Sekilas Info

Dua Pemuda Bersaudara di Tanimbar Dikeroyok Oknum Brimob Hingga Bersimbah Darah

satumalukuID/Istimewa Korban pemukulan sedang dibantu warga.

satumalukuID- Bukannya melindungi dan mengayomi masyarakat, tiga oknum Brimob, termasuk Komandan Kompi (Danki) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), diduga mengeroyok dua orang bersaudara, warga Desa Olilit, Kecamatan Tanimbar Selatan, hingga babak belur, Kamis malam (24/9/2020). Satu dari tiga pelaku diketahui bernama Mario. T.

Kedua korban adalah Timotius Fanumbi dan Marsianus Fanumbi. Mereka bersimbah darah setelah dihajar secara bertubi-tubi. Mirisnya, dua saudara ini juga dianiaya saat berada di Markas Brimob.

Berdasarkan informasi yang dihimpun satumaluku.id, korban Masimus mengaku, peristiwa itu berawal ketika adiknya Timotius bergurau dengan rekannya di tepi jalan. Korban di sisi kanan dan temannya di seberang kiri jalan.

“Brimob itu lewat. Brimob ini kira ade laki-laki ini kas kaluar kata makian untuk Brimob itu namanya Mario. Lalu ade laki-laki datang, beta posisi baru bangun, lalu beta suruh dia naik tidor sudah. Tapi ade laki-laki bilang beta ada masalah dengan sopir oto avanza,” kata Masimus.

Mendengar pengakuan adiknya, Masimus pergi mencari sopir dengan maksud menanyakan ada masalah apa dengan adiknya. Tapi kala itu tidak ketemu dan kembali bertemu adiknya di atas motornya yang mogok.

“Saat balik, ketemu ade laki-laki dengan motor. Motornya mogok. Lalu abang Mario (pelaku) deng satu orang (bukan anggota Brimob). Orang itu langsung tarik ade laki-laki lalu jatuh dari atas motor. Seng tahu dia dapa pukul atau tidak,” katanya.

Melihat adiknya terjatuh, Masimus kemudian mengejar rekan Mario tersebut namun tidak ketemu karena melarikan diri. Saat kembali, Mario juga sudah tidak ada lagi.

“Katong seng sasaran untuk abang Mario, tapi ke yang pelaku ini. Tapi katong seng dapa tangkap dia, dia lari. Jadi saat katong bale, Mario ini su seng ada lai. Lalu abang Mario bale deng Brimob dua orang,” jelasnya.

Menurut korban, dua orang oknum Brimob, rekan Mario, berpakaian dinas lengkap. Sementara Mario memakai pakaian preman.

“Beta seng tau nama, cuma dong dua deng pakaian dinas lengkap, sementara abang Mario preman. Lalu dong bawa beta di atas (Markas Brimob) lalu dong pukul beta. Dong tiga-tiga pukul beta. Kalau Mario pegang rep (kayu),” kisah korban.

Menurutnya, saat berada di depan Pos, korban mengaku situasinya gelap. Lampu di pos penjagaan padam. Tak lama berselang datang adiknya Timotius. Kala itu, adiknya kemudian dianiaya.

“Dong pukul ade laki-laki lai. Lama baru kaka dong sampe baru dong kas manyala lampu pos itu. Saat itu beta om datang lia beta darah banyak lalu mau bawa ke Puskesmas, tapi dong bilang tunggu Danki,” jelasnya.

Tak berselang lama, Danki datang dan bertanya kepada anak buahnya siapa yang memukul. Mereka kemudian menunjuknya.

“Lalu danki tampeleng adik laki-laki duluan terus injak. Beta lai ditampeleng terus diinjak di dada lai. Antua bicara-bicara, lalu tadi malam katong pi di Polres. Di Polres hanya ade laki-laki saja yang ambe keterangan, kalau beta seng bisa bangun lai, swak. dong lalu bawa beta ka puskesmas sampe pagi hari dong bawa pulang beta,” ungkap Masimus.

Komandan Satuan Brimob Polda Maluku, Kombes Pol. Muhammad Guntur, saat dikonfirmasi satumaluku.id, Jumat malam (25/9/2020) membenarkan adanya kasus penganiayaan yang dilakukan sejumlah oknum Brimob tersebut.

“Oknum itu. Kita berupaya selesaikan secara kekeluargaan, tapi kalau memang keluarga korban termasuk korban tidak mau ya tidak ada masalah, kita tetap proses,” kata Guntur.

Perwira tiga melati di pundaknya ini mengatakan, meski upaya damai sudah berjalan di Polres KKT, pihaknya tetap menindak oknum-oknum tersebut sesuai prosedur internal Polri.

“Walaupun proses damai di Polres berjalan, kita tetap melakukan upaya penindakan disiplin terhadap anggota di internal. Tetap kita akan periksa melalui provos kita dan kita proses sesuai dengan prosedur yang berlaku di internal kesatuan,” tegasnya.

Guntur mengaku, sejumlah oknum tersebut sudah diperiksa di Polres. Dirinya juga sudah memerintahkan Danki untuk segera menahan para oknum itu.

“Saya sudah perintahkan ke Danki segera ditahan. Kita mau periksa di Ambon tapi tidak bisa karena tidak ada perhubungan. Karena kan Covid-19 perhubungan di Tanimbar sementara ditutup karena kebijakan pemerintah daerah. Jadi kita tetap proses,” tandasnya.

Penulis: Chen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!