Sekilas Info

KASUS NARKOBA

200 Gram Sabu-sabu Lolos ke Ambon, Karena Lemahnya Pengawasan di Masa Pandemi?

satumalukuID/Husen Toisuta Kepala BNNP Maluku Brigadir Jenderal Polisi Jafriedi (kedua kiri).

satumalukuID- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku, berhasil mengungkap peredaran narkoba jenis sabu-sabu seberat 200 gram di Kota Ambon. Jumlah itu termasuk yang paling besar sepanjang sejarah pengungkapan sabu-sabu di Maluku.

Menariknya, zat adiktif itu tidak diselundupkan seperti biasanya melalui jasa pengiriman atau disembunyikan secara ketat. Barang haram itu hanya dibawa seperti biasa melalui jalur udara dari Jakarta hingga digrebek di depan Mapolsek Teluk Ambon, Kota Ambon, Jumat (16/10/2020) lalu.

"Modus yang mereka gunakan, mereka bawa sendiri seperti biasa. Dengan paket seperti biasa dia bawa sendiri itu yang kita dapat," kata Kepala BNNP Maluku Brigjen Pol. Jafriedi kepada wartawan di Kantor BNNP Maluku, Karpan, Kota Ambon, Selasa (20/10/2020).

Narkotika dengan nama latin Amphetamin itu dipasok dua orang kurir. Yaitu MK alias Nus (51) dan DN alias Dian (20). Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di rumah tahanan BNNP Maluku, Karpan Ambon.

"Pasal yang dikenakan 114, 112, 132 karena mereka bekerjasama. Ancaman 6 tahun sampai 20 tahun penjara," terangnya.

Menyoal lemahnya pengawasan Bandara yang mengakibatkan barang tersebut dapat lolos dari Jakarta ke Ambon, Jenderal Bintang Satu Polri ini mengakui fakta tersebut.

"Saya tidak bisa jawab begitu (pengawasan lemah) yang jelas kenyataannya demikian, faktanya demikian bahwa kita menangkap mereka di depan Polsek Teluk Ambon," terangnya.

Dia mengaku, dua kurir itu dibuntuti dan berhasil ditangkap dalam razia polisi yang berlangsung di depan Markas Polsek Teluk Ambon.

"Kita memberitahu razia karena ini (barang) mau masuk. Kita melaksanakan control delevery (pembuntutan) sehingga nanti penangkapannya tidak gaduh tetap berhasil. Jadi kita buat sedemikian rupa seolah olah sedang razia di sana," jelasnya.

Kembali menyinggung lemahnya pengawasan Bandara akibat dampak dari massa pandemi Covid-19, Jafriedi, membantahnya. Dia hanya mengaku terjadi kelengahan dari petugas.

"Saya analisis tidak sampai ke sana (masa pandemi pengawasan lemah), bandara ketat juga. Bapak-bapak bisa lihat sendiri di Bandara ketat, tetapi ini mungkin kelengahan. Sehingga peluang itu bisa diambil oleh jaringan untuk memasukan barang," ujarnya.

Kendati demikian, lanjut Jafriedi, pencegahan penyelundupan 2 ons bahan kimia mematikan itu telah menyelamatkan kurang lebih 1.000 anak Maluku, khususnya di Kota Ambon.

"Penangkapan ini bisa terselamatkan seribu orang anak-anak Ambon. Jadi kurirnya profesional ini. 200 gram harganya hampir Rp.700 juta," sebutnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!