Sekilas Info

KEKERASAN BERSAMA

Tiga Terdakwa Kasus Pemukulan Perawat RSUD Ambon Dijerat Ancaman Penjara 5 Tahun 6 Bulan

satumalukuID - Sidang perdana kasus pengeroyokan dan pemukulan Jumima Orno, seorang perawat RSUD dr. M. Haulussy mulai digelar di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Rabu (2/9/2020).

Ketua majelis hakim, Lucky Rombot Kalalo didampingi Christina Tetelepta dan Hamzah Kailul selaku hakim anggota membuka persidangan di Ambon, dengan agenda mendengarkan pembacaan dakwaan JPU Heru Hamdani dan Fitria Tuahuns dari Kejaksaan Negeri Ambon.

Dalam persidangan tersebut, JPU menghadirkan tiga tersangka pelaku pengeroyokan dan pemukulan atas nama Muhammad Sahal Keiya alias Andi (33), Sitti Nur Keiya (25), dan Ida Laila Keiya (25).

"Terdakwa I, II, dan terdakwa III pada Jumat, (26/6) 2020 sekitar pukul 09:00 WIT secara bersama-sama menggunakan kekerasan korban di RSUD Haulussy Ambon," ujar JPU.

Baca Juga: Penganiayaan Perawat di RSUD Ambon oleh Terduga Keluarga Pasien Covid-19 Ditindaklanjuti Polisi

Peristiwa ini bermula sekitar pukul 08:00 WIT, satu pasien Covid-19  atas nama Hasan Keiya dinyatakan meninggal dunia, lalu saksi korban sebagai petugas medis gustu pandemi Covid-19 yang bertugas saat itu bersama saksi Meidi Opier membawa jazad pasien ke kamar khusus jenazah virus corona.

Ketika berada di depan kamar jenazah khusus, saksi Meidi masuk melalui pintu belakang untuk membuka pintu ruangan, sementara saksi korban tetap menunggu di bagian depan.

Namun tanpa berbicara, terdakwa III langsung membuka selimut yang menutupi jenazah dan mencium jasad almarhum, selanjutnya terdakwa III melihat ke arah saksi korban dan melayangkan pukulan dengan kepala tangan kanan.

"Gara-gara ose (anda) sampai beta (saya) laki (suami) meninggal. Kalian mengurung dia di tempat corona dan tidak dikasih makan," kata JPU mengutip penjelasan terdakwa dalam BAP.

Baca Juga: Keluarga Almarhum HK Kembali Polisikan Perawat RSUD Ambon Jomima Orno

Selanjutnya terdakwa II kembali memukuli bagian belakang kepala dan tulang belakang saksi korban, namun saksi tidak dapat memastikan pemukulan tersebut apakah memakai kepalan tangan kanan atau kiri, sementara terdakwa I saat itu menyikut saksi korban.

Saat terdakwa III telah melakukan pemukulan, terdakwa I justeru memegangi kedua tangan korban dari arah belakang untuk memberikan kesempatan kepada terdakwa II dan terdakwa III agar lebih leluasa melakukan pemukulan.

JPU juga mengatakan kalau saksi korban berusaha meloloskan diri tetapi masih saja terjadi pemukulan secara bertubi-tubi ke arah punggungnya dan berakhir dengan sebuah tendangan yang membuatnya nyaris terjatuh, namun dia berusaha menahan tembok.

Saksi korban akhirnya bisa lolos dari pengeroyokan para pelaku yang merupakan satu keluarga tersebut lalu melaporkan kepada atasannya, kemudian dilanjutkan ke Mapolresta Ambon untuk membuat laporan resmi. Perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 170 ayat (1) KUHPidana. Adapun ancaman penjara dalam pasal tersebut yakni 5 tahun enam bulan.

Majelis hakim juga melanjutkan persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi korban ditambah tiga saksi lainnya.

Baca Juga: Demo di DPRD Minta Kasus Pemukulan Perawat Diselesaikan Kekeluargaan, Orno Tegaskan Tak Ikut Campur

Di luar ruang sidang, aksi demonstrasi dilakukan puluhan Masyarakat Seram Bersatu yang diprakarsai Pengurus Besar Ikatan Kerukunan Keluarga Tehoru Telutih (IKKATT) Maluku dan Paguyuban se-Nusa Ina. Mereka mengusung keranda dan melakukan orasi dengan menggunakan pengeras suara.

Salah satu orator meminta jaksa dan majelis hakim dapat mengambil keputusan yang seadil-adilnya terhadap tiga tersangka pengeroyokan dan pemukulan perawat maupun 10 tersangka lain dalam kasus penghadangan dan pengambilan secara paksa jenazah Covid-19 atas nama Hasan Keiya (almarhum).

Baca Juga

error: Content is protected !!