Sekilas Info

BAND ROCK AMBON

Satu Garis Band Bakal Menggebrak Ambon dengan Album Perdana Rock

satumalukuID/Dok. Satu Garis Band

Lihatlah aku

Genggam tanganku

Tatap mataku

Yakinkan hatimu

Peluklah aku

Bila kau ragu

Kan kau dapati kesungguhan ini

Yang lalu biarlah berlalu

Aku mengerti 

Aku pahami…

Alunan merdu musik slow rock menyapa, ketika sore tadi satumelukuID membuka sebuah pesan whatsapp. Isinya link lagu milik band bergenre rock asal Ambon, Satu Garis. Link tersebut merupakan akses untuk ke platform digital seperti Apple Music, Spotify dan Joox.

Cukup menarik, sebab genre musik yang diusung Satu Garis tergolong jarang dibawakan oleh musisi-musisi di kota bertajuk Ambon UNESCO City of Music ini. Selama ini di Ambon, satumalukuID lebih familiar dengan alunan musik Pop, Hip Hop, maupun Rap. 

Nah, band dengan personil Dariola Pratama Leiwakabessy (Vocal), Edwin Titahalawa (Gitar), Nicolas Lailossa (Gitar), Liberto Thenu (Bass) dan Joseph Lieando (Drum) ini, baru saja melahirkan album perdana mereka berjudul Twenty Seven, yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini. Di dalamnya ada sepuluh buah lagu, dengan dua lagu dalam Bahasa Indonesia, dan delapan lainnya berbahasa Inggris. 

Rasa penasaran membuat satumalukuID langsung menghubungi vocalis Satu Garis band, Dariola Pratama yang lebih akrab disapa Dio, serta sang Manager, Calro Labobar melalui video call. 

Kepada satumalukuID, Minggu (18/10/2020), Dio menuturkan, bahwa album pertama mereka ini sudah digarap sejak bulan Juni 2019, yang diawali dengan penulisan lagu hingga proses rekaman serta mixing.

“Banyak kendala yang kami alami, dan yang paling utama itu ialah wabah pandemi covid-19,” ungkapnya. 

Namun yang paling jadi tantangan ketika itu, kata Dio, saat lahirnya dua lagu pertama pada album ini, pihak belum bergabung pada Sakti Production. 

“Kendala paling utama ketika itu adalah soal dana. Ini yang membuat kami membutuhkan waktu cukup lama,” ujarnya.

Semua lagu pada album ini, lanjut Dio, merupakan ciptaan Satu Garis. Ada beberapa lagu yang merupakan ciptaan salah satu personil, namun ada juga yang merupakan buah karya bersama. 

Dio mengungkapkan, saat proses pembuatan lagu ke empat di album ini, mereka sempat berganti personil pada posisi drumer, yang saat ini diisi oleh Joseph Lieando (Jo).

“Dalam proses pembuatan seluruh lagu di album ini kami mengutamakan kebersamaan. Jadi setiap personil turut membantu,” tambah Manager Satu Garis, Carlo.

Lagu berjudul Dear Mama disebut Carlo merupakan hits dari album Twenty Seven, yang ditulis oleh Edwin Titahalawa (Gitaris). 

Kepada satumalukuID, Edwin mengaku lagu Dear Mama menggabungkan tiga cerita, yang secara garis besar mengenai cinta yang dilihat dari tiga sudut pandang.

“Pertama cinta yang berasal dari orang tua, sehingga judulnya Dear Mama. Kemudian cinta dari lingkungan kita seperti teman. Ketiga cinta dari orang yang spesial bagi kita,” ungkapnya. 

Menurut Edwin, memang agak sulit untuk menjelaskan cinta dari siapa atau yang bagaimana spesifiknya. Arti dari cinta itu sendiri tergantung dari presepsi dan sudut pandang sang pendengar. Proses penulisannya sendiri kata dia membutuhkan waktu kurang dari tiga hari.

“Ada beberapa lagu yang masih kami tulis saat proses rekaman berjalan. Sebab kami memanfaatkan waktu bersama. Sehingga jika masih ada kekurangan di lagu-lagu tersebut kita bisa saling melengkapi,” terang Edwin.

SEMUA PROSES DI AMBON

Carlo menambahkan cerita, bahwa proses penulisan lagu, rekaman, hingga mixing dilakukan di Ambon. Pada awalnya album ini ingin mereka cetak dalam bentuk fisik. Namun karena situasi dan kondisi, serta kesibukan masing-masing sehingga ditunda prosesnya.

“Saat bulan Febuari 2020 rencana kami sudah ingin melakukan proses cetak fisik, namun terhambat pandemi Covid-19, sehingga kita berembuk bersama-sama dan memutuskan untuk tidak cetak fisik,” imbuh Carlo. 

Sebab pihaknya menilai, di zaman sekarang sudah mulai jarang dan mungkin bisa dikatakan sudah tidak zamannya lagi cetak album fisik. Karena dalam bentuk fisik jangkauannya terbatas. 

“Berdasarkan pertimbangan itu, sehingga kami mengambil langkah untuk memilih platform digital atau digital store. Saat proses berjalan, Satu Garis dibantu label milik salah satu musisi Ambon yakni Vicky Salamore,” terang Carlo.

Carlo menyebutkan album perdana Satu Garis ini turut mengukir sejarah baru di Maluku, khususnya di Kota Ambon, sebab mungkin merupakan band rock yang ada di Maluku saat ini. Meski pun mereka tidak memungkiri ada beberapa band yang memainkan musik bergenre rock namun tidak bertahan lama.

“Dengan adanya album ini, Satu Garis ingin membuktikan bahwa ada band rock di Maluku yang mengeluarkan album. Sebab mungkin orang-orang Ambon terbiasa dengan lagu aliran pop. Jadi bisa dibilang aliran musik rock di Maluku ini masuk kategori minoritas,” tuturnya.

Itu sebabnya, Carlo menganggap, ini adalah sebuah tugas bagi phaknya, untuk terus mengenalkan dan mengembangkan aliran musik rock di Maluku. 

RESMI DILUNCURKAN 23 OKTOBER

“Kami berharap tidak hanya sebatas di satu album ini saja. Satu Garis juga sudah mempersiapkan materi untuk album selanjutnya. Tinggal proses teknis saja. Tapi kami masih ingin melihat dahulu pada album pertama ini. Kami tidak ingin terburu-buru. Sebab aliran rock ini merupakan genre legendaris,” tandas Carlo.

Satu Garis menyadari jika aliar musik yang populer di Ambon adalah Pop, Hip Hop dan lainnya, namun mereka tidak merasa takut membawakan aliran musik rock. 

“Kita tidak mungkin keluar dari jalur. Kita tidak ingin menciptakan sebuah karya yang mungkin akan lebih laku namun tidak kita nikmati. Kami berpegang teguh bahwa kita tidak perlu melulu mengikuti pasar atau selera industri musik yang ada. Kita percaya bahwa pada saatnya pasar yang akan mengikuti kita,” tambah Dio.

Dia menambahkan, harapan Satu Garis adalah dunia luar bisa mendengarkan karya-karya anak Maluku, yang berasal langsung dari daerahnya. Sebab semua proses album Twenty Seven ini keseluruhan prosesnya dilakukan di Ambon sebagai Kota Musik Dunia. 

Liberto Thenu atau Beno (Bass) dan Nicolas Lailossa (Nicko) pada Bass juga berharap, Satu Garis dapat terus berkarya, tidak hanya di album pertama saja. Harus terus berkarya dan semangat dalam bermusik. 

Sebagai manager, Carlo mengaku akan terus memotivasi dan mengarahkan Satu Garis untuk terus berkarya dan berkeasi, sebab konten merupakan hal terpenting, sehingga bisa dikenal hingga kancah nasional dan internasional. Apalagi Ambon sudah dikenal dunia sebagai Kota Kreatif Dunia Berbasis Musik.

“Kami secara resmi akan launching albumnya pada 23 Oktober 2020, yang akan dilakukan secara live streaming, mengingat Kota Ambon masih zona merah dalam kondisi pandemi Clovid-19. Di Fanpage Balada, kita juga sementara mencari sponsor, sehingga mungkin bisa live di YouTube dan berbuat lebih,” tutup Carlo.

Penulis: Tiara Salampessy
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!