Sekilas Info

LAWAN COVID 19

Ada, Percaya, Bertindak

satumalukuID/Istimewa Penulis,Elifas Maspaitella (Sekretaris Umum Sinode GPM).
SATU
Felix qui potuit rerum cognoscere causas, adalah ungkapan berbahasa Latin yang berarti “berbahagialah, mereka yang dapat mengerti penyebab sesuatu”. Saya meminjam ungkapan ini bukan untuk mendebatkan penyebab covid-19, melainkan untuk menyadarkan diri saya sendiri bahwa mematuhi protokol kesehatan dalam masa covid-19 ini saja tidak cukup.
Kepatuhan itu harus disertai dengan komitmen, seperti orang beriman. Kita percaya adanya Tuhan, kita memahami keberadaan-Nya melalui banyak cara. Kita mewujudkan ketaatan kepada-Nya dengan ritus-ritus secara tertib. Lepas dari klaim kebenaran (truth claim), maka saya percaya cara saya mengungkapkan iman kepada Tuhan, melalui ritus agama yang saya anut, dengan pola ekspresi iman yang saya lakukan, didorong oleh pemahaman bahwa “saya tahu, Tuhan ada”.
DUA
Memerangi dan menanggulangi dampak covid-19 bisa dijadikan sebagai kata kunci yang sudah terstruktur dalam pemahaman dan tindakan individu, kelompok bahkan institusi sosial yang mapan seperti negara, atau institusi sosial lainnya, termasuk insititusi keagamaan. Mengapa? Sebab covid-19 telah diyakini ada dan menimbulkan dampak penyerta (dependent factor) yang meluas ke seluruh aspek kehidupan masyarakat dunia.
Kita memeranginya dengan mengafirmasi bersama tindakan “memutuskan mata rantai penyebaran virus corona”, lalu kita melakukan sebagai suatu struktur perilaku massiv tindakan memakai masker, mencuci tangan pakai sabun (CTPS) di air mengalir, menjaga jarak, atau mengembangkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Itu kita lakukan karena kita percaya, covid-19 atau virus corona, ada. Saudara kita positif covid-19, kita masuk daftar tracing contact, kita mengikuti prosedur penanganan melalui swab/PCR, karena kita percaya covid-19 ada.
Kita menanggulangi dampaknya secara meluas, khususnya aspek kesehatannya, dengan membentuk jaringan empathy dengan para dokter dan tenaga medis. Mereka kita defenisikan sebagai “pahlawan di garis depan”. Kita menanggulangi dampak ekonomi yang melanda semua keluarga dan kelompok rentan ekonomi (pekerja harian, buruh, dlsb) melalui aksi-aksi karikatif atau pun transformasi pemberdayaan ekonomi. Itu dilakukan sebab kita sadar, dampak covid-19 nyata terjadi.
TIGA
Kapan Covid-19 berakhir? Pertanyaan ini bernada eskhatologis. Ada harapan ke masa depan covid-19 sirna dari muka bumi. Namun ada pula tesa yang menyebut “kita akan hidup dengan covid-19 seperti dengan flu dan batuk”.
Saya tidak berkompeten untuk memastikan tepat tidaknya tesa itu. Namun dalam keadaan krisis, harapan itu menjadi hasil perenungan iman yang kadang lahir dari keluh kesah, cemas, atau juga dari optimisme. Iman itu selalu lahir dari pertanyaan-pertanyaan tentang akankah sesuatu yang kita harapkan atau yakini terwujud? Benarkah apa yang kita percayai itu ada? Apakah subjek yang kita agungkan itu nyata?
Terlepas dari semuanya, covid-19 sebagai suatu kejadian medis, telah menjadi fakta sosial yang berdimensi luas. Manusia di era ini (2019-2020) adalah generasi pertama yang mewarisi peristiwa dan akan menjadi subjek dalam narasi covid-19 di masa depan.
Seberapa tangguh kita berjuang untuk hidup di masa ini akan menjadi point pembelajaran sejarah di masa depan. Sebab itu apa yang kita lakukan untuk memerangi, menanggulangi dan mempertahankan komunitas kita hari ini adalah perbuatan bersejarah, tindakan yang lahir dari pengetahuan, dan perenungan ilmiah, penghayatan iman yang akan kita wariskan kepada dunia.
Jadi, jangan berhenti berusaha
Jangan berhenti berharap
Jangan berhenti percaya
Jangan menyerah
Penulis: Elifas Maspaitella, adalah Sekretaris Umum Sinode GPM.

Baca Juga

error: Content is protected !!