Sekilas Info

Raja Petuanan Lilialy Kabupaten Buru Kecewa Hakim Kabulkan Gugatan Praperadilan Tersangka Ferry Tanaya

SatumalukuID/Chen Toisuta Hakim tunggal Rahmat Selang sedang membaca putusan Praperadilan.

satumalukuID- Raja Petuanan Lilialy, Dusun Jiku Besar, Desa Namlea, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Husein Bessy, merasa kecewa dengan Hakim Pengadilan Negeri Ambon yang mengabulkan gugatan praperadilan Ferry Tanaya. Dia kembali mendesak Kejaksaan Tinggi Maluku untuk kembali "menyeret" tersangka di depan hukum.

Untuk diketahui, lahan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) yang akan dibangun PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku di Namlea berada dalam kawasan adat Petuanan Lilialy.

“Atas nama masyarakat saya selaku Raja Petuanan Lilialy, kami merasa sangat kecewa dengan putusan praperadilan tersebut,” kata Husein kepada satumaluku.id, Senin (28/9/2020).

Ferry Tanaya sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan pembangunan PLTMG Namlea, Kabupaten Buru itu sudah bebas sejak Kamis (24/9/2020) lalu.

Husein menilai putusan hakim tidak mencerminkan rasa keadilan bagi masyarakat yang selama ini sangat diresahkan dengan perbuatan Ferry Tanaya. Dia diduga kerap mengklaim tanah-tanah baik milik masyarakat adat maupun Petuanan Lilialy dengan menghalalkan segala cara.

“Saya selaku Raja Petuanan Lilialy meragukan indenpedensi hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini,” katanya.

Dia mengaku seharusnya dengan kewenangan yang diberikan Negara kepada Hakim mampu mengedepankan tujuan Negara untuk memberantas Korupsi, Kolusi dan Nipotisme (KKN). Sebab pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang mengutamakan kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan pribadi.

“Yang saya ketahui selama ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) bukan baru pertama kali melakukan proses hukum penyidikan, penuntutan bagi para koruptor yang merugikan keuangan Negara,” jelasnya.

Pengungkapan kasus yang dilakukan JPU dan diputuska pengadilan dan  selama ini telah banyak menghukum para koruptor. Tentunya semuanya itu dilakukan dengan cara penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan dengan mekanisme yang sama.

“Perbuatan mereka sudah barang tentu pasti, pasti dan pasti dengan mekanisme penyidikan yang sama, kenapa mekanisme menurut hukum tersebut dianulir oleh hakim yang memeriksa dan mengadili perkara melalui  Praperadilan oleh saudara Tersangka Ferry Tanaya dibebaskan,” katanya.

Menurutnya, dibebaskannya Ferry Tanaya menjadi preseden buruk bagi institusi penegakan hukum. Sebab selama ini banyak para koruptor bahkan ribuan dihukum bersalah melalui mekanise serupa yang dilakukan JPU.

Husein mengaku sangat mendukung penuh langkah JPU dalam melakukan proses penyidikan, dan penuntutan kembali terhadap Ferry Tanaya untuk menjawab rasa keadilan masyarakat yang hak-hak keperdataanya telah dirampas, dan dicaplok olehnya.

Dia mengaku, menyimak putusan praperadilan lalu, meski Ferry telah dibebaskan, tapi perbuatannya yang diduga telah merugikan keuangan negara senilai Rp.6 miliar tetap berjalan.

Putusan itu, kata dia, hanyalah mengenai adanya kekurangan admistrasi saja dari JPU, yaitu tentang Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang belum disampaikan kepada tersangka.

“Saya selaku Raja Petuanan Lilialy yang mempunyai Hak petuanan pada objek yang akan dibangun PLN tersebut  mendesak bapak Kejaksaan Agung Republik Indonesia melalui bapak Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, segera penuhi kekurangan-kekurangan administrasi dimaksud,” desaknya.

Dia juga mengingatkan Jaksa agar lebih berhati-hati atau selektif, profesional dalam menjalankan tugas Negara yang diembakan. Jaksa juga diminta terus meletakan kebenaran di atas segalanya, menegakan rasa keadilan bagi masyarakat, memberantas KKN.

“Selanjutnya melanjutkan proses penyidikan kembali atas kasus yang telah merugikan keuangan Negara senilai Rp. 6 miliar dan menetapkan saudara Ferry Tanaya kembali serta menuntutnya kehapadan pengadilan, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya,” tandasnya.

Baca Juga

error: Content is protected !!