Sekilas Info

Seperti Menyewa Pesawat Sendiri

satumalukuID/Dok. Suhfi Majid

Kemarin (Selasa, 4/8/2020), dengan flight GA647 saya berangkat dari Ambon ke Cengkareng. Dalam penerbangan langsung 3 jam 15 menit tersebut, suasana ruang kabin yang biasanya riuh dengan penumpang, terlihat lapang. Tidak ada antrian. Sepi. Jumlah penumpangnya hanya 8 orang. Masih lebih sedikit dari jumlah awak kabin dan pilot.

Saya merasa seperti sedang terbang dengan pesawat sewaan hehe. Covid 19 menjadi penyebab utama lesunya bisnis maskapai penerbangan. Pembatasan sosial karena mewabahnya covid dan daya beli masyarakat yang makin turun, menyebabkan akses transportasi udara sepi pelanggan.

Penerbangan dari Ambon ke Jakarta pada kondisi normal, didominasi oleh 4 kelompok penumpang. Pertama Pekerja (PNS dan Pegawai Swasta). Kedua pedagang. Ketiga penumpang yang berkunjung karena urusan sosial dan keluarga. Keempat para traveller.
Dua kelompok yang pertama, saya kira presentasinya paling besar dibanding kelompok ketiga dan keempat.

Ketika ada kebijakan pelarangan atau pembatasan perjalanan dinas ke luar daerah di kantor pemerintah maupun swasta, maka maskapai merasakan dampak tersebut. Load factor atau tingkat keterisian kursi pesawat menjadi sangat terbatas. Padahal, bisnis penerbangan selalu mengejar load factor. Margin keuntungan dipengaruhi oleh keterisian kursi pesawat oleh penumpang. Skema angka keuntungan dari load factor besar, porsinya 75%.

Ditambah lesunya aktifitas ekonomi, maka mobilitas para pedagang menjadi lambat. Tak bergairah. Para traveler juga malas untuk berkeliling dalam situasi sekarang. Wajar jika penerbangan sepi melompong.

Seorang sahabat yang bekerja di sebuah maskapai membuka info, pada satu kali penerbangan sudah masuk kategori untung saat akupasi penumpang (kursi terisi) mencapai 60 persen. Jika pesawat dengan kapasitas 156 tempat duduk maka setara dengan 94 penunpang.

Hitungan keuntungan di atas setelah dikurangi dengan biaya operasional untuk terbang. Pada porsi ini, bahan bakar avtur menyerap biaya operasional paling banyak.

Kemarin, dengan penerbangan GA647 yang kami tumpangai hanya berdelapan orang. Cukup sederhana untuk menyimpulkan jika flight GA647 adalah penerbangan rugi.

Saya membayangkan jika situasi demikian terjadi berulang dalam kurun waktu panjang, selama pandemik Covid ini, betapa mengerikan bisnis penerbangan.

Bagi anda yang ingin menikmati penerbangan serasa menyewa pesawat sendiri, terbanglah sekarang. Jangan ditunda. Jika anda sewa pesawat betulan rute Ambon - Jakarta, biayanya tidak sedikit. 3,5 jam terbang + 30 ground time dikali biaya perjam. Biayanya rata-rata dipatok US$ 4.000/jam. Hitung saja besarnya.hehe.

#CatatanPinggir

Penulis: Suhfi Majid, pemerhati masalah sosial.

Penulis: Suhfi Majid
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!