Sekilas Info

OPINI KREATIF

Terapi Musik untuk Pasien Corona

satumalukuID/Tersy Krikhoff Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music, Ronny Loppies.

Kita banyak mendengarkan pasien Corona yang merasa sunyi dan kesepian saat mengalami masa-masa karantina, atau isolasi selama masa perawatan. Tinggal dalam kesunyian dikelilingi tembok putih dan dilayani oleh tenaga medis berpakaian lengkap, menjadi momen yang sering menakutkan dan mencemaskan.

Ketakutan dan kecemasan dalam kesendirian seperti ini dapat mengurangi imun dalam tubuh sebagai akibat rasa kecemasan yang berlebihan. Hal ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh yang membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi virus dan penyakit.

Bahkan, vaksin virus pun disebut-sebut tidak akan berfungsi dengan baik, jika pasien memiliki kecemasan yang berlebihan. Tingkat kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan depresi, bahkan dapat mengarah kepada tingkat peradangan yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, tingkat peradangan tinggi mengarah ke sistem kekebalan yang terlalu banyak bekerja dan lelah sehingga tidak dapat melindungi tubuh dengan baik.

Pengobatan yang dilakukan saat ini lebih banyak terfokus pada pengobatan fisik saja. Padahal aspek psikologis juga menjadi pertimbangan penting yang tak boleh dilupakan agar proses penyembuhan lebih cepat. Tulisan ini mencoba menyampaikan ide dan konsep sederhana yang dapat mengurangi kecemasan pasien corona melalui terapi musik (Music Theraphy).

Saat ini metoda penyembuhan yang menggunakan metode bunyi berkembang pesat, yaitu melalui terapi musik berlisensi akan membantu pasien untuk sembuh melalui mendengarkan musik, bergerak mengikuti iramanya atau memainkan musik.

Program-program yang melibatkan teknik penyembuhan dengan suara dan bunyi melantunkan nada (Menggunakan suara untuk mendesah, mengeluh, mendengkur atau memperdengarkan satu nada), bersenandung, kursi vibro-akustik (yang meneruskan suara secara langsung ke para pasien melalui pengeras suara yang dipasang pada kursi), resonansi harmonis dan musik dalam khayalan. Teknik-teknik ini menggunakan suara gelombang vibrasi suara untuk meningkatkan kesehatan dan membawa rama internal tubuh menjadi seimbang kembali.

Dengan demikian maka, musik dan bunyi mengandung daya rangsang. Musik bukan sekedar bunyi-bunyi yang harmonis. Musik merupakan getaran udara harmonis, maka syaraf di telinga menangkapnya, diteruskan ke syaraf pusat di otak, sehingga menimbulkan kesan tertentu pada seseorang.

Harmoni musik yang setara dengan irama internal tubuh, akan memberikan kesan menyenangkan pada diri seorang pasien. Ritmik musik yang cepat akan melahirkan kesan cepat pada irama tubuh. Demikian pula dapat terjadi sebaliknya.

Vibrasi yang dihasilkan musik dapat memengaruhi fisik pasien. Selama vibrasi dan harmoni yang digunakan tepat, pasien akan merasa nyaman. Maka pasien akan merasa santai atau rileks.

Saya memiliki pengalaman di Jerman, walau pun bukan pada saat wabah Corona. Dalam sebuah pelayanan ke salah satu rumah sakit di kota Kassel-Jerman di tahun 1998. Ada seorang pasien perempuan tua berdarah Ambon, sudah terserang penyakit stroke sejak lama dan dia berbulan-bulan duduk di atas kursi roda begitu saja tanpa ada suatu pergerakanpun.

Si pasien berdarah Ambon ini sangat menyukai salah satu lagu Ambon berjudul “Naik-naik ke Gunung Nona”. Saya kemudian disuruh menyanyikan lagu tersebut untuk menghibur sang pasien. Begitu lagu tersebut saya nyanyikan, si pasien secara otomatis memukul-mukul sandaran kursi rodanya mengikuti irama lagu yang saya nyanyikan. Semua perawat merasa heran dan senang serta mengatakan ini sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena perubahan yang terjadi pada pasien sangat nyata. Bukan saja pada gerakan tubuh tapi mimik wajah pun berubah menjadi lebih ceria.

Itulah kekuatan musik yang berhubungan juga bunyi atau frekuensi yang mampu menyentuh frekuensi diri si pasien. Karena segala sesuatu mempunyai frekuensi atau vibrasi yang unik.

Sehingga menurut saya penyakit dapat muncul apabila terjadi semacam kontra-vibrasi yang dapat mengganggu vibrasi yang normal. Bunyi atau suara dapat digunakan untuk mengubah frekuensi yang tidak harmonis kembali kepada vibrasi yang normal, sehat dan dengan cara demikian akan dapat memulihkan kesehatan.

Sebagai pelatih vocal, saya merasakan beberapa getaran vocal yang diucapkan dengan konsentrasi penuh mempunyai efek kesehatan pada bagian-bagian tubuh tertentu. Karena pengucapan vocal seperti a, e, i, o, u, ö, ü dengan konsentrasi penuh akan sangat memberikan sugesti positif yang mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Pada tahun 1999 pernah dilaksanakan Kongres Musik Terapi Sedunia. Sebanyak 2.500 terapis musik dari 44 negara pernah berkumpul bersama, dan membicarakan bagaimana menerapkan musik dalam perawatan beraneka ragam penyakit seperti stress, stroke dan penyalahgunaan obat-obatan sampai kepada AIDS, arthritis dan penyakit paru-paru. Maka terapi Musik sebenarnya bukan hal baru dalam penyembuhan penyakit. Metoda ini sudah sangat dipraktikkan di beberapa negara oleh berbagai para ahli medis.

Oleh karena itu, di saat wabah corona ini, perlu ditawarkan terapi musik sebagai bagian dari program perawatan pasien pada berbagai rumah sakit, rumah perawatan lainnya dan fasilitas psikiatris dan rehabilitasi.

Menyediakan media pemutar CD, kaset atau pun HP dengan pengeras suara berukuran atau berfrekuensi kecil pada setiap kamar pasien Corona akan dapat memulihkan hati yang cemas. Karena hati yang gembira adalah obat yang manjur dan pasti meningkatkan imun si pasien. Hati yang bernyanyi akan memanggil kasih karunia-Nya bagi kesembuhan. Jaga kesehatan dan cobalah menggunakan musik sebagai alat terapi. Jangan takut.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music

Penulis: Ronny Loppies
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!