Sekilas Info

MUI dan FKPT Maluku Diskusi Cara Menangkal Bahaya Paham Radikalisme di Ambon

satumalukuID/Istimewa

satumalukuID- Tahun ini sedikitnya 11 orang terduga teroris diciduk aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror di sejumlah daerah di Provinsi Maluku. Yaitu di Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah. Belasan terduga penganut paham radikalisme itu telah digelandang ke Jakarta, 25 Juni 2020 lalu.

Untuk menangkal bahaya penyebaran faham radikalisme/terorisme di Kota Ambon, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Koordinasi Penanggulan Terorisme (FKPT) Provinsi Maluku menggelar fokus grup diskusi (FGD) di Masjid Al-Hijrah Kapaha, Kelurahan Pandan Kasturi, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Rabu (29/7/2020).

Mengupas tema FGD “Bersama Menangkal Bahaya Paham Radikalisme/Terorisme di Kota Ambon” Ketua MUI Maluku Abdulah Latuapo, mengatakan, faham tersebut dapat dilawan dengan persatuan masyarakat termasuk menguatkan kalangan pemuda.

Masyarakat harus terus diberikan pemahaman terkait keberagaman. Sebab, perbedaan, kata Abdulah, merupakan sebuah anugerah dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

“Bagaimana kita selaku pemuda dan masyarakat dapat mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah keberagaman yang kita miliki sebagai anugerah Allah SWT,” terangnya.

Menurutnya, Allah menciptakan manusia untuk hidup bersama. Saling tolong menolong tak dapat dihindari. Sebab, manusia tidak dapat hidup sendiri-sendiri.

“Pada prinsipnya kita tidak dapat hidup secara sendiri-sendiri, sehingga dalam hidup ini, kita membutuhkan orang lain untuk terus hidup bersosial dan saling menghargai di tengah perbedaan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua FKPT Maluku Abdul Rauf, meminta kepada pemuda khususnya di Kota Ambon agar tidak mudah terpengaruh dengan sekelompok orang yang memiliki paham radikalisme.

Menurutnya, orang yang memegang paham radikalisme dapat diketahui dari ciri-ciri sikap fanatisme yang berlebihan. Mereka sangat intoleran terhadap sesama muslim.

Dengan ciri seperti tersebut, kata dia, mereka lebih cenderung mudah terpapar paham radikal dan sangat berbahaya.

“Kendati berbahaya, kaum seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja dan terjerumus, sehingga harus dirangkul kembali untuk brgabung bersama kelompok masyarakat yang tolerant dan cinta damai,” pintanya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!