Sekilas Info

OPINI KREATIF

ANAK SEKOLAH KORBAN NEGARA KESATUAN

Saya lagi pulang kampung, di Pulau Haruku, Maluku Tengah. Pulau yang sebenarnya masih tergolong ‘terisolir’. Iya, maksudnya karena pergerakan manusia dari dan kembali ke kampung tak begitu masif. Apalagi kalau menyeberang ke Pulau Ambon saat pandemi Covid ini, perlu mengurus berbagai surat keterangan.

Kampung saya ini juga belum ada temuan suspect Covid-19. Sehingga relatif aman, masih termasuk zona hijau. Aktivitas masyarakat pun berlangsung normal, berjalan seperti hari-hari biasa. Bahkan kalau tak nonton TV kita tak tahu kalau pandemi masih hangat di berbagai tempat.

Tapi yang berbeda justru pada kegiatan belajar-mengajar di sekolah, SD hingga SMA ternyata semua masih tutup. Hanya terlihat ada para guru yang masuk. Murid dipaksa belajar dari rumah, walau pada faktanya anak-anak bebas beraktivitas layaknya situasi sebelum pandemi.

Sama seperti pelajar di perkotaan, pelajaran atau tugas sekolah diberikan dengan cara daring atau online. Dengan signal internet yang kadang tak menentu, dan tak semua anak atau orang tua punya ‘smartphone’, membuat siswa di sini kerap bergerombol di rumah atau pekarangan anak yang punya gawai canggih.

Belum lagi para orang tua yang dalam ekonomi yang sulit harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli kuota internet, yang bagi sebagian warga bukan sesuatu yang murah. Sungguh harus kembali mengelus dada bila mengkomparasikan situasi ini.

Agak lucu memang, sekolah ditutup, tapi anak-anak tetap bisa berkumpul dan bersama, seperti saat di sekolah saja. Padahal tutupnya sekolah tentu dengan alasan agar tak ada kontak fisik dan interaksi sesama anak-anak guna menghambat penularan Covid-19.

Saya kemudian ke salah satu sekolah dasar yang tak jauh dari rumah, bertanya pada salah satu guru alasan pentutupan ini. Katanya ini berlaku nasional, mereka hanya mengikuti aturan atau kebijakan saja. Sungguh satu lagi bukti kalau semua persoalan dan masalah dilihat dengan kacamata pusat, kota atau wilayah daratan yang interaksi antar daerah lebih masif.

Saya jadi bertanya dalam hati, apakah sekolah-sekolah di Ambalau, Buano, Kelmury, Banda, Kaimear, Lati, Aru dan pulau lainnya di Maluku yang relatif ‘terisolir’ juga tutup? Kalau iya, betapa kita tidak mampu berpikir global dan bertindak lokal.

Artinya kemampuan untuk melihat masalah secara luas dan konfrehensif, tapi mengambil tindakan secara lokal atau sesuai dengan kebutuhan dan situasi masing-masing locus. Bukan pakai pendekatan atau kacamata umum dan seragam dalam mengambil tindakan yang lebih khusus atau lokal.

Hal ini juga menjadi semacam praktik ketidakadilan dalam bentuk kebijakan, di negara kesatuan. Meski dalam situasi yang tak sama, tapi ada dalam kebijakan yang sama, belum lagi soal minim atau tak ada akses dan kepemilikan teknologi informasi yang memadai.

Negara ini betul-betul aneh, parameter yang dilakukan selalu seragam dalam kesatuan padahal kemampuan dan situasi tiap tempat dan daerah berbeda-beda. Apalagi untuk wilayah yang masyarakatnya miskin dan minim infrastruktur, pasti terasa ketidakadilan itu.

Bisa dibayangkan sendiri, anak-anak yang dirumahkan, namun tak terfasilitasi. Tumbuh dalam berbagai keterbatasan karena negara tak hadir pada mereka, sama seperti pada anak-anak di kota besar atau daerah yang lebih maju, akhirnya sudah tertinggal dan tentu akan makin tertinggal lagi.

#catatanputratimur

Penulis: Ikhsan Tualeka
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!