Sekilas Info

MALUKU LUMBUNG IKAN NASIONAL

Mahasiswa Kepulauan Aru Demo Tolak Lumbung Ikan Nasional

satumalukuID/Chen Toisuta Puluhan pemuda berbendera Perhimpunan Mahasiswa Kepulauan Aru (Permaru) Provinsi Maluku, menggelar aksi demonstrasi menolak Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional, di depan Kantor Gubernur Maluku, Kota Ambon, Kamis (17/9/2020).

satumalukuID- Puluhan pemuda berbendera Perhimpunan Mahasiswa Kepulauan Aru (Permaru) Provinsi Maluku, menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Maluku, Kota Ambon, Kamis (17/9/2020).

Aksi yang dipimpin Hanok Ngaibawar ini menolak Maluku dijadikan sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN). Mereka juga mendesak Pemerintah Provinsi Maluku maupun Pemerintah pusat segera mengembalikan 1.600 kapal ikan yang ada di laut Aru. Mereka enggan hasil kekayaan laut Aru dirampok atas nama kepentingan nasional.

“Kami mendesak Gubernur Maluku untuk segera mencopot jabatan Kepala dinas kelautan dan perikanan Provinsi Maluku,” teriak salah satu orator sebagaimana tertuang dalam tuntutan pengunjuk rasa.

Aksi yang dilangsungkan di Depan Monumen Gong Perdamaian Dunia dan kemudian bergerak di depan gerbang Kantor Gubernur Maluku sisi jalan Pattimura Ambon itu diterima Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno yang didampingi Sekda Maluku Kasrul Selang.

Perwakilan massa aksi, Coolin Lefuy, mengaku pihaknya atas nama masyarakat Kepulauan Aru menolak LIN. Sebab sangat merugikan masyarakat Aru, karena dari 4,7 ton produksi hasil kelautan Kepulauan Aru yang merupakan daerah penyumbang hasil paling besar, namun tidak bisa merasakan kesejahteraan.

“Kami berharap dengan adanya LIN maka masyarakat Aru bisa sejahtera, namun nyatanya sampai saat ini tidak ada, hari ini kami kecewa,” katanya.

Dia mengaku aksi ini dilaksanakan sudah melalui rangkaian kajian para tokoh adat, dan masyarakat. Sehingga kesimpulannya adalah menolak LIN apabila Kabupaten Kepulauan Aru tidak masuk dalam grand design LIN.

“Apabila tidak ada kajian untuk Kabupaten Aru sebagai LIN maka kami akan mengusir semua kapal ikan yang berada di Kabupaten Kepulauan Aru,” tegasnya.

Sementara itu, menurut Wagub Barnabas, LIN telah didesain dan disempurnakan dengan melihat hasil perikanan di Kabupaten Aru. LIN juga didesain untuk mengakomodasi seluruh kabupaten kota dengan dana Rp.1,5 triliun.

“Kita butuh ketenangan untuk Kota Ambon dapat dibangun sebagai pusatnya dengan tujuan untuk semua hasil ikan dari semua kabupaten akan masuk di Kota Ambon sebagai pusat lumbung ikan nasional,” katanya.

Walaupun pusat LIN dibangun di Kota Ambon, namun tambah Barnabas juga akan tetap dibangun lumbung ikan di setiap kabupaten.

“Maluku ada sebelas kabupaten dan kami tidak bisa melihat satu kabupaten dan yang lainnya tidak diperhatikan sehingga kami harus memperhatikan semuanya,” ujarnya.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah provinsi Maluku, lanjut mantan Bupati Kepulauan Tanimbar ini bersifat kolektivitas dan tidak hanya memperhatikan salah satu kabupaten saja.

“Dan terkait lumbung ikan nasional kita memperoleh 1,5 triliun,” sebutnya.

Dia mengaku, Provinsi Maluku punya arah ekspor ke China, sehingga jika akses perekonomian dapat berjalan dengan baik maka sentral LIN didesain berada di daerah Waai. Harapannya seluruh kabupaten kota dapat diperhatikan dengan baik.

“Wilayah penangkapan ikan di laut Aru memang sangat besar namun kita melihat faktor penunjang agar LIN dapat berjalan baik sehingga dapat menyejahterakan seluruh masyarakat Provinsi Maluku,” katanya.

Barnabas juga berharap agar semua fasilitas yang ada dapat mengakomodir seluruh hasil dari berbagai darah yang ada di wilayah Provinsi Maluku sehingga seluruhnya dapat merasakan kesejahteraan dari kebijakan tersebut.

“Aspirasi yang disampaikan hari ini saya sangat setuju karena bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Penulis: Chen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!