Sekilas Info

Vanny Tousignant, Nona Ambon yang Sukses Jadi Desainer di New York

satumalukuID - Vanny Tousignant.  Itu nama populernya berkarier  kini di kota megapolitan New York, Amerika Serikat. Namun dia adalah nona asli Ambon yang lahir di Negeri Maluku, tanah asal orang tuanya pada 5 Juni 1966.

Vanny bermarga Pattiasina sebelum akhirnya menjadi warga Negara Amerika dan menyandang marga suami Tousignant. Vanny telah menjadi warga negara Amerika sejak tahun 1999.

Ia keluar Ambon tahun 1975. Kemudian ke Amerika dan menjalani Last education,  Empire Beauty School Manhattan,  NY for Cosmetologist.

Fashion menjadi kehidupannya. Karena sejak kecil sudah menjadi hobi. Perjalanan waktu cukup panjang untuk membuat Vanny menjadi seorang designer berkelas.

“Fashion sebetulnya belum terlalu lama, tapi memang sudah hobi sejak kecil. Barulah 2016 ikut New York Couture Fashion Week di NY dan langsung mendapatkan penghargaan dari New York Fashion Award sebagai NY Best Couture Designer 2016,” cerita Vanny lewat messenger kepada satumaluku.id belum lama ini.

Dikisahkan, dimulai dari keisengan membuat jewellery tahun 2006 sambil kerja sebagai manager untuk salah satu restaurant Greek American di Manhattan,  New York City (NYC). Pucuk dicinta ulam pun tiba ternyata jewellery buatannya disukai banyak orang.

Namun pada bulan Mei 2013, restaurant tempatnya kerja  terbakar. Otomatis ia kehilangan pekerjaan. “Makanya sekitar November 2013, saya mulai merintis  jualan baju batik dan perlengkapan rumah tangga yang ethnic dari Indonesia, seperti wayang, taplak batik, teko blurik, congklak dan lainnya, ternyata diterima sama pasar di Amerika,” ujarnya.

Nah, sekitar February 2016 ada yang mengajak dirinya ikut salah satu fashion show bergengsi di New York Couture Fashion Week. Dari situ namanya langsung meroket sebagai designer dan diajak fashion show setiap minggu di NYC. Kurang lebih 50 kali fashion show di NYC selama  tahun 2016-2017.

“September 2017 saya memproduksi fashion sendiri di NYC dengan nama International Fashion and Arts Week. Saat itu saya membawa dua desainer dari Indonesia. Juga promosikan tenun Nambo dari Sulawesi Tengah yang dihadiri langsung oleh Bupati dari Luwuk Banggai Ir. Yatim yang diliput oleh National TV di NY. Chanel 1. Selain desainer Indonesia juga local designer di NY, Wisconsin dan juga dari Africa,” ungkap Vanny.

Ia melaksanakan fashion show terakhir sebelum wabah pandemik Covid 19 pada February 2020. “Saya bawa designer dari Manado, Filipina dan juga lokal. Saat itu dihadiri oleh Konsul Jenderal RI di New York Arifi Saiman dan istri serta staf KJRI NY,  juga beberapa community leaders disini,”  tuturnya.

Vanny menambahkan, sampai saat ini productionnya sudah membawahi puluhan designers, models, make up artist,  hairstylist dari beberapa negara di Eropa, Africa, dan Canada, termasuk juga dari Indonesia.

Walaupun masih dalam suasana pandemik Covid 19, namun International Fashion and Arts Week tetap melakukan kegiatan outdoor dengan mengikuti peraturan pemerintah setempat, seperti menjaga jarak, check temperature para models, memggunakan masker sampai dengan penyediaan hand sanitizer di lokasi pemotretan.

“Selain itu, saya membukakan summer school untuk models yang ingin belajar mengenai fashion itu apa, bagaimana berjalan di runway/catwalk, juga sejarah dari dunia fashion itu sendiri,” ujar Vanny.

Di akhir obrolan. Ia menitipkan pesan untuk generasi muda Ambon Maluku yang terjun di dunia fashion agar terus bekerja keras, belajar dan berinovasi. "Tidak ada yang mustahil jika kita terus bekerja dan berdoa,"  pesannya.  (Vonny Litamahuputty/NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!