Sekilas Info

Penyelundupan 95 Kg Merkuri dari Ambon Tujuan Surabaya dan Bitung Terungkap

satumalukuID/Chen Toisuta Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease Kombes Pol. Leo Surya Nugraha Simatupang.

satumalukuID- Aktivitas pertambangan batu cinnabar yang berada di Desa Luhu dan Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), sudah dilarang alias ditutup. Anehnya, hasil tambang seperti material cinnabar, bahkan yang sudah diolah menjadi merkuri, masih terus beredar.

Peredaran hasil tambang ilegal itu diduga dibeking oknum-oknum aparat yang hanya memperkaya atau mementingkan diri sendiri, tanpa berfikir panjang mengenai dampak lingkungannya jika tidak diolah secara profesional.

Masih terus beredarnya bahan kimia berbahaya itu terungkap setelah Polsek Leihitu dan Polsek Kawasan Pelabuhan Yos Sudarso (KPYS), Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, berhasil menggagalkan penyelundupannya.

Kepada wartawan di Ambon, Rabu (23/9/2020), Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease Kombes Pol. Leo Surya Nugraha Simatupang, mengatakan, pada Minggu (20/9/2020) lalu sebanyak 200 Kg merkuri diamankan di Leihitu.

Sebelumnya, lanjut Leo, pada 12 Agustus 2020 lalu, pihaknya berhasil menggagalkan 20 Kg merkuri di Pelabuhan Slamet Riyadi. Merkuri tersebut diamankan dari tangan MW yang hendak membawanya ke Bitung.

"20 Kg merkuri ini akan dikirim menggunakan KM. Permata Bunda dari Pelabuhan kecil (Slamet Riyadi)," kata Leo.

Selanjutnya, pada 18 Agustus 2020, Polsek KPYS kembali mengamankan 75 Kg merkuri dari tangan MN. Puluhan Kg merkuri diamankan saat hendak dibawa bersama KM. Dorolonda.

"Kalau yang 75 Kg merkuri yang diamankan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon ini akan dibawa ke Surabaya," terangnya.

Mantan Kapolres Pulau Buru ini mengaku, MW dan MN telah ditetapkan sebagai tersangka dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

"Sudah kami tahan dan kasus itu masih terus kami kembangkan," tandasnya.

Penulis: Chen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!