Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Polly Pesireron, dari Kamariang Hingga Juara OPBF, Gagal Juara Dunia, Kini Tanpa Kaki Kiri

satumalukuID/Istimewa Mantan Juara Tinju Asia OPBF, Polly Pesireron bersama sang cucu, Miguel Javier Pesireron.

DARI Negeri (desa, red) Kamariang, kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, sekitar tahun 1977 nyong muda jangkung berbadan tegap itu, berniat mengembangkan minatnya tekuni olahraga tinju amatir secara serius di Kota Ambon.

Dialah Polly Pesireron. Laki laki yang lahir di kampungnya pada 4 Oktober 1956 ini, lantas diajak pindah berlatih ke Ambon oleh seniornya sekampung, Nus Poceratu. Nus adalah mantan petinju yang menjadi wasit tinju cukup terkenal saat itu.

"Bung Nus Poceratu yang pertama kali ajak beta pindah ke Ambon. Karena waktu itu latihan di Kamariang dengan sarana apa adanya. Beta diajak berlatih di sasana Batumeja Boxing Camp, yang berada di halaman rumah keluarga Om Tolly Gomies," ungkap Polly soal awal kariernya di tinju amatir kepada satumaluku.id yang menghubunginya di Jakarta via telepon, belum lama ini.

Di sasana BBC, Polly ketemu beberapa petinju Maluku yang diantaranya sudah menjadi juara nasional seperti Herry Maitimu yang kemudian dikenal sebagai raja kelas layang Indonesia. "Disitu ada senior Tolly Gomies dan lainnya. Juga Herry Maitimu yang masih muda tapi sudah juara PON 1977," tutur suami dari Maria Ririhena dan tiga anak ini.

Sebagai pendatang baru di pertinjuan elit Maluku era medio 1970 an. Bakat dan potensi Polly langsung bersinar di kelas menengah ringan (73 kg) kejuaraan antar sasana di Ambon. Sampai akhirnya berlanjut di Kejurda Tinju Maluku, Polly di final sukses kalahkan petinju pengalaman nasional waktu itu, Benny Keliombar.

Dari situlah Polly menjadi langganan skuat hebat tim tinju Maluku masa 1970 an hingga 1980 an, yang merajai even-even nasional hingga diantaranya mewakili Indonesia di kejuaraan internasional, SEA Games, Asian Games, Olimpiade dan ketika pindah ke.tinju pro gemilang raih juara Asia Pasifik dan bahkan juara dunia.

Munculnya Polly membuat posisi kelas petinju Maluku berubah. Benny Keliombar yang awalnya di kelas menengah ringan pindah ke berat ringan. Karena di kelas menengah ada juara Asia dan Asian Games, Wien Gomies. Sedangkan Polly tetap di posisi menengah ringan. Max Auty di welter, Jeffry Manusama (welter ringan), Notje Thomas (ringan), Lutfy Mual (bulu), Charles Thomas/Johanes Matuankota (bantam), Ellyas Pical/Silas Hitijahubesy (terbang), Herry Maitimu (layang).

Setelah menjadi juara daerah. Pamor Polly mulai naik dan diperhitungkan di level nasional. Prestasinya menanjak sejak 1978. Meski belum juara, namun dia sudah raih medali perunggu di Kejurnas/STE. "Beta lupa. Itu di Kejurnas Manado atau STE Padang," katanya soal kiprah pertamanya di arena nasional.

Prestasi Polly terus melejit di kelasnya. Pada Kejurnas 1979 di Ambon, dia tampil maksimal dan tak gentar dengan para petinju yang sudah pengalaman seperti Suwarno, Alfonso Sihombing dan lainnya. Polly lolos final dan mampu taklukkan Frans Bonsapia (Irian Jaya). Emas akhirnya diperoleh untuk pertama kalinya.

Keberhasilan menjadi juara nasional di tahun 1979, membuat Polly yang masih muda terus mengejar prestasi. Dia makin mengokohkan dirinya sebagai penguasa kelas menengah ringan Indonesia. Kejuaraan STE 1979 di Jayapura juga diraihnya. Disusul Kejurnas sekaligus Pra PON 1980 di Ujungpandang (Makassar, red) juga dijuarainya. Di partai final kalahkan Seppy Karubaba (Irian Jaya).

Lantaran keberhasilan beruntun. Polly dipanggil masuk Pelatnas tim tinju Indonesia untuk ikut turnamen internasional President Cup 1980 dan SEA Games 1981 di Manila Filipina. "Beta bangga karena akhirnya bisa membela Indonesia dan kenakan kostum merah putih," ungkapnya.

Beberapa kali Polly perkuat tim tinju Indonesia di President Cup. Prestasi terbaiknya meraih medali perak atau perunggu. "Beta lupa. Apa dapat perak atau perunggu. Soalnya sudah lama sekali. Salah satunya beta lawan petinju Prancis, beta kalah. Dulu President Cup diikuti para petinju utama negara-negara seoerti Uni Soviet (Rusia), Amerika Serikat, Prancis, Belanda, Korea Selatan, Jepang, Aljazair, Mesir, Kuba dan lainnya. Jadi persaingan ketat dan berkualitas," kisah Polly.

Tahun 1981 di saat tengah persiapan SEA Games Manila. Polly dan kawan-kawan masih memperkuat Maluku di PON 1981 Jakarta. Di arena itulah Maluku tampil dominasi. Dari 12 kelas final, Maluku rebut 7 emas, 1 perak, 2 perunggu. Emas diraih oleh Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Notje Thomas, Max Auty, Polly Pesireron, Wiem Gomies. "Di final beta kalahkan Seppy Karubaba dari Papua lagi," kata Polly.

Masih tahun yang sama. Polly dkk kemudian memperkuat tim tinju Indonesia di SEA Games 1981 di Manila. Ketika itu, petinju Maluku selain Polly juga Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Max Auty dan Wiem Gomies. Hasilnya, Indonesia rebut 2 emas dari Max Auty dan Lodewyk Akwan (Papua), tiga perak dari Adi Swandana, Erwinsyah dan Wiem Gomies. Sedangkan Polly, Herry, Ellyas dan Charles meraih perunggu.

Penampilan Polly Pesireron dan rekannya Ellyas Pical di PON (medali emas) dan SEA Games 1981 (medali perunggu), merupakan karier terbaik terakhir keduanya di ring tinju amatir. "Beta dan Elly bersamaan pindah ke tinju profesional. Kami bergabung dengan sasana Garuda Jaya Jakarta nya pak Simson Tambunan. Disitu beta kenal pak Manahan Situmorang yang terus membina beta di tinju pro," ungkap Polly.

Entah kebetulan atau memang hoki. Karier Polly dan Elly cepat melejit pada kelasnya di tinju pro. Keduanya mampu rebut sabuk gelar juara Indonesia. Waktu terus berjalan. Tak lama kemudian keduanya juga sukses meraih gelar juara OPBF (Asia Pasifik). Polly bahkan tercatat sebagai petinju Indonesia yang mampu meraih gelar sabuk juara OPBF selama dua kali.

Namun demikian. Nasib Polly berbeda dengan Elly Pical. Meski sempat lepas gelar OPBF. Namun Polly mampu merebut kembali gelarnya. Tetapi Elly lebih duluan berkesempatan tantang juara dunia kelas bantam junior IBF, Ju Do Chun dari Korea pada Mei 1985. Ellyas sukses jadi orang Indonesia pertama yang meraih juara dunia tinju profesional.

Sedangkan Polly Pesireron yang juara OPBF berada di peringkat calon penantang juara dunia kelas menengah super badan tinju dunia WBA, Chong Pal Park dari Korea. Park adalah juara dunia dengan reputasi raja KO.

Kesempatan Polly Pesireron mengikuti jejak rekannya Ellyas Pical terwujud tiga tahun kemudian untuk jadi juara dunia. Momen itu terjadi pada 1 Maret 1988 di Kota Chonju, Korsel. Sayangnya, melawan juara bertahan Chong-pal Park (Korsel) dalam kejuaraan kelas menengah super (76,2 kg) WBA tersebut, Polly kalah KO pada ronde ke 5. "Beta terkena pukulan hook di rusuk kiri. Keras pukulannya bikin rasa sakit dan sesak," ungkapnya.

Pasca gagal jadi juara dunia. Polly masih sempat beberapa kali bertarung lagi. Namun kemudian dia memilih istirahat dari dunia tinju. Setelah tidak bertinju lagi, tak lama berselang penyakit Polly yaitu diabetes sering mengganggu kesehatannya. Puncaknya, luka pada kaki kirinya makin parah dan akhirnya dokter memvonis harus diamputasi.

"Beta sakit gula turunan. Mama juga meninggal karena sakit itu. Jadi, karena dokter sudah vonis harus diamputasi. Beta kaki kiri terpaksa sudah dipotong. Yah begitulah bung," beber Polly.

Meski sudah tanpa kaki kiri. Polly tetap punya semangat hidup dan berharap tinju Maluku dan Indonesia umumnya bangkit dari keterpurukan panjang. "Petinju amatir atau profesional sekarang harus disiplin dan semangat. Punya motivasi tinggi. Karena fasilitas moderen sudah tersedia dan pemerintah perhatikan. Beda dengan jaman kami dulu," tutur Polly, berharap.

Jalan hidup memang siapa yang tahu. Kita boleh berencana namun Tuhan jualah yang menentukan. Tetaplah semangat jalani hidup bung Polly. Jasa dan prestasimu sudah tercatat dalam sejarah pertinjuan Indonesia bahkan Asia Pasifik. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!