisi. Miris.

Tak ada lagi bibit-bibit berbakat dan bertalenta yang membuat suasana riuh rendah, hingar bingar sepakbola di lapangan historis kota ini yakni Lapangan Merdeka. Lapangan yang sudah melahirkan bintang-bintang sepakbola Indonesia bahkan Asia itu telah dibeton dengan paving blok oleh sang penguasa.

Stadion Mandala Remaja Karangpanjang pun merana. Sepi tak ada suara gemuruh. Tak ada teriakan pemain, pelatih, pengurus, juga suporter dan penonton. Sepakbola Ambon pun redup. Sama seperti lampu stadion yang tak pernah menyala lagi. Itulah nasib olahraga rakyat. Olahraga yang punya prait, prestise, kebanggaan dan kehormatan. Ironis memang ! (novi pinontoan/berbagai sumber)

Baca Juga

error: Content is protected !!