Sekilas Info

AMBON CITY OF MUSIC

Ambonku, Musikku: Selamat Ulang Tahun ke-445 Kota Ambon

satumalukuID/Tiara Salampessy Dokumentasi saat penulis beraktivitas pada Pusat Dokumentasi Musik Nasional (PDMN) di kawasan Passo, Kota Ambon, sebelum gedung tersebut terkena dampak gempabumi tahun 2019 lalu.

Kota Ambon sudah sangat terkenal di seluruh dunia dari dahulu kala. Menjadi tempat tujuan negara-negara Eropa untuk mendapatkan 3 G, Gold (kekayaan), Glory (kejayaan) dan Gospel (misi penginjilan). Dalam hubungannya dengan misi penginjilan maka musik semakin dipandang sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh bagi masyarakat Kota Ambon.

Pada akhirnya muncul pernyataan bahwa musik bagi masyarakat Ambon adalah DNA serta memiliki intuisi yang tinggi.

Karena musik memiliki estetika (keindahan) untuk didengarkan, dirasakan, maka musik dianggap mampu mengubah persoalan-persoalan penting di dalam masyarakat pada sebuah kota. Musik juga merupakan bahasa universal yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dalam konteks kota kreatif, musik dapat dipakai untuk menyelesaikan berbagai masalah-masalah penting di dalam masyarakat seperti lingkungan alam, lingkungan permukiman, masalah ekonomi masyarakat, masalah keberagaman (heterogenitas), dan berbagai konflik agama, konflik antar suku dan berbagai masalah lainnya.

Mendengarkan irama dari beragam seni-budaya dapat mendorong sikap yang lebih toleran. Kemampuan Musik dapat dipergunakan untuk mengatasi batasan-batasan di dalam masyarakat dan memiliki kekuatan untuk menyatukan orang. Musik dapat dijadikan jembatan untuk memahami sebuah peradaban atau budaya.

Kebiasaan mendengarkan musik dalam durasi lama akan membawa perubahan dalam sikap seseorang tentang mengantisipasi keragaman. Kolaborasi musik antar budaya cukup memiliki kekuatan, dapat mengubah sikap masyarakat, sehingga mendorong musisi untuk bereksperimen dan berkolaborasi dengan orang dari berbagai budaya lain.

Konteks yang dijelaskan ini semua terdeskripsi dalam keseharian (daily activities) masyarakat Kota Ambon.
Penetapan Ambon menjadi Kota Musik Dunia yang diakui UNESCO pada tanggal 31 Oktober 2019 di Paris bertepatan dengan perayaan Hari Kota Dunia, telah membuktikan bahwa musik telah menjadi sebuah instrumen perdamaian (Instrument of Peace), maka kota ini sepenuhnya menyadari bahwa budaya bermusik, sangat membantu mengeliminasi ketegangan dan membangun hubungan-hubungan sosial-ekonomi antar penduduk dan lingkungan.

Menjaga perdamaian dan keharmonisan antara orang Ambon dan memastikan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs 2030) adalah dasar untuk perencanaan dan pembuatan rencana strategis pembangunan Kota Ambon. Sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang konsisten dan penciptaan program untuk industri kreatif, Ambon juga merupakan salah satu pusat terpenting untuk pengembangan budaya berdamai (Culture of Peace) di Indonesia dan dunia.

Melalui jaringan kota kreatif (UNESCO Creative Cities Network) dapat dibangun kemitraan dengan kota-kota lain di seluruh dunia, dimana budaya ini merupakan faktor perubahan dan pembangunan serta penggunaan praktik-praktik baik yang dikembangkan oleh kota itu sendiri, dan berbagi pengalaman akan membuat Ambon berubah menjadi jejaring penting dalam dialog global, mengenai peran sektor kreatif untuk pusat-pusat kota, atau, lebih luas, wilayah dan pengembangan daerah urban (urban development). Seperti yang telah dilakukan di beberapa kota musik dunia seperti di Adelaide, Mannheim, Katowice, Hannover, Daegu, Teongyong, Hamamatsu dan lain sebagainya.

Ketertarikan untuk mempelajari kekuatan musiK sebagai wahana atau instrumen perdamaian itu pula, yang telah membawa Kota Ambon sebagai masuk sebagai salah satu nominator inovasi pelayanan public dari United Nation Public Service Award 2020.

Kota Ambon merupakan kota yang masyarakatnya 90 persen memiliki aliran darah (DNA) dan intuisi bermusik (Music Intuition). Kekuatan inovasi ini terletak pada kultur dan lansekap Kota Ambon dimulai dari: 1) circle of life (janin, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan kematian) sudah terpapar musik;
2) music place driven making (mulai dari pantai sampai pegunungan) memiliki musik dan mengsinkronkan dan menganalogikan Rhythm sebagai infrastruktur, Melody sebagai kebijakan-kebijakan dan Harmony sebagai program.

Lebih jelasnya budaya bermusik sudah mengakar dalam ritual adat dan agama masyarakat Ambon. Hal ini dapat dibuktikan oleh Siklus hidup masyarakat (Circle of Life) Kota Ambon sebagai berikut :

JANIN
• Sudah terpapar musik sejak didalam kandungan
• Asupan musik dan lagu-lagu dalam keseharian melalui ibadah pagi dan ibadah malam
• Kebiasaan menyetel musik oleh orang tua setelah bangun pagi (lagu-lagu Pop Rohani Indonesia maupun Pop Rohani Barat)

BAYI
• Digendong sambil menyanyikan lagu-lagu (nina bobo, batu badaong dan naik-naik ke gunung nona)
• Didengarkan lagu-lagu berskala diatonis
• Musik sebagai penenang tangisan bayi
• Kebiasaan menyetel musik setelah bangun pagi dari orang tua (lagu-lagu Pop Rohani Indonesia maupun Pop Rohani Barat)

KANAK-KANAK
• Bernyanyi di ibadah dan sekolah minggu
• Permainan anak-anak diiringi nyanyian
• Secara alami mature dalam musical intelligence
• Terbiasa dengan pitch control yang tepat
• Kebiasaan menyetel musik oleh orang tua setelah bangun pagi (lagu-lagu Pop Rohani Indonesia maupun Pop Rohani Barat)
• Permainan tradisional sambil bernyanyi

REMAJA
• Musik∕lagu sentimental (middle Frequency) sebagai penenang temperamen
• Aktifitas beribadah dan pelatihan persiapan banyak dilakukan dengan bernyanyi terutama pada hari minggu
• Permainan tradisional menggunakan lagu Bingo dan King
• Kebiasaan menyetel musik oleh orang tua setelah bangun pagi (lagu-lagu Pop Rohani Indonesia maupun Pop Rohani Barat)

DEWASA
• Musik∕lagu sentimental (middle Frequency) sebagai penenang temperamen
• Aktifitas beribadah dan pelatihan persiapan banyak dilakukan dengan bernyanyi terutama pada hari minggu
• Permainan tradisional menggunakan lagu Bingo dan King
• Kebiasaan menyetel musik setelah bangun pagi (lagu-lagu Pop Rohani Indonesia maupun Pop Rohani Barat)

KEMATIAN
• Jenazah disemayaman 2-4 hari, dinyanyikan setiap sore hingga subuh (saat malam penghiburan).
• Ibadah selama 3, 7, 40 hari yang dipenuhi nyanyian
• Prosesi menuju makam diawali dan diakhiri dengan brass music
• Ibadah pemakaman dipenuhi lagu-lagu.

Secara teknis, musik memiliki 3 (tiga) aspek yaitu Ritmik, Melodi dan Harmoni. Di kalangan umat muslim, musik hadrat dan sawat lebih dominan kepada penggambaran pola ritmik, sementara di kalangan kristiani lebih banyak bermain dengan pola-pola melodi dan harmoni. Dari sisi musik bila dikolaborasikan akan menghasilkan musik yang sempurna.

Kesempurnaan akan semakin bernuansa Ambon bila juga diberi sentuhan dengan nada-nada etnik yang memang sudah kaya di Kota Ambon. Ini semua bermuara pada Harmoni dalam kehidupan bermasyarakat Ambon yang cepat menerima pelukan hangat sebagai manifestasi dari Mari Berdamai (culture of peace).

Kreativitas masyarakat Kota Ambon berbasis perdamaian yang sejalan dengan tujuan ke-16 SDGs 2030 yaitu perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang kuat yang bertujuan mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level. Hal ini sangat didukung pula oleh visi Pemerintah Kota Ambon yaitu menjadikan Ambon sebagai kota yang harmonis, religius dan sejahtera. Sinkronisasi ini akan dapat memunculkan industri kreatif musik lokal yang berdampak pada ekonomi masyarakat (ekonomi kreatif).

Demikianlah di hari ulang tahun ke-445 Kota AMBON, pada tanggal 7 September 2020 kiranya dapat menjadi tonggak sejarah bahwa ekosistem bermusik tetap hidup dalam DNA dan intuisi masyarakatnya, dalam mempertahankan konsistensi sebuah kota musik dunia. Selamat Ulang Tahun Ambonku, musikku.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music

Penulis: Ronny Loppies
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!