Sekilas Info

Penyelidikan Kasus Penculikan Aktivis HMI Ambon Bakal Meluas Pasca Pernyataan Kontroversial Korban

satumalukuID/Ian Toisutta Syahrul Wadjo (kanan) saat memberikan keterangan kpada wartawan di Mapolresta Ambon, Jumat (4/9/2020).

satumalukuID- Penyelidikan kasus penculikan terhadap Syahrul Wadjo, aktivis HMI Cabang Ambon, bakal meluas. Ini setelah korban menyampaikan pernyataan kontroversial, yang berlainan dengan pengakuan teman-temannya sendiri, yang melihat dia diculik orang tak dikenal (OTK). Syahrul bersikukuh mengaku tidak diculik.

Pengakuan Syahrul tersebut kemudian membuat polisi mengusut dua kasus sekaligus. Yaitu pelaku pencurian terhadap Syahrul, dan narasi provokatif di media sosial yang menyebutkan dirinya diculik, nyaris diparangi dan dianiaya babak belur.

“Kita belum bisa menduga-duga, tapi ada keterangan (Syahrul) yang belum benar diberikan. Di mana, keterangan awal kepada pihak penyidik bahwa dikembalikan itu jam 6 pagi, kemudian saat dikonfrontir, kita cari saksi-saksi yang lain ternyata ada saksi yang melihat kalau Syahrul Wadjo ini sudah terlihat jam 12 malam,” kata Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang kepada wartawan, Jumat (4/9/2020).

Saat itu saksi tersebut mengantar Syahrul dan bertemu tiga orang temannya. Mereka melarang Syahrul untuk menuju Komisariat Ekonomi karena ada polisi. Padahal, kehadiran polisi untuk membantu mencari kejelasan permasalahan yang terjadi. Tapi Syahrul Wadjo justru diarahkan ke suatu tempat.

“Bergeserlah ke rumah seniornya sebutlah ML. Itu juga dengan catatan nanti kalau ditanya polisi jangan bilang ada di rumah ML tapi bilang di rumah BC. Kami lihat dari rangkaian cerita ini masih belum ada kejelasan. Sehingga muncullah permasalahan di media sosial, terjadi penculikan, pengancaman yang kelihatannya itu mengarah ke seseorang,” jelasnya.

Leo mengatakan, saat mendapat laporan polisi pihaknya langsung bergerak malam itu juga. Tim dari Satreskrim dan Polda Maluku melakukan kroscek. Pihaknya juga melakukan rekontruksi mulai dari awal kejadian sampai dengan pemeriksaan saksi-saksi yang lain.

Hasil pemeriksaan posisi handphone Syahrul Wadjo, kata Leo, pada pukul 12 malam, berada di sekitar Patung Leimena. Setelah itu pada pukul 1 pagi, masuklah laporan polisi yang baru dibuat.

“Jadi jam 10 (malam) diambil, jam 12 Syahrul Wadjo sudah dipulangkan, jam 1 pagi baru ada laporan polisi masuk ke sini dari beberapa teman dari komisariat mereka yang menyatakan bahwa telah terjadi penculikan. Di situ ada beberapa narasi yang kita lihat beredar di medsos, penjemputan secara paksa, kemudian ada parang taruh di leher, kita sudah bisa mendengarkan langsung dari objeknya ini tidak benar,” bebernya.

“Kami sudah lakukan visum di Rumah Sakit Bhayangkara dan hasilnya tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh, lebam-lebam itu tidak ada. Memang ada benjolan di kepala ada beberapa senti, namun ini juga belum bisa dijelaskan apa penyebabnya. Jadi kalau diberita disebutkan babak belur itu tidak,” tambahnya.

Dengan pengakuan Syahrul tidak diculik, Leo berharap kasus tersebut sudah clear. Sebab, Syahrul Wadjo sudah menepis penculikan, karena dia juga kenal dengan salah satunya yang juga merupakan seniornya.

“Sampai saat ini kami masih mencari (pelaku penculikan) juga sih, supaya kami bisa melengkapi secara utuh cerita ini. Disebutkan juga bahwa tidak ada pemukulan, kemudian sudah mengakui bahwa beberapa cerita-cerita yang diberikan kepada kami pihak penyidik ini ada beberapa yang tidak benar di awal,” katanya.

Leo menghimbau kepada masyarakat agar dalam penggunaan media sosial harus secara bijak. Dia meminta agar jika tidak mengetahui cerita sebenarnya tidak usah ngomong macam-macam di media sosial. Bahkan terdapat beberapa video yang seolah olah memprovokasi.

“Dan berikutnya kami akan memproses semuanya. Kita akan proses untuk memberikan pelajaran dan memberikan edukasi kepada masyarakat, kemudian memberikan efek jera, kita harapkan tidak ditiru oleh orang lain lagi. Ini sangat sensitif informasi-informasi ini,” jelasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!