Sekilas Info

KORUPSI BANDA MOA

Tiba di Ambon Terpidana Kasus Korupsi Bandara Moa Mengaku Sehat Sebelum Dieksekusi

satumalukuID/Husen Toisuta Sunarko (kedua kiri), terpidana kasus korupsi pembangunan runway bandara Moa, Kabupaten MBD tiba di Kejati Maluku, Kota Ambon.

satumalukuID- Sunarko, terpidana kasus korupsi pembangunan runway bandara Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang sempat buron enam bulan dan ditangkap di Pekanbaru, Riau, Selasa (20/10/2020) malam, tiba di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Kota Ambon, Kamis (22/10/2020) pukul 16.16 WIT.

Ditanya wartawan, Sunarko mengaku dirinya dalam kondisi sehat, sejak ditangkap di kamar 208 Hotel Asnof, Jalan Tuanku Tambusai, Tengkerang Bar, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau, pukul 20.10 WIB, hingga tiba di Kejati Maluku, Kota Ambon.

"Saya sehat," kata Sunarko sambil mempersilahkan wartawan mengabadikan gambar dirinya di dalam ruang tamu kantor Kejati Maluku.

Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Maluku, Rudi, mengaku, setibanya Sunarko, pihaknya langsung melakukan eksekusi kepada yang bersangkutan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Ambon.

Sunarko terjerat perkara pembangunan konstruksi bandara Moa yang bersumber dari APBD MBD tahun 2012. Pagu anggarannya Rp.20 miliar.

"Penyimpangannya adalah kualitas pekerjaan kontruksi tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditemukan dalam surat perjanjian pekerjaan. Jadi pembayaran tidak sesuai dengan prestasi pekerjaan," katanya.

Pekerjaan asal-asalan yang dilakukan Sunarko sebagai direktur PT. Bima Prima Taruna, selaku pelaksana proyek telah merugikan negara sesuai perhitungan BPK RI sebesar Rp.2.961.326.618,64.

"Jadi perkara ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap, karena yang bersangkutan sudah mengajukan upaya hukum banding dan kasasi. Jadi hari ini dilaksanakan eksekusi putusan Mahkamah Agung RI," katanya.

Sunarko, lanjut Rudi, merupakan terpidana yang dihukum 4 tahun penjara. Dia juga dibebankan membayar denda Rp.200 juta. Jika tidak dibayar maka akan diganti dengan pidana kurungan selama 2 bulan.

Terdakwa juga dibebankan membayar uang pengganti Rp.2.961.326.618,64, yang dikurangkan dari uang yang disita sebesar Rp.3.142.000.000.

"Apabila terdakwa tidak dapat membayar uang pengganti selama 1 bulan setelah pustusan pengadilan mempunyai hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita, dan dilelang untuk uang pengganti tersebut. Jika tidak mencukupi maka diganti dengan pidana selama 2 tahun," katanya.

Rudi mengaku nilai kerugian negara sudah dilunasi terpidana. Bahkan lebih dan pihaknya akab mengembalikan kepada yang bersangkutan.

"Sudah lunas dari yang disita ini. Ada kelebihan nanti apakah dibayarkan untuk uang dendanya tergantung terdakwa. Dia kabur dari bulan April 2020," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!