Sekilas Info

JALUR REMPAH DUNIA

Lintasi Dua Samudera Selama Setahun, Arka Kinari Akhirnya Tiba di Titik 0 Jalur Rempah Dunia

satumalukuID/Embong Salampessy Kapal layar Arka Kinari yang membawa misi integrasi budaya dan pelestarian alam, dengan menelusuri Jalur Rempah Dunia, dipandu perahu adat kora-kora, masuk di Teluk Banda Neira, Sabtu (19/9/2020).

satumalukuID - Perahu kora-kora dari Kampung Fiat, Negeri Kampung Baru, dengan 30 pedayung, mendekati sebuah kapal layar yang berhenti di selat antara Pulau Gunung Api dan Pulau Banda Neira, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Sabtu (19/9/2020).

Begitu perahu adat tersebut menempel ke body kapal layar berbendera Belanda ini, dua orang awak kapal dengan nama Arka (bahasa Latin Vessel, yang berarti menahan atau mempertahankan) Kinari (bahasa Sansekerta, artinya seorang musisi penjaga kehidupan) tersebut kemudian turun bergabung di kora-kora. Selanjutnya diiringi tetabuhan tifa dan tembang kabata, perahu kora-kora memandu Arka Kinari masuk ke Teluk Banda Naira.

Itu lah kegiatan pembuka, yang mengawali prosesi adat diterimanya kedatangan kapal layar --buatan tahun 1947 dengan panjang 18 meter-- ini, beserta seluruh awaknya, di Kepulauan Banda.

Dua orang awak yang sebelumnya turun bergabung di perahu kora-kora, ternyata adalah pasangan suami-istri Grey Filestine (berkebangsaan Spanyol) - Nova Ruth (berkebangsaan Indonesia). Bersama enam awak lainnya, mereka lantas diantar ke darat, dan disambut dengan tarian cakalele yang juga berasal dari Kampung Fiat. Setelah bertukar cindera mata, mereka lantas menari bersama diakhiri dengan minum teh bersama.

Sebenarnya Arka Kinari yang sudah setahun melintasi dua samudera dan menjadi perhatian secara internasional ini, telah berada di perairan Banda sejak Selasa (15/9/2020). Namun karena berada dalam situasi pandemi Covid-19, kapal dengan awak empat orang berkewarganegaraan Indonesia dan empat lainnya berkewarganegaraan asing ini, diharuskan melego jangkar dulu di kawasan Lava Flow, Pulau Gunung Api Banda.

Mereka kemudian harus menjalani rapid test, dan hasilnya kedelapan awak kapal layar yang bertolak dari Kota Rotterdam Belanda pada 23 Agustus 2019 ini, dinyatakan non reaktif dan diijinkan sandar di Pulau Banda Neira, Rabu (16/9/2020). Namun prosesi penerimaan secara adat baru bisa digelar Sabtu tadi.

Kepada satumalukuID, usai penyambutan secara adat, Nova Ruth mengaku sangat terharu dengan penyambutan yang ramah dari warga Banda Neira dan alam indahnya.

"Sebelum tiba di perairan Kepulauan Banda, kami sempat digoyang ombak yang lumayan besar. Namun begitu tiba di Banda lautnya menyambut kami dengan gegap gempita. Meski ombaknya setinggi 2 meter, namun datangnya secara teratur," ujar Ruth yang dikenal juga sebagai musisi ini, mencoba menggambarkan ramahnya sambutan alam Kepulauan Banda.

Menurut Nova, Arka Kinari adalah sebuah kapal yang melakukan pelayaran dengan misi intergrasi budaya dan pelestarian alam, serta penelusuran jalur rempah.

Dia mengaku bersama suaminya yang juga musisi, mereka lebih dari dua tahun merancang sebuah proyek untuk merealisasikan mimpi berkeliling dunia sambil mebawa misi budaya dan pelestarian alam.

"Kami sempat terpikir untuk membatalkan rencana tersebut, karena tantangannya cukup berat. Kami sempat lama juga mencari-cari kapal yang cocok untuk kami beli. Dan akhirnya kami ketemu kapal ikan bekas buatan Jerman ini," tutur Nova.

Obsesi perempuan asal Kota Malang, Jawa Timur ini, untuk mencatatkan sejarah baru di dunia maritim lewat seni dan budaya akhirnya kesampaian. Termasuk berkolaborasi dengan Program Jalur Rempah dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Jadilah, selama berlayar menelusuri Jalur Rempah Dunia ini, awak Arka Kinari juga menggelar konser dari atas dek kapal layar tersebut, saat tiba di satu titik perhentian, dengan tetap menyuarakan isu-isu lingkungan.

Rencananya besok malam, awak Arka Kinari akan berkolaborasi dengan komunitas seni dan budaya di Banda Neira, lewat konser untuk menghibur warga setempat.

Konsep pertunjukan yang biasanya ditampilkan Nova dan Grey yaitu mencampurkan melodi tradisional Jawa dan musik elektronik kontemporer yang dinamis serta dipadukan dengan visual sinematik.

"Lewat pementasan seni dan budaya, kami bersosialisasi dengan warga setempat, dimana Arka Kinari singgah, dengan selalu memberikan pesan untuk menjaga bumi, menjaga kebersihan, serta tidak membuang sampah di laut," ungkapnya.

Menurut Nova, sudah lama kita tidak melihat laut. "Selama ini kita melihat apa yang tampak saja. Oh ini pohon yang bisa menghasilkan oksigen dan filtrasi karbon," ujarnya.

Dia katakan, kita itu lupa bahwa tumbuhan laut dan coral-coral serta mikroorganisme maupun plankton-plankton itu 70% menyumbang oksigen di dunia. "Jadi kalau kita biarkan laut ini rusak artinya kita kekurangan oksigen. Karena yang dari darat itu cuma 30%," tandasnya .

Dia katakan, temperatur lautan sudah naik, yang bisa dilihat pertandanya dengan semakin banyak datangnya ubur-ubur, itu artinya semakin banyak tumbuhan laut dan coral yang mati.

"Makanya saya sebagai yang peduli dengan lingkungan, mengajak kita semua, ayo mulailah bangun rumah kalian menghadap lautan. Sudah waktunya kita melihat apa yang terjadi pada laut," imbau Nova yang mengaku sangat terpesona dengan Kepulauan Banda yang menjadi Titik "0" Jalur Rempah Dunia ini.

PROGRAM REKONSTRUKSI

Secara terpisah, melalui saluran telepon, kepada satumalukuID, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid menyebutkan, bahwa Program Jalur Rempah adalah sebuah program rekonstruksi budaya yang membentuk budaya bahari di Nusantara, menuju pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO

Program Jalur Rempah, kata Hilmar, mengangkat “Outstanding Universal Value” dan “Diplomasi Budaya”; dimana rekonstruksi hubungan antar budaya, masyarakat dan peradabannya akan memperlihatkan ketersambungan satu dengan lainnya.

"Salah satu kegiatan dalam rekonstruksi ini adalah napak tilas dengan melakukan pelayaran membawa misi budaya," ujarnya.

Keberadaan Arka Kinari di Indonesia kali ini, menurut Hilmar, adalah berkolaborasi dengan Program Jalur Rempah dengan menyinggahi tiga titik yaitu adalah Banda sebagai Titik "0", selanjutnya akan ke Pulau Selayar (Makassar) dan ke Benoa (Bali).

"Diharapkan program ini dapat menjadi dokumentasi yang akan menjadi pembelajaran untuk menyiapkan kegiatan Pelayaran Budaya yang lebih besar di titik dan simpul Jalur rempah dalam dan luar negeri yang rencananya akan dimulai 2021," terangnya.

Wabah pandemi Covid 19, diakui Hilmar, menjadi hambatan besar pelaksanaan kegiatan Program Jalur Rempah Ditjenbud Kemendikbud.

"Tetapi tidak membuat program ini berhenti, melainkan tetap berjalan dengan mengindahkan protokol kesehatan serta aturan pemerintah pusat dan lokal," tandasnya.

Baca Juga

error: Content is protected !!