Sekilas Info

PENANGANAN COVID 19

Kepala BNPB Tegaskan Covid-19 Bukan Rekayasa, Belum ada Kepastian Kapan Pandemi Berakhir

satumalukuID/Istimewa Kepala BNPB Doni Monardo

Ambon – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengungkapkan, tidak mudah memutuskan mata rantai Covid-19. Dia lantas membeberkan sejumlah fakta terkait upaya pemerintah dalam penanganan Covid-19 yang terjadi selama ini.

Berbicara pada web seminar (Webiner) bertema “ Perilaku Baru Pandemi Covid-19”, yang dipandu langsung Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, serta diikuti oleh Gubernur Maluku Murad Ismail , Ketua TP PKK Maluku Widya Murad Ismail dan Sekretaris Daerah Kasrul Selang, dari Kediaman Gubernur Maluku, di kawasan Poka Ambon, Senin (10/8), Doni Monardo mengungkapkan, jumlah pasien meninggal di seluruh dunia akibat pandemi sekitar 700 ribu jiwa. Sementara di Indonesia berjumlah 5 ribu jiwa.

“Penularan Covid kali ini bukanlah yang perdana. Wabah ini pertama kali menular pada Maret 1918 hingga September 1919 di Spanyol. Jumlah korban jiwa kala itu sangat banyak,” terang Doni dalam paparannya.

Webinar ini juga menyorot realisasi penggunaan masker, cuci tangan dan jaga jarak untuk perubahan perilaku baru pandemi Covid-19.
Dalam penjelasannya, Doni mengaku, pihaknya saat ini sedang merancang strategi, yakni memanfaatkan media secara maksimal. Sebab, berdasarkan survei 63 persen keberhasilan sosialisasi ditentukan oleh media.

Untuk itu, Gubernur, Bupati/Walikota se-Indonesia pun dihimbau dapat menggunakan strategi yang tepat di wilayah kerjanya masing-masing, sesuai program edukasi, sosialisasi dan metigasi. Terutama dengan memilih orang-orang berpengaruh di suatu kawasan sebagai ikon penanganan Covid-19 dan tidak berpatokan hanya kepada pejabat negara/daerah.

"Mayoritas masyarakat kita sangat patuh kepada orang tua, khususnya ibu. Olehnya itu, Tim Penggerak PKK tingkat nasional maupun daerah harus mampu menjadi bagian strategis dalam upaya sosialisasi penanganan Covid-19," lanjut mantan Pangdam Pattimura ini.

Dia menegaskan, Covid-19 bukan rekayasa atau konspirasi, namun ancamannya nyata. Belum ada kepastian kapan pandemi berakhir. Vaksin penyembuh virus ini, bahkan diketahui belum ditemukan. Andai telah ditemukan, pemberiannya pun bakal diberikan secara bergilir. Mengingat jumlahnya yang terbatas.

"Olehnya itu, opsi kami adalah melindungi warga rentan berusia di atas 60 tahun. Sebab, 80 persen angka kematian Covid-19 adalah pasien berusia 50-60 tahun lebih. Jika bisa melindungi, setidaknya kita telah memberikan perlindungan 85 persen warga Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Mendagri Tito yang bertindak sebagai moderator menjelaskan, perihal Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, telah dibahas dalam sebuah diskusi bersama jajaran para menteri dipimpin Menteri Polhukam Mahfud MD.

Dalam waktu dekat, akan ada penjelasan rinci dari pejabat terkait.

"Prinsipnya, kita mengedepankan langkah persuasif (mengajak) secara bertahap dan sistematis. Memang kalangan masyarakat menengah memahami empat prinsip protokol kesehatan, namun di tingkat bawah, perlu ada langkah lainnya," jelasnya.

Atas dasar itu, lanjut Tito, mengenai pemakaian masker, diketahui ada sebagian masyarakat yang ingin memakai masker namun tidak mampu membeli hingga perlu dilakukan pembagian masker. Sebaliknya, ada sebagian masyarakat yang mampu membeli, namun kurang memahami kegunaan memakai masker.

"Banyak hasil penelitian menyimpulkan, 50-70 persen penularan akan bisa ditekan apabila masyarakat selalu memakai masker saat beraktifitas," lanjutnya.

Penulis: Tiara Salampessy
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!