Sekilas Info

Jacob Sihasale; Dari PSA Ambon ke Persebaya, Timnas Indonesia Hingga Asian All Stars

"Jacob Sihasale, pemain bola di PSA. Dada babulu, kumis taputar, jago tembak gol…"

Itulah syair pendek lagu dengan dialek lokal yang tidak diketahui penciptanya, namun populer di kalangan anak-anak dan remaja pencinta sepakbola di era akhir 1960 an hingga 1970 an di Kota Ambon khususnya.

Semasa beta masih duduk di sekolah dasar (SD) pun waktu itu paling sering ikut-ikutan menyanyikan lagu tersebut dengan teman-teman bila hendak bermain bola kaki.

Saat beranjak dewasa dan berprofesi jurnalis olahraga di Harian Suara Maluku awal 1990 an. Barulah lebih jauh mengetahui sejarah detil siapa Jacob Sihasale (JS) yang sebenarnya.

Figur JS adalah pemain berposisi penyerang, forward, yang kini lebih dikenal dengan sebutan striker di tim PSA Ambon. Di era itu, skuat PSA memiliki pemain-pemain berbakat semisal Almarhum Bertje Matulapelwa (pelatih lokal di timnas Indonesia tersukses), Nicky Putiray (pemain/pelatih Persebaya), kiper N. Souisa yang sempat masuk timnas, Alex Tupamahu dan lainnya.

JS kemudian hengkang ke Persebaya Surabaya dan selanjutnya menjadi striker andalan tim PSSI yang kini lebih keren disebut Tim Nasional (Timnas) Indonesia di masa kejayaan 1960 an hingga 1970 an.

Dari catatan wikipedia.org. dan berbagai sumber lainnya, dijelaskan JS lahir di Ambon 16 April 1944. Namun ia meninggal di usia yang belum terlalu tua karena baru berumur 39 tahun, tepatnya 7 Juli 1983 di Jakarta karena sakit

JS memulai karier sepakbolanya sejak masih remaja dari kawasan Benteng kecamatan Nusaniwe Kota Ambon. Ia memperkuat tim PSA Yunior pada tahun 1958-1960. Tak lama kemudian meski masih remaja, JS hengkang ke Surabaya dan bergabung dengan klub terkenal Assyabaab serta PSAD Surabaya.

"Kalau tidak keliru. Dulu di Benteng itu klubnya nama Perspim. Klub itu banyak melahirkan pemain bagus untuk PSA. Jacob Sihasale juga berasal dari kawasan Benteng. Ponakannya Yongki Sihasale juga dulu main bola dan sekantor dengan saya di Bank Maluku," ungkap Dirk Soplanit, mantan Ketua Harian PSA, Ketua Asprov PSSI Maluku, Direktur Liga Indonesia Baru dan kini Anggota Exco PSSI kepada satumaluku.id via telepon seluler, Selasa (13/10).

Setelah pindah ke Surabaya, karier JS terus menanjak. Pada tahun 1969 hingga 1970, JS sempat pindah ke Kota Medan memperkuat klub terkenal yakni Pardedetex (salah satu klub utama ketika PSSI membentuk liga semi profesional Galatama di tahun 1980 an).

Namun hanya satu tahun JS di Medan. Karena akhir 1970 dia kembali ke Surabaya. Di kota pahlawan itu, ia direkrut masuk tim inti Persebaya untuk ikut Kompetisi Antar Perserikatan PSSI.

Sayangnya. Kejayaan prestasi JS justru bukan dengan PSA Ambon atau Persebaya Surabaya. Tetapi ia justru gemilang bersama tim PSSI atau timnas Indonesia. Ini lantaran JS hanya bersama PSA Yunior dua tahun kemudian pindah ke Surabaya. Saat perkuat Persebaya puncak prestasinya yakni bawa tim baju hijau itu dua kali masuk final Kompetisi Perserikatan 1971 dan 1973. Langkah timnya di final digagalkan PSMS Medan dan Persija. Serta tahun 1975 hanya sampai semifinal.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan prestasinya saat perkuat timnas Indonesia masa 1962-1975. Di era tersebut, JS dikenal sebagai penyerang berbahaya di benua Asia. Ia bahkan bersama Sucipto Suntoro, Max Timisela, Iswadi Idris dan Abdul Kadir masuk skuat tim Asian All Stars (tim pemain terbaik Asia) tahun 1966. Mereka dijuluki sebagai "Macan Asia". Di tim itu ada pemain-pemain bintang Korsel, Jepang, Israel, India, Thailand, Burma/Myanmar dan Malaysia.

Puncak prestasinya di timnas Indonesia yaitu juara turnamen Piala Raja (Kings Cup) tahun 1968 dan 1969 di Bangkok Thailand, Piala Emas Agha Khan 1968 di Pakistan, Turnamen Merdeka Games 1969 di Malaysia, Pesta Sukan di Singapura, President Cup 1973 di Korsel dan lainnya.

Juga turut membawa Indonesia juara turnamen HUT Kota Jakarta 1972. Di partai final kalahkan Korea Selatan 5-2. Saat itu, ketika lawan Sri Lanka, Indonesia menang 8-0 tiga gol diantaranya disumbangkan oleh JS.

Pengalaman bertanding internasional JS cukup banyak. Baik di turnamen resmi maupun persahabatan dengan dengan timnas atau klub-klub ternama di Eropa maupun Amerika Latin seperti Ajax FC, Feyenoord FC, Werder Bremen, Dinamo Moskow, Cosmos New York, Sao Paolo dan Santos Brasil (1972) hingga timnas Uruguay di tahun 1974 dan lainnya.

Sebagai pemain PSSI, JS telah mencetak 100 gol lebih. Hampir 40 persen gol nya dihasilkan melalui sundulan kepala. Ia bagai "hantu" bagi kiper lawan.

JS yang berperawakan kekar tapi ramping dengan tinggi 170 memang master dalam soal sundulan yang bertenaga, sebagian di antaranya dilakukan dengan terbang yang menakjubkan. Tapi karena sundulan ini pula JS pernah cidera tak sadarkan diri karena menabrak tiang gawang lawan.

Dalam supremasi tim nasional Indonesia 1960 an, jelas peranan JS sebagai striker sangat nyata. Posisinya sebagai striker dan Soetjipto Soentoro sebagai second striker benar-benar menjadi “eksekutor” yang sangat menakutkan para penjaga gawang di Asia. 

Soetjipto pernah menggelontorkan 5 gol ke gawang Taiwan di Merdeka Games, Kuala Lumpur, Malaysia 1968 ketika Indonesia menang 11-1. Sedangkan JS membuat hattrick. Dia pula yang membuat brace (dua gol) ke gawang Korea Selatan ketika Indonesia menang 4-2. 

Di turnamen King’s Cup 1968, JS mengulangi hattrick kali ini ke gawang Singapura ketika Indonesia menang  7-1 dan juga brace ke gawang Malaysia saat Indonesia menang 6-1.

Di turnamen Merdeka Games 1969, JS mengulangi hattrick lagi ke gawang Singapura ketika  Indonesia menang  9-2 dan brace ke gawang Thailand saat Indonesia menang 4-0.

JS dkk juga nyaris lolos ke arena sepakbola Olimpiade Montreal 1972. Saat Pra Olimpiade Grup Asia di Rangoon Birma (Myanmar), Indonesia sikat Thailand 4-0 dan kalahkan India 4'-2. Sayangnya, saat penentuan tiket ke Olimpiade lawan Israel yang waktu itu masih masuk zona Asia, JS dkk kalah 0-1. Ketika itu Indonesia sempat dapat hadiah penalti. Namun Abdul Kadir yang mengeksekusi penalti gagal. Padahal bila skor seri saja. Maka Indonesia lolos Olimpiade 1972 karena akan unggul agregat dari Israel.

Selama karier di timnas Indonesia dan Persebaya, JS pernah merasakan atmosfir bertanding dengan pemain-pemain bintang di dunia yang melegenda seperti Pele, Carlos Alberto dari Brasil, kiper Lev Yashin (Uni Soviet/Rusia), Frans Beckenbauer (Jerman), Guus Hiddink (Feyenoord), Ruud Krol dan Johny Rep (Ajax Amsterdam) serta lainnya.

Sayangnya. Kiprah JS terhenti di timnas Indonesia setelah cedera pada kakinya dalam pertandingan persahabatan Persebaya dan Ascot dari Australia 1975 di Surabaya, akibatnya ia mengundurkan diri dari persepakbolaan nasional.

Menurut Dirk Soplanit, JS dan istrinya di Surabaya sangat mencintai sepakbola dan Ambon. Ini terbukti meskipun JS sudah tiada sejak lama, namun istrinya suatu waktu sempat menemuinya di Jakarta dan menyatakan bangga untuknya karena menjadi petinggi di urusan sepakbola nasional.

"Beta lupa satu atau dua tahun lalu. Waktu beta masih menjabat Direktur PT Liga Indonesia Baru, beliau datang dari Surabaya temui beta dan bercerita banyak, sekaligus sampaikan bangga anak Maluku mengurus sepakbola profesional," ungkap Soplanit, seraya menyampaikan anak perempuan JS menikah dan menetap di Ambon.

Kehebatan JS di masa jaya nya, juga diungkapkan oleh rekan seangkatannya di timnas Indonesia era 1960 an dan 1970 an, yakni kiper Yudo Hadianto dalam satu kesempatan di Ambon kepada penulis.

"Jacob Sihasale penyerang hebat. Saya tahu persis kemampuannya karena cukup lama dengan dia di timnas. Ada tiga pemain asal PSA Ambon yang pernah bersama saya di timnas. Yaitu Jacob Sihasale, Nicky Putiray dan N. Souisa. Tapi Jacob Sihasale yang paling lama. Saya sahabat dekat dengan almarhum Jacob," ungkap Hadianto, mengenang.

Terima kasih JS atas kiprah dan prestasimu untuk sepakbola dan sejarah gemilang bangsa tercinta. "Ale hebat. Ale memang legenda". (novi pinontoan/berbagai sumber)

Penulis: Novi Pinontoan
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!