Sekilas Info

PENDIDIKAN

Internet Lemot dan Jarak Rumah Siswa Jadi Kendala Metode Belajar Dari Rumah di SMPN 2 Kairatu Barat

IAKN Ambon latih guru-guru SMP Negeri 2 Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat menerapkan metode pembelajaran non-konvensional (14/10/2020).

satumalukuID – Penerapan metode Belajar Dari Rumah (BDR) masih menjadi kendala akibat jaringan internet yang lemot dan jarak rumah siswa yang berjauhan. Setidaknya hal ini yang dirasakan dalam proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Kairatu Barat, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

"Kendala terbesar memang jaringan internet tidak cukup kuat, tetapi setelah kami survei ada beberapa titik yang jaringannya cukup baik untuk menggunakan aplikasi sederhana, walaupun memang tidak bisa digunakan oleh banyak orang sekaligus," kata Pembantu Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAKN Ambon, Yance Z. Rumahuru.

Selain masalah internet lemot,  lokasi rumah siswa yang berjauhan dan berada di lokasi berbeda-beda, termasuk di desa tetangga yang berjarak sekitar 20 kilometer dari sekolah, cukup menyulitkan para guru. Karena selain menghabiskan biaya pribadi untuk transportasi, waktu memberikan pelajaran juga menjadi berkurang.

"Selama pandemi COVID -19 , aktivitas belajar-mengajar tidak maksimal, satu mata pelajaran yang biasanya 45 menit hanya berlangsung 15 menit. Dengan penerapan yang tepat, beban guru mungkin bisa berkurang," ujar Yance.

Tidak hanya pelatihan dan pendampingan kepada para guru, tim IAKN Ambon juga mengunjungi para orang tua siswa SMP Negeri 2 Kairatu Barat, guna mendorong mereka agar memotivasi dan mengawasi anak-anak dalam mengikuti pembelajaran dengan sistem BDR.

"Harapan kami, semoga ada perhatian dari pemerintah daerah, pembiayaan COVID -19 tidak selamanya melihat aspek penerapan protokol kesehatan, tetapi pendidikan juga menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan," tandas Yance.

Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Kairatu Johan Saija dalam sambungan telepon berbeda mengakui kesulitan yang dihadapi pihak sekolah untuk tetap melaksanakan aktivitas belajar-mengajar selama masa pandemi.

"Kami membentuk klaster-klaster atau kelompok belajar siswa di beberapa kawasan yang sama, tapi kita lihat itu tidak efektif. Lokasi yang cukup jauh, ada yang di daerah-daerah perbukitan, jadi guru-guru harus berpencar untuk memberikan pelajaran," ujarnya.

Menurut dia, kurangnya dukungan orang tua untuk memotivasi dan mengawasi anak-anak agar selalu siap saat guru berkunjung memberikan pelajaran, juga menjadi salah satu kendala.

Banyak siswa lebih memilih pergi ke ladang untuk berkebun, ataupun bermain, dari pada menghadiri pertemuan dengan guru mereka.

"Respon dari orang tua dan siswa juga tidak terlalu maksimal, guru juga tidak bisa memberikan sanksi ketika siswa tidak hadir dalam kunjungan guru," kata Johan. 

Baca Juga

error: Content is protected !!