Sekilas Info

SOSOK INSPIRATIF

Broery Pesulima, Sang Interpreter Bahasa Musik Kelas Dunia Bersuara Lirih

satumalukuID/Istimewa Penulis berpose dengan latar belakang mural musisi legendaris Broery Pesulima, pada Pusat Dokumentasi Musik Nasional (PDMN), di kawasan Passo, Kota Ambon.

Mendengarkan Broery bernyanyi bagaikan semilir angin menghentak bibir pantai, dengan dinamika dan karakter yang kuat. Suara lirih dengan karakter pria yang kuat merangsang intuisi jenius otak kanan sambil merenggut jiwa yang terlena dalam karakter vocal yang merayu. Dia sang interpreter bahasa musik, yang mampu mematikan dan menghidupkan rasa semua orang yang mendengarkan dengan frekuensi vocal, yang rata-rata mendekati frekuensi diri orang yang mendengarkan.

Kita terbuai, kita terbawa dan kita terlena dalam lirik yang seakan berbicara. Maka lagu-lagu yang dinyanyikan Broery penuh dengan interpretasi yang tepat, terhadap setiap kosa kata yang dikeluarkan.

Teknik Vokal dan pernapasan yang tinggi dan alamiah keluar begitu saja, dan sangat tahu kapan membuat orang terbang di atas bunyi nafas dan konsonan yang bening sebening embun pagi, dan hembusan angin malam yang mendayu-dayu.

Teknik falsetto Broery yang indah, sering membawa ke arah tempo yang meluluhlantahkan detakan jantung, dengan aksentuasi yang penuh rahasia dan kapan jatuhnya (out of tempo), telah membawa pendengar untuk berdecak kagum. Tarikan nafas pada lagu “The First Time Ever I Saw Your Face” ciptaan Ewan MacColl dan “Cinta” ciptaan Titiek Puspa, dengan teknik pernafasan yang panjang mengalahkan semua teori dan teknik pernafasan yang diajarkan di institusi musik. Tapi itulah seni mengolah vocal. Penggabungan teknik pernafasan dada dan diafragma/perut pun dieksekusi dengan baik oleh Broery pada beberapa lagu, ditambahkan lagi dengan desahan nafas pada saat inspirasi atau inhale telah membentuk timbre yang indah dan berenergi. (Baca Juga: Prof. Seumahu, Putra Maluku yang Jadi Wakil Pemerintah Australia di Berbagai Forum Internasional)

Bahu yang terangkat dan kepala yang cenderung menghadap ke atas, seakan-akan membawa pendengar ke langit rasa yang tinggi, dan menyulam kepedihan hati yang tak pernah hilang. Broery membawa sesuatu yang pasti dalam nada-nada mayor yang powerful dan menggiring kesedihan pada tonika minor (simak lagu “Hati yang Terluka”).

Broery yang terlahir di Ambon dengan nama lengkap Simon Dominggus Pesulima pada tanggal 25 Juni 1948, terkenal memiliki teknik artkulasi yang tinggi dalam memperindah pengucapan beberapa huruf Huruf vokal dan konsonan. Pengucapan konsonan h, n dan r pada teknik vocal (simak di lagu “Aku Jatuh Cinta” cipt. Rinto Harahap).

Broery sangat jelas dan memberi makna pada kesyahduan lirik, dengan cara memperpanjang durasi bunyi tersebut. Sedikit penjelasan, yang dimaksdukan dengan huruf vocal (huruf hidup) adalah bunyi yang dikeluarkan sebagai akibat gerakan pita suara tanpa hambatan. Terdapat lima huruf vokal, yaitu a, e, i, o, dan u. Sedangkan Huruf konsonan (huruf mati) adalah huruf yang keluar akibat gerakan dari pita suara namun terhambat oleh sesuatu. Terdapat 21 huruf konsonan, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Dari hasil perbincangan dengan musisi senior Jimmy Titarsole yang pernah menjadi operator rekaman Broery pada lagu “Donci for Mama” ciptaan Les Samu Samu dan “Dironang” ciptaan Ismail Hutajulu. Pengucapan huruf konsonan p yang dilakukan Broery tidak pernah meledak-ledak di mic, meskipun Broery selalu menempelkan bibirnya pada membran mic. Hembusan nafas Broery memiliki magnit yang kuat untuk menggetarkan jarum freukensi pada papan mixer yang rata-rata masih analog di zaman itu.

Soal interpretasi lagu yang dibawakan, almarhum Chrisye pernah mengatakan “Ada banyak penyanyi tapi hanya Broery yang benar-benar bisa bernyanyi dengan sepenuh hati dan jiwanya”. Kemampuan Broery dalam menerjemahkan atau mewujudkan sebuah karya musik dari notasi menjadi bunyi sangat artistik dan mengalun seperti orang yang sementara berbicara dan mengatakan sesuatu dengan jelas dan dapat dimengerti kepada lawan bicara.

Broery pernah memasuki dunia film di tahun 1972. Beberapa film pernah dibintanginya antara lain Brandal-brandal Metropolitan, Pengantin Remaja, Jangan Biarkan mereka Lapar. Sedangan di negeri Jiran Malaysia ia berperan dalam film Hapuslah Air Matamu.

Dia memiliki kemampuan akting yang luar biasa dan itu nampak pula pada kemampuannya bergaya di atas pentas, yang membuat penonton sempat bingung mau dibawa kemana interpretasi yang tidak umum dimainkan oleh penyanyi lain.

Broery sudah tiada, tapi perjalanan suaranya tetap melintas jaman dan waktu. Menembus rasa sambil mengharapkan munculnya Broery-Broery baru dari Kota Ambon City of Music untuk memperkaya Indonesia.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

Penulis: Ronny Loppies
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!