Sekilas Info

SOSOK INSPIRATIF

Prof. Seumahu, Putra Maluku yang Jadi Wakil Pemerintah Australia di Berbagai Forum Internasional

satumalukuID/Istimewa Prof. Eliza Steve Seumahu

Bekerja baik-baik saja, dan bersembahyang lah.

Eliza Steve Seumahu lahir di Pulau Serua, pada bulan September 1937. Serua adalah salah satu dari tiga pulau kecil Teon - Nila - Serua (TNS) yang saat ini berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.

Terlahir dari ayah yang berasal dari Desa Liliboy, dan ibu yang berasal dari Desa Galala, Pulau Ambon. Berlatar belakang keluarga sangat sederhana. Seperti keluarga lainnya di Serua, sehari-harinya mereka menggantungkan hidup dari mengonsumsi sagu, papeda, singkong dan ikan.

Saat Perang Dunia II, tentara Australia datang ke Pulau Serua. Di sini mereka mendirikan lima (5) pos penjagaan di sekitar pulau. Pos-pos ini saling terhubung melalui saluran telepon. Setiap saluran telepon itu diidentifikasi dari nada dering yang berbeda. Bunyi satu kali nada dering untuk pos pertama, dua nada dering untuk pos nomor dua, tiga nada dering untuk pos nomor tiga, dan seterusnya.

“Saya dan teman-teman biasanya menyebar diri ke lima pos itu. Nada dering dari telepon itu menjadi mainan kami. Sangat menyenangkan bagi kami di usia kanak-kanak,” kenang Eliza yang akrab disapa Eli, saat berbincang dengan Presiden Basudara Maluku Global (BMG), Iwan Muskitta, pada web seminar yang digelar BMG bersama Daya Lima, dengan tajuk Bacarita Dari Timur: We All Have Dreams, yang diikuti ratusan peserta dari berbagai belahan dunia, Jumat (31/7/2020).

Eli mengisahkan, saat itu dia sangat tertarik bermain-main dekat pos para prajurit Australia, terutama karena mereka memiliki radio, yang digunakan untuk mendengarkan berita-berita mengenai perang. Berbeda dengan teman-temannya yang hanya sekadar bermain, Eli sudah punya satu impian besar yang ingin dia wujudkan.

“Saya sangat terpesona dengan telepon dan radio yang ada saat itu. Dan bermimpi bahwa suatu saat nanti, saya bisa mengetahui cara kerja dari kedua benda tersebut,” tutur Eli. Sejak saat itu mulailah muncul minat besar Eli pada telepon dan radio. Mimpi besar itu terwujud. Dia akhirnya berkarir pada bidang telekomunikasi.

TIDAK PUNYA SEPATU

Tiga (3) tahun pertama di Sekolah Dasar, Eli dan saudara perempuannya menuntaskanya di Pulau Serua. Mereka kemudian ikut kedua orang tua pindah ke Pulau Ambon, dan mengakhiri tiga (3) tahun terakhir SD di Kota Ambon.

Namun pendidikannya sempat terhenti, karena pergolakan Republik Maluku Selatan (RMS). Ini menjadi masa-masa sulit, termasuk memberi gangguan dalam pendidikan. Situasi yang ada memaksa Eli dan keluarganya harus melarikan diri ke Negeri Liliboy.

Begitu pergolakan RMS berlalu, Eli dan keluarga kembali ke Ambon, dan masuk ke Sekolah Menengah Pertama. “Saya belajar keras dan berhasil dengan baik dalam studi. Saya ketika itu berada pada peringkat teratas di tahun terakhir SMP untuk tingkat Maluku. Ini sangat menyenangkan bagi saya,” kenang Eli.

Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMA. Pada jenjang SMA ini, karena kecerdasannya, dia dimungkinkan “loncat” kelas. Dari kelas 1 langsung loncat ke kelas tiga.

Prof. Seumahu di depan rumah keluarga di Negeri Liliboy, Pulau Ambon.(Foto: Dok. Prof. Seumahu)

“Saya lulus dari SMA pada tahun 1955 dan mendapatkan hadiah berupa sepatu. Ini menjadi sepatu pertama saya selama saya bersekolah dari SD sampai SMA. Betapa senangnya saya, bisa merasakan pertama kali memakai sepatu,” ungkapnya.

Eli menuturkan, selama tahun-tahun di SMA, dia sangat tertarik pada pelajaran Matematika dan Fisika. “Saya suka melakukan eksperimen ilmiah di rumah. Misalnya membuat sebuah pohon Natal yang dioperasikan dengan baterai dan proyektor slide sederhana,” terangnya.

Eksperimen itu Eli lakukan, berdasarkan prinsip fisika yang telah dia pelajari di sekolah. Di era sekarang, apa yang dilakukan Eli itu, bagi kita saat ini cukup mudah. Sebab semuanya bisa dicari di Google. Tinggal klik, sekian banyak tutorial langsung muncul. Tapi bagi anak-anak SMA di zaman Eli remaja itu, apa yang dilakukannya tentu sesuatu yang luar biasa.

Bagaimana Ely melakukannya? Dia mengaku perpustakaan sekolah sangat membantunya kala itu. Dari perpustakaan, dia menemukan literatur Manual Instruksi Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) untuk Operator Radio. Literatur tersebut ditulis dalam bahasa Inggris, untuk digunakan dalam Perang Dunia II.

“Saya mempelajari buku itu dengan saksama, dan sampai pada kesimpulan bahwa inilah yang akan menuntun saya untuk mewujudkan impian saya, berkarir di bidang telekomunikasi,” tutur Eli.

BEASISWA COLOMBO PLAN

Menyadari latar belakang keluarganya yang sangat sederhana, Eli sadar tidak mungkin bisa melanjutkan studi ke universitas. Dia akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta, dengan harapan mungkin saja bisa mendapatkan sponsor untuk belajar di luar negeri. Namun dia harus pasrah, tidak ada sponsor yang bisa mendukung.

Satu tahun di Jakarta, daripada tidak ada kegiatan yang berarti, Eli berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris-nya. Dengan cara mendatangi Perpustakaan Kedutaan Besar AS, untuk meminjam buku tentang berbagai topik. Bidang telekomunikasi seperti radio dan televisi menjadi fokusnya.

Cara lain meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris-nya, Eli menghadiri kebaktian gereja dalam bahasa Inggris, yang dilakukan oleh Southern Baptist Mission. Dia juga membantu di gereja dengan menerjemahkan musik dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Hari-harinya dia juga habiskan dengan mengikuti kursus teknisi radio, dan lulus sebagai tukang reparasi radio.

“Saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan, dan berdoa keras untuk meminta arahan dalam hidup. Termasuk kesempatan untuk melanjutkan pendidikan saya. Akhirnya datang kabar gembira. Ada berita bahwa pemerintah Australia menawarkan beasiswa Colombo-Plan, untuk berbagai provinsi di Indonesia. Tetapi untuk mengajukan beasiswa, saya harus kembali ke Ambon,” paparnya.

Ketika itu Eli tidak punya simpanan uang. Hanya punya uang untuk makan sehari-hari. Dia harus menemukan jalan untung balik ke Ambon. Beruntung Eli mengenal seseorang yang berdinas di Angkatan Udara. Kepada orang inilah Eli mengutarakan niatnya, serta meminta tumpangan terbang gratis ke Ambon.

Di awal tahun 1956, Eli akhirnya kembali ke Ambon. Tanpa menunggu lama, begitu tiba di Ambon dia lantas pergi ke Kantor Pendidikan, untuk mengajukan aplikasi beasiswa Colombo Plan. Tapi saying pendaftaran untuk aplikasinya sudah ditutup. Rupanya dewi fortuna masih berpihak pada Eli. Dalam perjalanan pulang dari Kantor Pendidikan, Eli bertemu bekas guru Matematika, yang tahu persis catatan dan capaian raportnya semasa di SMP dan SMA.

Sang guru kemudian menemani Eli kembali ke Kantor Pendidikan, dan berhasil meyakinkan mereka untuk membuka aplikasi hanya untuk dia. Lamaran Eli akhirnya diterima. Dia kemudian kembali ke Jakarta dengan kapal laut untuk menunggu hasilnya.

Di Jakarta, Eli mendapat kabar, aplikasi beasiswa Colombo Plan-nya disetujui. Dia dan peserta lainnya kemudian mengikuti program orientasi yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Australia. Hari-hari yang dinantikan pun tiba. Eli dan teman-temannya berangkat menggunakan pesawat terbang ke Sydney, Australia. Di Sydney, selama 10 minggu mereka mengikuti kursus bahasa Inggris.

Prof. Seumahu berpose bersama rekan-rekannya sesama penerima beasiswa Colombo Plan.(Foto: Dok. Prof Seumahu)

Setelah itu, Eli ditempatkan di Universitas Adelaide. Dia mengambil spesialisasi dalam Teknik Elektronik dan Telekomunikasi, dengan gelar akhir Sarjana Teknologi.

Pada tahun-tahun pertama berada di Australia, dia mengaku diserang homesick. Merasa kehilangan dan rindu keluarganya di Maluku. Eli tidak terlalu sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan di Australia. Sebab dia sudah merasakan budaya barat ketika tinggal di Maluku, di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Ada satu kebijakan Australia saat itu yang namanya White Australian Policy atau police mengutamakan orang Australia berkulit putih, tetapi Eli tidak menemukan orang-orang di sana yang berbuat diskriminasi pada dirinya. Bagi Eli, mereka yang dia temui selama itu, sangat baik pada dirinya. Dia justru tinggal dengan keluarga Australia, dan mereka sangat membantu meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Inggris.

Setelah tiga (3) tahun belajar secara formal, Eli diharuskan melakukan praktek pelatihan selama satu (1) tahun di Melbourne, dan bekerja sebagai insinyur pada Laboratorium Penelitian Post Master General (PMG). Ini adalah laboratorium yang berspesialisasi dalam bidang telekomunikasi.

“Saya lulus dengan gelar Sarjana Teknologi dari University of Adelaide pada tahun 1961.

Saya juga kuliah di Universitas Melbourne dan menyelesaikan Magister Ilmu Teknik pada akhir 1963. Karena beasiswa Colombo Plan telah selesai, saya diharuskan kembali ke Jakarta,” kisah Eli.

Prof. Eli ketika bekerja di Laboratorium Penelitian Post Master General (PMG).(Foto: Dok. Prof. Seumahu)

GELAR DIDEGRADASI

Tiba di Jakarta, saat itu situasinya sedang kacau balau. Eli lantas pergi ke Departemen Pendidikan. Namun dia sangat sedih begitu diberitahu bahwa catatan mengenai dirinya telah hilang. Tidak ada satu pun catatan yang tersisa tentang Eli. Dia kemudian diberi uang sebasar Rp10.000, dan disuruh mengurus diri sendiri.

Lebih buruknya lagi, kualifikasi gelar yang dia raih dari Australia tidak sepenuhnya diakui. Gelar Sarjana Teknologi-nya diturunkan peringkatnya menjadi Sarjana Muda. Sedangkan gelar Master of Engineering Science-nya juga didegradasi atau diturunkan hanya selevel insinyur.

Memang sangat mengecewakan, tetapi Eli bertekad terus berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Dia sempat melamar ke Departemen Energi, namun dia justru ditertawakan dan ditolak. Syukurlah Eli kemudian mendapat pekerjaan di maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Meski sudah mendapatkan pekerjaan, tapi Eli masih kecewa dengan kenyataan bahwa dua gelar yang dia raih di Benua Kanguru itu terdegradasi di negerinya sendiri. Mungkin bagi kebanyakan orang sudah frustrasi dan menyerah pada titik ini. Tapi tidak begitu dengan Eli. Dia tetepa bersemangat, karena kuat memegang falsafah  “Bekerja baik-baik saja, dan bersembahyang lah”, atau Ora Et Labora. Eli pantang menyerah. Dia tidak pernah melihat suatu masalah menjadi kendala, tetapi selalu mencari jalan keluar dari suatu masalah.

Sambil sembari bekerja, Eli tetap mencari kemungkinan-kemungkinan lain, untuk mendapatkan sponsor sehingga dia dapat meningkatkan kualifikasi dengan studi lebih lanjut. Tetapi masih belum berhasil juga.

“Saya sedih dan berdoa keras kepada Tuhan untuk membantu saya. Saya kemudian mendaftar ke Universitas Melbourne untuk melihat apakah ada cara untuk meningkatkan kualifikasi saya. Mereka mengatakan kepada saya, bahwa mereka dapat membantu dengan memberikan kursus-kursus yang mengarah ke Sarjana Teknik Listrik. Dan ini akan memakan waktu dua (2) tahun. Namun tanpa beasiswa,” paparnya.

Prof. Seumahu saat meraih gelar Master of Engineering Science.(Foto: Dok. Prof. Seumahu)

PERGURUAN TINGGI TERBAIK DUNIA

Dihadapkan pada pilihan tersebut, sungguh membuat Eli frustrasi dan kecewa. Tapi dia bertekad harus menemukan caranya sendiri, untuk sampai ke Australia dan membayar sendiri biaya kuliah dan hidupnya di sana.

Eli lalu melamar pekerjaan di Laboratorium Penelitian Post Master General (PMG) di Melbourne. Tempat dimana dia pernah melakukan praktek pelatihan selama satu (1) tahun. Upayanya ini berhasil dan dia mantap memutuskan untuk kembali ke Australia.

Di Melbourne Eli bekerja sambil belajar keras pada saat yang bersamaan. Dan pada tahun 1966 dia lulus dengan gelar Sarjana Teknik Listrik dari University of Melbourne. Pada saat itu pula, Universitas Monash mengiklankan Beasiswa Penelitian. Tanpa menunggu lama Eli langsung mendaftar dan berhasil diterima.

Setelah itu Eli mendaftar di Departemen Teknik Listrik, untuk melakukan pekerjaan penelitian yang mengarah ke gelar Ph.D, dengan spesialisasi di bidang Telekomunikasi. Berkat ketekunan dan fokus pada apa yang ingin dia raih, Eli akhirnya lulus dengan gelar Ph.D pada tahun 1970.

Sebelum meraih gelar Ph.D, Eli menikah pada tahun 1968. Tahun berikutnya, dia mendapatkan pekerjaan di Institut Teknologi Australia Selatan (South Australian Institute of Technology/SAIT), sebagai Dosen Telekomunikasi di Departemen Teknik Elektronika.

Eli kemudian pergi ke Papua New Guine University of Technology (PNGUT) di Lae, sebagai dosen senior di Departemen Teknik Elektro. Dia mendirikan stasiun darat satelit sebagai bagian dari proyek Pacific Education And Communication Experiment by Satellite (PEACESAT) atau Pendidikan Pasifik dan Percobaan Komunikasi oleh Satelit.

Ketika di PNGUT ini, Eli sempat menghabiskan tahun cuti panjangnya di Boston, AS. Di sana dia melakukan studi pasca-doktoral pada bidang Telekomunikasi di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dia memperoleh sertifikat Fellow of Advanced Engineering Studies (FAES) dari MIT. MIT bukan suatu lembaga pendidikan yang mudah ditembus. Ini adalah lembaga bergengsi dan terkemuka di dunia untuk bidang teknologi. Lembaga MIT adalah satu dari lima perguruan tinggi terbaik di dunia.

Prof. Seumahu saat meraih gelar Ph.D.(Foto: Dok. Prof. Seumahu)

JADI WAKIL PEMERINTAH AUSTRALIA

Pada awal tahun 1977, Eli bergabung dengan Latrobe University di Melbourne pada Departemen Komunikasi. Dia mendirikan stasiun bumi PEACESAT lainnya, dan membangun jaringan Kangaroo Satellite yang melibatkan lembaga terkait di Australia.

Pada tahun 1985 Eli meninggalkan Universitas La Trobe, dan berpindah sebagai reader di Telekomunikasi dan bergabung dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Sebuah Lembaga pendidikan di Singapura, yang juga cukup punya reputasi di Asia bahkan dunia, dengan kapasitas sebagai Associate Professor.

Di NTU Eli mendirikan program penelitian satelit bersama dengan University of Surrey di Inggris. University of Surrey sendiri adalah pusat exelent dari satelit di Eropa, dimana mereka meluncurkan satelit-satelit mereka di Eropa dari universitas ini.

“Kami merancang muatan satelit yang disebut MERLION, yang dibangun dan dimasukkan dalam Mini Satellite, dan diluncurkan oleh University of Surrey,” ujar Eli.

Setelah dari Singapura, Eli kembali ke Institut Penelitian Telekomunikasi (Institute of Telecommunication Research/ITR) pada University of South Australia pada tahun 1998, sebagai profesor penuh pada bidang Telekomunikasi.

Eli terlibat dalam diskusi yang mengarah pada pembentukan sistem satelit domestik pertama Australia yang diberi nama  Australia’s First Domestic Satellite System (AUSSAT) Australia. ITR, CSIRO dan universitas lain terlibat dalam pengembangan satelit kecil bernama FEDSAT.

Nama Eliza Steve Seumahu semakin diperhitungkan pemerintah Australia. Itu sebabnya selama karier akademisnya, dia beberapa kali ikut mewakili negara ini dalam kelompok kerja satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti, Kelompok Kerja Regional UN ESCAP (Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Pasifik) tentang Sains dan Teknologi Ruang Angkasa, termasuk pada Kelompok Kerja Regional ESCAP PBB untuk Komunikasi Satelit dari 1995 hingga 2002.

Dia juga ikut mewakili Australia dalam Konferensi Internasional tentang Telekomunikasi, seperti International Telecommunications Union (ITU), dan Konferensi Radio Administrasi Dunia.

Prof. Seumahu saat mewakili pemerintah Australia pada salah satu forum internasional.(Foto: Dok. Prof Seumahu)

Bagi Eli, sesuatu yang paling dia banggakan dalam hidupnya, yaitu abstrak desertasinya dipublikasi di Amerika Serikat, serta namanya dimasukkan ke dalam buku Who’s Who. Sebuah buku yang memuat nama-nama dan profil orang-orang top di dunia.

Saat ini Eli sudah berusia 82 tahun, dan telah pensiun 18 tahun dari kehidupan professional. Dia telah menghasilkan 97 publikasi, makalah konferensi dan laporan teknis. Dia berharap pengalaman dirinya akan membantu generasi muda Maluku, untuk bercita-cita akan hal-hal yang besar bagi diri mereka sendiri.

Berdasarkan pengalaman hidupnya Eli selalu yakin, bahwa seseorang jika ingin berhasil maka dia  harus memiliki etos kerja yang tinggi, pekerja keras, serta memiliki impian dan visi yang besar. Dan jangan pernah mengenal kata menyerah. Selalu percaya dan menggantungkan harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Bekerjalah baik-baik saja, dan bersembahyang lah,” pesan Eliza Steve Seumahu, yang sempat menginjakkan kakinya di Ambon tahun 2018 ini.(*)

Prof. Seumahu saat berkunjung ke Ambon tahun 2018.(Foto: Dok. Prof. Seumahu)

Baca Juga

error: Content is protected !!