Sekilas Info

LAWAN COVID-19

Jualan Keripik Ikan Asin, Solusi Hotel di Banda Bertahan pada Kondisi Pandemi Covid

satumalukuID/Dok. Zairin Salampessy Halaman dan bagian The Nutmeg Tree Hotel & Dive yang menghadap ke laut.

Cuaca nampak cerah. Langit biru terlihat menarik dengan hiasan awan putih berarak. Sejumlah  anak bermain perahu dekat dermaga. Tidak banyak terlihat aktivitas di selat Banda Neira, yang biasanya dihiasi kapal pesiar.

Kondisi wabah Covid-19 di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, berdampak besar juga ke industri pariwisata, tak terkecuali kondisi pariwisata di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, yang populer di kalangan pelancong terutama mereka yang hobby diving. 

Kepada satumalukuID, di Banda Neira, Reza Tuasikal, salah satu pelaku pariwisata setempat mengaku kondisi di kepulauan yang dulu menjadi incaran dunia karena komoditas palanya ini, ikut terpukul.

“Terakhir kita menerima tamu pada bulan Maret, ada delapan orang divers dari Singapura. Kemudian mereka dipanggil pulang ke negaranya karena mewabahnya Covid. Sejak saat itu (tempat) kita kosong sampai sekarang,” jelas Reza, kepada satumalukuID, Sabtu (17/10/2020).

Reza menuturkan, meski begitu pihaknya harus tetap menggaji karyawan hingga bulan Juni, kemudian pada bulan Juli dan Agustus, gaji karyawan dibayarkan setengah sebab tidak ada pemasukan.

“Listrik juga harus tetap kami bayarkan. Oleh sebab itu karyawan yang awalnya berjumlah 12 orang, saat ini hanya tersisa empat (4) orang. Mereka bertugas untuk melakukan perawatan kamar dan lain sebagainya,” papar pemilik The Nutmeg Tree Hotel & Dive ini.

Menurut Reza, akibat sepinya wisatawan tersebut, praktis tidak ada pemasukan. Dia harus memutar otak biar ada aktivitas lain yang bisa mendatangkan penghasilan.

“Kita mulai membuat ikan asin dalam bentuk keripik, dari bahan baku verupa ikan tuna. Syukurlah ada permintaan dari Jakarta. Proses pembuatan ikan asin untuk keripik kami lihat dari YouTube,” ungkap Reza.

Setelah beberapa kali melalukan percobaan, Reza katakan, pada bulan berikutnya mereka sudah mendapatkan cara yang baik untuk produksi, setelah itu baru mulai dijual.

“Yang di Bali minta tanpa garam. Namun ini tidak memakai rasa. Dan harganya bagus. Memang pengiriman mahal dan cuaca jelek, jadi kadang tidak dapat ikan,” paparnya. 

Dia katakan, kadang juga ikan masuk banyak namun kadang uang tidak cukup dan tidak ada kulkas untuk menampungnya, selain kulkas di dapur hotel untuk menyimpan macam-macam bahan makanan. 

Reza menuturkan, kalau dia sudah bilang juga ke beberapa rekan lainnya untuk membuat dendeng atau keripik ikan tuna ini. Karena caranya gampang dan belum ada orang yang membuatnya,.

Menurut Reza, pihak pet shop yang di Jakartaminta kalau bisa pihaknya menyuplai rutin per bulan empat (4) ton. Tapi dia tidak tahu mau dapat ikan dari mana sebanyak itu. Apalagi mesin dehydrator (mesin pengering) agak susah didapat. 

“Saya pikir bagus jika Dinas Pariwisata Maluku Tengah menyumbang beberapa mesin dehydratori untuk pelaku pariwisata yang terdampak Covid-19 di Banda atau Saparua, bisa tetapi ada penghasilan dari dendeng ikan ini tanpa terkendala cuaca dalam proses pengeringa,” harapnya. 

Atau kata Reza, misalnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang biasa menyumbang bantuan sosial atau bahan makanan pokok, bisa menyumbang dehydrator saja. 

“Dengan begitu pemilik usaha pariwisata di Banda ini bisa tetap menggaji karyawannya. Jika dihitung untung bersih per kilo bisa dapat Rp.100.000 untuk karyawan. Kalau 10 kg per dua hari lumayan. Namun kalau kita mau investasi dehydrator agak berat untuk itu, karena biaya besar dan ongkos kirim berat,” beber Reza.

Dari hasil penjualan keripik ikan asin tersebut, Reza mengaku dapat mengaji empat orang karyawannya. Jika pesanan melebihi 20 kg, maka karyawan lainnya yag dirumahkan, akan dipanggil sebagai tambahan tenaga kerja.

“Saat ini memang karyawan hanya empat orang, namun jika ada pesanan ikan dalam jumlah banyak, atau ada tamu dari kementerian maka kita akan tambah sekitar tiga orang,” tuturnya. 

Dia katakan, saat ini memang situasi sedang susah karena pandemi Covid-19, menyebabkan minimnya perjalanan wisata sehingga membuat hotel-hotel di Banda Neira terpaksa harus kosong.

Dengan kondisi ini pihaknya berharap dari Dinas Pendapatan Kabupaten Maluku Tengah dapat mengerti, jika hotelnya kosong wisatawan. 

Itu sebabnya Reza dan rekan-rekannya pemilik hotel dan penginapan di Kepulauan Banda berharap pihak dinas dapat memberikan keringan atau untuk sementara meniadakan pajak dahulu, karena memang mereka tidak ada pemasukan sama sekali dari hotel.

“Situasi susah. Semua susah. Banda susah. Hotel-hotel kosong. Tapi listrik masih tetap harus bayar. Yang konyol orang dari dinas pendapatan masih datang menagih pajak. Harusnya dihapus atau diberikan keringanan lah, karena kita tidak ada pemasukan apa-apa,” ujarnya. 

Reza katakan, kepada petugas dinas dia mengaku tidak ada uang, tapi jika mereka ngotot dia bilang saja kalau mau cabut izin hotel ya silahkan. 

“Untuk listik PLN kami masih tetap bayar, karena kebutuhannya untuk alat diving, meski tidak ada tamu tapi alatnya harus terus dirawat. Mau menurunkan daya listrik, nanti repot lagi kalau kelak ada tamu yang datang untuk diving. Kalau langganan internet sementara kami cabut dulu, kalau ada tamu baru pasang lali,” ungkapnya.

Dibanding daerah lainnya di Kabupaten Maluku Tengah, maka Kepulauan Banda ini masih masuk dalam zona hijau. Itu sebabnya Pemerintah Kecamatan Banda Neira, menerapkan aturan pengamanan atau protokol kesehatan, yang mewajibkan para wisatawan yang hendak berlibur ke Banda untuk melakukan swab test. 

Kepada wartawan, Kmis (15/10/2020),Camat Banda Abdul Kadir Sarilan menjelaskan, pertimbangan swab test bagi wisatawan non-Maluku terutama untuk keselamatan warganya, dan juga demi kelancaran liburan para wisatawan di daerah yang dikenal juga sebagai salah satu Jalur Rempah Dunia ini.

Wisatawan yang dimaksud, kata Abdul, yakni mereka yang berasal dari luar Maluku, seperti dari Jakarta, Surabaya, Makassar atau daerah lainnya terutama dari daerah yang merupakan zona hitam dan merah. Sementara bagi wisatwan yang punya KTP Ambon, atau berasal dari Maluku, PNS, wartawan, maka cukup dengan menyertakan surat keterangan sehat dan bukti rapid test. 

“Aturannya mereka yang berasal dari wilayah-wilayah di luar Maluku itu wajib memastikan kondisi diri aman bebas covid-19 melalui swab test,” tandasnya.

Swab dipilih sebagai jalan paling aman. Dengan begitu mereka bisa dengan nyaman berlibur pun beraktivitas dengan masyarakat tanpa takut terpapar atau menularkan virus ke warga di Kepulauan Banda.

Pertimbangan lain soal keputusan swab test bagi wisatawan luar Maluku, menurut Abdul, terlebih karena keterbatasan kses mobilisas dan fasilitas kesehatan. Satu-satunya transportasi untuk membawa pasien ke Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di luar Kepulauan Banda, hanya mungkin dengan speed boat sewaan. Itu pun jika cuacanya bagus.

“Pasien yang datang, adalah mereka dengan gejala sakit ringan yang umum. Sehingga perlu ada kewaspadaan dan kesadaran menjaga wilayah Kepulauan Banda tetap aman,” pungkasnya.

Baca Juga

error: Content is protected !!