Sekilas Info

LAWAN COVID 19

New Norm for All

satumalukuID/Istimewa Penulis,Elifas Maspaitella (Sekretaris Umum Sinode GPM).

Benar. Semua orang sudah jenuh atau malah kesal dengan situasi yang terjadi sejak covid-19 melanda seantero jagat.

Symptum kejenuhan itu semakin mengental, dan susah dilebur, sebab terjadi evolusi perilaku keseharian tanpa kita sendiri siap (sebelumnya). Yah itu terjadi karena covid-19 datang tanpa pemberitahuan awal.

Kebijakan berturut kebijakan yang bertujuan memutuskan mata rantai covid-19 belum tuntas mencapai hasilnya. Pada suatu waktu angka terinfeksi dapat ditekan, seiring kebijakan berubah dari pembatasan ke relaksasi, angka terinfeksi melambung naik dan menghasilkan kecemasan baru.

Pemerintah mau begini. Masyarakat mau begitu. Pemerintah melakukan ini. Masyarakat melakukan itu. Pada suatu kasus pemerintah menyalahkan rakyat, pada kasus lain, rakyat memprotes pemerintah.

Ternyata, kutub masalahnya adalah struktur perilaku negara, pemerintah, rakyat, individu dan organisasi sosial-keagamaan. Struktur perilaku kita berada dalam mekanisme evolusi, bukan untuk menuju tatanan perilaku baru melainkan menguji daya tahan seluruh sistem sosial dan manusia dalam situasi ini.

Apa yang dibutuhkan? Karena problem ketahanan ekonomi, semua orang menginginkan masa new normal atau adaptasi kebiasaan baru. Beragam istilah dan defenisi digunakan bahkan direvisi/diganti. Apa yang diharapkan sudah diterapkan pada level kebijakan, seperti PSBR, PKM, PSBB I & II, PSBB TRANSISI I & II, dan entah apa lagi.

Anjuran menaati protokol kesehatan disosialisasi ulang dengan beragam pendekatan, namun semuanya masih berujung ketidakpuasan keluarga tertentu ketika salah seorang anggotanya dinyatakan positif C19.

Lalu?

Yang kita butuhkan adalah sebuah kesadaran baru untuk membentuk dan memberlakukan New Norm, suatu aturan baru. Dalam kondisi saat ini tidak perlu lagi bertanya tentang aturan pemerintah atau lembaga agama, sebab semua ketentuan atau protokol kesehatan sudah jelas di seluruh dunia.

New Norm harus dimaknai sebagai suatu tatanan ketimbang rumusan-rumusan aturan. Karena itu tata laku hidup harus terus dipoles mengikuti irama alam dan suasana sosial saat ini.

Suatu tata laku hidup untuk membiasakan diri menjadi peka dengan keadaan krisis, bahwa dalam kondisi krisis diperlukan disiplin serta empathy kemanusiaan tinggi. Keadaan krisis memerlukan komunikasi krisis yang mencerdaskan, bukan menakut-nakuti. Suatu komunikasi yang mampu mengungkapkan fakta secara gamblang.

Empathy kemanusiaan untuk melepaskan sekat isolasi sosial yang tanpa sadar terbentuk oleh kebijakan "phisical distancing" dengan membangun kesadaran komunalitas melalui aksi-aksi sosial dan kemanusiaan.

Sebab itu kepedulian kepada sesama harus lebih tinggi. Dalam tata laku hidup baru itu, aturan baru atau new norm telah menjadi keyakinan dasar bahwa "saya sehat, saudara sehat, kita sehat".

Mari wujudkan tata laku hidup dan empathy kemanusiaan.

Penulis: Elifas Maspaitella, adalah Sekretaris Umum Sinode GPM.

Baca Juga

error: Content is protected !!