Sekilas Info

143 Ekor Satwa Endemik Maluku yang Beredar di Jawa dan Sumatera Dilepasliarkan di Pulau Seram

satumalukuID/Istimewa Kakatua Maluku jambul orange di Kandang Transit, kawasan Passo Ambon.

satumalukuID- 143 ekor satwa endemik atau asli Maluku yang berhasil disita petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, BBKSDA Jawa Timur dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, akhirnya dilepasliarkan di Pulau Seram, Rabu (12/8/2020).

Pelepasliaran dilakukan setelah BKSDA Provinsi Maluku menerima 144 ekor satwa asal Maluku yang ditangkap petugas BBKSDA Sumatera Utara, BBKSDA Jawa Timur dan BKSDA DKI Jakarta, tadi siang di Kandang Transit Passo, Kota Ambon.

“Hanya 1 ekor burung Kakatua Maluku belum bisa dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Manusela (Kabupaten Maluku Tengah) dan di suaka alam Sawai, Kabupaten Seram Bagian Barat,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Maluku kepada wartawan di Kandang Transit Passo, Rabu siang tadi.

Menurutnya, 144 ekor satwa yang diterima dari tiga provinsi tersebut terdiri dari 69 ekor reptil berjenis Soa Layar 27 ekor dan Kadal Lidah Biru 42 ekor. Dan sisanya merupakan burung Kakatua Putih 3, Kakatua Tanimbar 2, Kakatua Maluku 25, Nuri Bayan 19, Nuri Maluku 16, Nuri Sayap Hitam 1, Kasturi Ternate 5 dan Perkici Pelangi 4.

“Satwa ini berasal dari tiga provinsi yang merupakan hasil sitaan. BBKSDA Jawa Timur 44 ekor, BKSDA Jakarta 86 ekor, BBKSDA Sumatera Utara 14 ekor. Hasil pemeriksaan kesehatan ternyata ada satu ekor burung Kakatua yang perlu direhabilitasi lagi. Karena mungkin saat proses evakuasi dari Jawa Timur dan perlu pemulihan kesehatan dari satwa tersebut,” jelasnya.

Lantas, bagaimana bisa satwa asal Maluku ini beredar di Pulau Jawa dan Sumatera, Meity menduga terjadi perdagangan ilegal. Khusus burung Kakatua Maluku, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya dijual di Pulau Seram sebesar Rp.500-800 ribu rupiah.

“Info yang kami dapat burung-burung ini dijual dari daerah asal misalnya Pulau Seram harganya 500-800 ribu, kalau udah di Pulau Jawa diperkirakan Rp.5 juta per ekor, khusus kakatua endemik yaitu Molucan,” jelasnya.

Olehnya itu, dia mengaku pihaknya kerap bekerjasama dengan sejumlah isntansi terkait untuk senantiasa menggagalkan perdagangan ilegal terhadap satwa liar yang dilindungi.

“Burung burung ini sampai di jawa diperkirakan melalui jaringan perdagangan ilegal. Dengan demikian kita memang berupaya bekerjasama dengan instansi terkait, berupaya menggagalkan yang menjurus pada perdagangan satwa liar yang dilindungi,” tandasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!