Sekilas Info

BACARITA

Leonardus Siegers, George Toisutta, Karel Ralahalu, Murad Ismail, Yopie Latul dan Maluku Tanah Pusaka

satumalukuID - Sepuluh tahun lalu, tepatnya 10 Juni 2010, seorang Putra Maluku dilantik menjadi Panglima Kodam I Bukit Barisan/BB di Medan, Sumatera Utara. Dia adalah Mayor Jenderal TNI Leonardus JP Siegers, lulusan Akademi Militer tahun 1978.

Uniknya, yang melantik Siegers menjadi Panglima Kodam I BB adalah jenderal asal Maluku juga, yakni Jenderal TNI George Toisutta, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Toisuta merupakan satu-satunya Putra Maluku yang berhasil meraih pangkat jenderal penuh atau empat bintang di pundaknya. Lulusan Akademi Militer tahun 1976 itu meninggal di Jakarta pada 23 Juni 2019.

Selain sama-sama asal Maluku, kedua jenderal TNI ini lahir di kota yang sama, Makassar. Siegers lahir pada 20 Agustus 1956. Sedangkan Toisutta lahir 1 Juni 1953.

Hadir dalam acara pelantikan yang digelar di Makodam I/BB, sejumlah jenderal di TNI AD yang memegang posisi komando, salah satunya Pangdam Pattimura, Mayjen TNI Hatta Syarifuddin.

Yang menarik, Gubernur Maluku saat itu Karel Ralahalu juga hadir. Ralahalu sendiri dikenal sebagai mantan militer yang menjabat Gubernur Maluku dalam dua periode kepemimpinan dari tahun 2003 – 2013.

Kehadiran Ralahalu yang lahir di Negeri Alang, Pulau Ambon, 8 Januari 1946 ini tentu mengundang tanya, karena wilayah territorial Kodam I/BB jauh dari wilayah administratif provinsi Maluku. Seperti diketahui Kodam I/BB membawahi territorial empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat.

Tapi kemudian terungkap, kapasitas Ralahalu, pensiunan Brigadir Jenderal TNI di acara tersebut adalah sebagai mantan Komandan Batalyon Linud 100 yang bermarkas di Kota Binjai, Sumatera Utara. Batalyon Linud 100 berada di bawah komando Kodam I/BB.

Bagi masyarakat Sumatera Utara dan Indonesia, Batalyon Linud 100 pernah trending karena aksi ratusan prajuritnya yang menyerang dan menguasai Mapolres serta Markas Brimob dalam satu malam di Kota Binjai, Sumatera Utara tahun 2002 lalu. Waktu peristiwa itu terjadi, Ralahalu sudah tak lagi menjabat sebagai Komandan Batalyon.

Pasca peristiwa penyerangan mapolres dan markas brimob di Binjai, masih pada tahun 2002, pimpinan Polri kemudian menugaskan AKBP Murad Ismail menjadi Komandan Satuan Brimob Polda Sumatera Utara. Murad merupakan lulusan Akademi Kepolisian Tahun 1985. Dia kelahiran Waihaong, Kota Ambon, pada 11 September 1961.

Dari Sumatera Utara, karir Murad melejit menjadi Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Wakapolda dan Kapolda Maluku sebelum akhirnya menjabat Kakor Brimob dengan pangkat Inspektur Jenderal (Irjen) atau dua bintang.

Kembali lagi pada peristiwa pelantikan Siegers sebagai Panglima Kodam I/BB, setelah dilantik Jenderal George Toisutta, tibalah acara hiburan yang dihelat di Lapangan Makodam. Di hadapan para jenderal TNI AD dan para prajurit Kodam I Bukit Barisan, Siegers kemudian melantunkan tembang Maluku Tanah Pusaka. Lagu legenda Maluku Tanah Pusaka dilantunkan Siegers penuh penghayatan dan menghipnotis tamu undangan yang hadir.

Dia mengawali penampilannya dengan menyapa dan mempersembahkan lagu tersebut kepada Jenderal George Toisutta dan Ralahalu sebagai sesama orang Maluku.

Waktu berjalan, Siegers kemudian mengakhiri tugas sebagai Pangdam I Bukit Barisan pada tahun 2011 untuk melanjutkan tugas di Jakarta sebagai Korsahli KSAD, Koorsahli Panglima TNI, dan Staf Khusus Panglima TNI hingga kemudian pensiun dari dinas militer pada 2014.

Karel Ralahalu yang pensiun dari dinas militer dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI juga tak lama kemudian mengakhiri dua periode kepemimpinannya sebagai Gubernur Maluku pada tahun 2013. Sedangkan George Toisutta sudah mengakhiri jabatan sebagai KSAD pada 30 Juni 2011.

Saat Toisutta, Siegers dan Ralahalu sudah menyelesaikan karir militer dan politik mereka, karir Murad Ismail justru sedang naik. Dia menapaki jalan menjadi jenderal polisi dan pada akhirnya menjadi Komandan Korps Brimob Polri.

Murad kemudian terjun ke dunia politik bertarung dalam pemilihan Gubernur Maluku, dan menang. Dia dilantik sebagai Gubernur Maluku di Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo pada 24 April 2019.

Seusai dilantik, Murad Ismail kemudian menghadiri sidang paripurna istimewa DPRD Maluku di Ambon pada 29 April 2019.

Di hadapan dewan, Murad menyampaikan pidato pertama sebagai gubernur Maluku. Dan yang menarik, di akhir pidato, Murad kemudian melantunkan tembang Maluku Tanah Pusaka, seperti yang dinyanyikan Siegers seusai dilantik sebagai Pangdam I/BB.

Tentunya, tak ada kaitannya momentum pelantikan Murad dengan Siegers. Yang sama dari mereka berdua adalah melantunkan lagu Maluku Tanah Pusaka mengawali tugas mereka sebagai pemimpin.

Lirik lagu Maluku Tanah Pusaka yang dipopulerkan Nanaku dan Hemi Pesolima ini sarat makna. Almarhum Glenn Fredly pernah mengungkapkan Lagu ini merupakan ungkapan rasa cinta untuk negeri Maluku dengan mengedepankan pesan persaudaraan dan persatuan yang kuat. “ Kami orang Maluku di perantauan selalu mendapatkan feel yang dalam setiap kali menyanyikan lagu ini,” ujar Glenn suatu waktu.  Makanya tak heran bila Siegers dan Murad yang memang merintis karir profesionalnya di luar tanah Maluku sangat memfavoritkan lagu tersebut.

Kehadiran Murad sebagai Gubernur yang gemar bernyanyi tentunya selaras dengan soul orang Maluku yang memang suka bermusik. Dia hadir tepat saat Kota Ambon ditetapkan sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik oleh Unesco.

Kegemarannya melantunkan lagu-lagu Maluku, diimplementasikan Murad dengan mengapresiasi jasa almarhum Yopie Latul, legenda musik Maluku yang meninggal di Jakarta pada 9 September 2020.

Itu terjadi saat Murad mengawali sambutan pada kegiatan pembagian masker serentak, kampanye jaga jarak dan hindari kerumunan dalam rangka Operasi Yustisi Penggunaan Masker dan Pilkada 2020 yang aman dan sehat di Lapangan Merdeka, Ambon, 10 September 2020 lalu. (Baca: Gubernur Maluku Pimpin Doa untuk Mendiang Legenda Musik Yopie Latul)

Gubernur Maluku asal Jazirah Leihitu ini mengajak semua peserta yang hadir mengheningkan cipta sejenak mendoakan kepergian sang legenda musik kelahiran Ambon pada 7 September 1955 itu.

Sebagai orang Maluku yang tumbuh dan berkembang dengan lagu-lagu Maluku, apresiasi kepada para pemusik sudah selayaknya diberikan. Selain para artis Maluku ini sudah mengangkat derajat dan menginspirasi anak-anak Maluku di industri musik, lagu-lagu mereka juga sudah menjadi penghibur, pemberi semangat dan sudah memperkuat jati diri orang Maluku dimanapun berada. (*)

Penulis: Petra Josua, salah satu Diaspora Maluku di Jakarta

Penulis: Petra Josua

Baca Juga

error: Content is protected !!