Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Ellyas Pical, Petinju Kidal dari Saparua Penghancur Dominasi Tinju Korea Selatan

Ellyas Pical kini telah berusia 60 tahun. -dok web-

MENYEBUT nama Ellyas Pical. Sudah pasti publik tinju tanah air tahu siapa legenda hidup ini. Pasalnya, Ellyas yang biasa disapa Elly adalah orang Indonesia pertama yang jadi juara dunia tinju profesional, yakni di kelas bantam yunior (terbang super) badan tinju International Boxing Federation (IBF).

Gelar juara tersebut diraihnya dalam perebutan sabuk juara dunia yang dipromotori Boy Bolang pada 3 Mei 1985 di Jakarta. Elly yang dilatih Simson Tambunan dan Khairus Sahel berhasil menang KO (knock out) pada ronde 8 atas sang juara bertahan dari Korea Selatan, Ju Do Chun.

Sebagai juara dunia. Popularitas Elly melejit bak meteor sejak saat itu. Kini sudah 35 tahun berlalu, namanya tetap dikenang, melegenda. Kisah hidupnya sejak masa remaja di kampungnya Negeri Ullath Pulau Saparua, Maluku Tengah, telah dikisahkan dan diulas dalam berbagai artikel media cetak, elekronik sampai era online. Termasuk rencana film tentangnya yang berjudul "The Exocet". Sayangnya tertunda lantaran pemeran utamanya tersandung kasus narkoba.

Baca Juga: Herry Maitimu, Raja Kelas Layang Indonesia Asal Maluku yang Dikepung Sesama Petinju Maluku

Namun generasi milenial Maluku dan Indonesia umumnya kurang tahu banyak perjalanan karier tinju Elly saat masih di ring amatir pada kelas terbang berat badan 51 kg. Elly mulai bertinju pada usia belasan tahun di Saparua. Ia terinspirasi oleh petinju kelas berat legendaris dunia, Muhamad Ali yang sering dia nonton di layar kaca TVRI. Elly remaja berlatih ditangani pelatih bernama Aking Tan.

Si kidal yang sederhana, polos dan lugu itu, lantas dari Saparua pindah ke kota Ambon. Di Ambon dia berlatih di sasana tinju Elang Laut binaan Pangkalan TNI AL di kawasan Halong. "Selama di Ambon, Elly tinggal di rumah saudaranya di Halong," ujar Herry Maitimu, mantan raja kelas layang Indonesia yang merupakan rekan Elly saat di tim tinju Maluku dan Indonesia, Rabu (29/7/2020).

Menurut Herry, tahun 1975 Elly yang masih usia belasan tahun sudah dibawa pelatih Teddy van Room bertanding pada kejuaraan di Surabaya. "Namun dia belum juara. Waktu balik ke Ambon, Elly pulang ke Saparua. Cukup lama baru dia kembali berlatih di Ambon lagi," ungkapnya.

Saat kembali berlatih di Ambon itulah reputasi Elly di tiinju amatir mulai menanjak. Ia adalah satu dari 'generasi emas^ awal skuat tim tinju Maluku dan Indonesia di berbagai kejuaraan seperti Kejurnas, Sarung Tinju Emas (STE/Golden Gloves), PON, SEA Games dan turnamen internasional President Cup.

Baca Juga: Wiem Gomies, Legenda Tinju Kelas Menengah Asia yang Cinta Kampungnya di Hatalai Ambon

Pertinjuan Maluku di era 1970 an hingga 1990 an cukup fenomenal dan disebut tim impian dengan materi atlet yaitu Herry Maitimu (layang), Ellyas Pical (terbang), Charles Thomas/Johanes Matuankotta (bantam),, Lutfy Mual, Noche Thomas (ringan), Jeffry Manusama (welter ringan), Max Auty (welter), Polly Pesireron (menengah/kemudian pindah ke tinju pro dan sempat sukses jadi juara OPBF), Wiem Gomies (menengah) dan Benny Keliombar (berat ringan).

Barulah disusul generasi Nico Thomas (pindah ke tinju pro jadi orang kedua Indonesia yang juara dunia) Apeles Letty, Matheos Lewaherila dkk, serta Albert Papilaya (juara Asia dan ikut Olimpiade Barcelona 1992), La Paene (ikut Olimpiade 1996) Bara Gomies, Mekson Barataman dkk sampai generasi David Isikiwar, Lumoly bersaudara dkk hingga muncul generasi petinju putri Welmy Pariama dkk.

Generasi emas awal itu dilatih pelatih legendaris Teddy van Room dan Josef Tehupeiory serta pembina Pertina Maluku, Hadi Budoyo. Elly dkk merupakan juara bahkan raja kelasnya di Indonesia, Asia Tenggara dan Asia. Malah pernah jadi satu tim Indonesia di SEA Games 1981 Manila dan Tim Indonesia Merah di President Cup 1980.

Baca Juga: Kompol Albert Papilaya, Legenda Tinju Amatir Indonesia yang Pernah Diajak Berkarir Pro di Amerika

FOTO KIRI: Ellyas Pical (baju merah), bersama Herry Maitimu, Charles Thomas, Polly Pesireron dan pelatih Teddy van Room saat bertanding pada kejuaraan Inter Cup di Duisburg Jerman. FOTO KANAN: Ellyas Pical (kiri belakang) bersama tim tinju Maluku 1979 saat juara umum Kejurnas di Ambon sedang dibrifing pelatih Teddy van Room. Dari kiri depan Lutfy Mual, Herry Maitimu, Jeffry Manusama, Yohanes Matuankota, Noche Thomas, Max Auty dan Polly Pesireron. -dokumen herry maitimu-

Elly lahir di Ullath, Saparua pada 24 Maret 1960 dari pasangan Pieter Pical dan Mama Anna. Awal datang dari kampungnya mengikuti kejuaraan daerah antar sasana di Ambon, style dan teknik bertinjunya masih monoton. Namun pukulan tangan kirinya yang keras ditakuti dan mengkanvaskan lawan. Elly kemudian direkrut lagi masuk Pelatda tinju Maluku untuk even nasional. Teknik dan gaya bertinju Elly membaik. Kekuatan pukulan tangan kidal nya makin keras.

"Beta dan Charles Thomas yang sering diminta sparing atau pemanasan tinju dengan Elly oleh om Teddy. Karena Elly muda dan dari kampung, kami sering bercanda meledeknya dengan cepat lepas pukulan ke arahnya lalu mundur. Begitu terus kami lakukan. Sebab meski Elly kurang cepat lepas pukulan, tapi tangan kirinya bahaya. Makanya lebih baik hindari ha ha," tutur Herry, tertawa mengenang masa bersama Elly dkk.

Disiplin, berlatih keras, semangat yang tinggi dan tidak macam-macam selama berlatih di sasana Garuda Pattimura di kawasan Belakang Soya, membuat Elly menuai hasilnya. Itu terjadi tiga tahun berturut-turut bersama tim tinju Maluku, Elly sukses menjadi juara nasional kelas terbang pada Kejurnas 1979 di Ambon, Kejurnas 1980 di Makassar dan PON 1981 di Jakarta serta beberapa kejuaraan terbuka dan STE.

Jaman itu usai era Johny Riberu (NTT/Jatim) kuasai kelas terbang nasional, Elly Pical lah yang mengambil tongkat estafetnya. Elly sukses kuasai berbagai even meski ada petinju nasional senior pengalaman di kelasnya seperti Julianus Bunga (Bali), Carol Renwarin (Papua) dan lainnya.

Baca Juga: Max Auty dari Sepakbola Hingga Emas Tinju Sea Games 1981 dan Sopir Taksi di Ambon

FOTO KIRI: Ellyas Pical bersama penulis saat Kejurnas tinju 1996 di Ambon. FOTO KANAN: Ellyas Pical saat masih di tinju amatir wakili Maluku. -dok novi pinontoan/PR-

Setelah juara Kejurnas 1979, 1980 serta PON 1981. Pamor Elly makin melejit. Dia lantas masuk Pelatnas tim tinju Indonesia persiapan SEA Games 1981 di Manila Filipina dan turnamen President Cup di Jakarta. Untuk itu, Elly dkk di Pelatnas sempat mendapatkan pelatihan di Rumania dan ikut kejuaraan Inter Cup di Duisburg Jerman,

Sayangnya, pada arena SEA Games 1981 Manila, Elly hanya meraih medali perunggu. Waktu itu 6 petinju Maluku yang perkuat Indonesia yakni Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Max Auty, Polly Pesireron dan Wiem Gomies. Indonesia rebut dua emas dari Max Auty (welter) dan Lodewyk Akwan (berat). Wiem Gomies, Adi Swandana dan Krismanto perak, sedangkan Elly, Herry, Charles dan Polly perunggu.

Prestasi puncak internasional Elly di amatir terwujud di President Cup 1980 dan 1981. Di even antar negara tersebut, Elly dua kali meraih juara bahkan menjadi petinju terbaik (the best boxer). Di arena itu, dominasi petinju Korea Selatan yang dikenal tahan pukul rontok di tangan kidal Elly. Pasalnya, di final kelas terbang 1981 dia mampu hancurkan pertahanan lawannya Hong Dong Sik. Elly pukul KO pesaingnya itu dan dinobatkan sebagai petinju terbaik.

Pasca kemenangan atas petinju Korsel di tinju amatir itu. Elly bagaikan "rudal" penghancur daya tahan pukul petinju-petinju negeri ginseng. Lantaran setelah pindah ke tinju pro, karier Elly mendunia pun terjadi di Korsel sekaligus taklukan petinju tuan rumah. Hal itu belum pernah dilakukan petinju Indonesia lainnya.

Sukses di Korsel membuat Elly merupakan petinju pertama asal Indonesia yang merebut titel pertama di luar negeri. Tepatnya pada 19 Mei 1984, suami Rina Siahaya Pical dan dua anak itu, mengalahkan petinju Korea Selatan Jung Hee-yung, melalui kemenangan angka telak di Seoul. Dia berhak atas sabuk gelar juara OPBF (Asia Pasifik).

Setahun berselang, Impian Indonesia memiliki juara dunia tinju pro akhirnya terwujud. Lagi-lagi sejarah orang pertama Indonesia menjadi milik Elly. Lantaran dia berhasil menjadi juara dunia kelas bantam junior usai mengkanvaskan sang juara bertahan Ju Do Chun dari Korsel.

Gelar juara dunia Elly Pical sempat lepas. Karena direbut petinju Republik Dominica, Cesar Polanco, pada 15 Februari 1986. Tetapi hanya lima bulan kemudian Elly berhasil mengembalikan sabuk juara itu dalam pertarungan ulang.

Baca Juga: AKBP Apeles Letty, Sang Juara Tinju yang Kini Menjabat Kepala SPKT Polda Maluku

Sabuk juara dunia kembali lepas dari Elly pada 28 Februari 1987, setelah kalah dramatis dalam pertarungan pemegang gelar IBF dan WBC dari petinju Thailand, Khaosai Galaxy di Stadion Utama Senayan. Saat itu, Elly kalah KO di ronde ke-14.

Namun, kesempatan si kidal dari Saparua untuk jadi juara dunia datang kembali. Kali ini, Elly berstatus sebagai penantang ketika dia melawan Tae-Il Chang dari Korsel. Chang merupakan juara dunia kelas terbang super IBF yang ditanggalkan Galaxy. Pertarungan itu berhasil dimenangi Elly. Dia tiga kali pertahankan gelar melawan Raul Ernesto Diaz, Kim Ki-chang (Korsel), dan Mike Phelps.

Sabuk juara akhirnya lepas dari Elly setelah kalah dari Juan Polo Perez di Valley Sports Arena, Virginia AS, pada 14 Oktober 1989. Pasca kekalahan itu, Ellyas Pical memutuskan gantung sarung tinju.

Sepanjang kariernya di tinju pro, Elly telah naik ring 26 kali, dengan 20 kali menang (11 KO), lima kali kalah, dan sekali seri. Dia hanya enam tahun berkiprah di tinju profesional. Namun, dalam waktu singkat itu Elly menorehkan tinta emas sejarah tinju Indonesia dan dunia.

Hebatnya, situs Asian Boxing mencatat Elly sebagai petinju dengan pukulan paling menakjubkan dalam sejarah kelas terbang super. Selain itu, Elly juga menyamai rekor idola nya Muhamad Ali, yang bisa tiga kali merebut juara dunia.

"Elly pantas jadi juara dunia. Dia disiplin, tekun berlatih dan tidak macam-macam. Talenta dan kekuatan pukulan kirinya itu senjatanya," ungkap Wiem Gomies, senior Elly semasa di amatir yang mantan juara Asian Games 1970 dan 1978.

Kini, Elly telah berusia 60 tahun. Kisah heroik nya tercatat dalam sejarah olahraga bangsa ini. Tetapi, Elly sering prihatin dengan prestasi atlet-atlet Indonesia khususnya cabang tinju. "Petinju sekarang kurang disiplin dan berlatih keras. Mental mereka juga payah. Harus prinsip. Lawan berlatih, katong (kita, red) juga latihan. Fight dulu, hasilnya belakangan," jelas Elly kepada penulis, dalam suatu kesempatan di Ambon.

Ibarat kata bijak, hasil tidak akan mengkhianati proses. Kita berharap semoga harapanmu muncul Elly Elly baru terwujud.

Ale hebat nyong, ale legenda, ale pelaku sejarah. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!