Sekilas Info

Rektor IAIN Ambon Sarankan Mahasiswa Cuti Jika Tak Bayar Uang Kuliah Tunggal

satumalukuID/Istimewa Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, M.Ag, (kiri) bersama Wakil Menteri PUPR RI, John Wempi Wetipo, saat berada di Kampus IAIN Ambon, Senin (27/7/2020).

satumalukuID- Lebih empat pekan berlalu, sekelompok mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon menggelar aksi unjuk rasa hingga Senin (27/7/2020) hari ini, tepat saat kedatangan Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jhon Wempi Wetipo, meninjau pembangunan di Kampus Hijau tersebut.

Aksi hari ini sedikit panas, akibat pelibatan aparat kepolisian yang mengamankan peristiwa pemblokadean mahasiswa pada pintu utama menuju area kampus IAIN Ambon, sore tadi. Hasilnya, Wamen berhasil keluar kampus tanpa menyapa para mahasiswa.

Meski tak dapat mencegat Wamen untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, tapi tuntutan para mahasiswa tetap disampaikan dalam bentuk orasi. Mereka meminta Wamen agar dapat mendesak Menteri Agama RI di Jakarta, untuk memberikan keringanan pemotongan biaya SPP atau Pemotongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 50 % dari nilai bayar normal.

Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, mereka mengaku berasal dari sebagian besar orang kurang mampu. Apalagi di tengah mewabahnya Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) saat ini, perekonomian semakin sulit, sehingga tanggungan biaya UKT menjadi semakin berat.

Salah satu mahasiswa, Awal Tamher, dalam orasinya menyampaikan akan terus melakukan aksi hingga tuntutan mereka dikabulkan yakni penurunan UKT sebesar 50 %. Hal itu diinginkan mengingat daerah ini sedang dilanda wabah Covid-19. Orang tua mereka juga rata-rata petani, sehingga tak dapat bekerja mengais rejeki untuk menunjang pendidikan mereka.

Aksi yang berlangsung lebih dari empat pekan itu, sedianya sudah direspon pimpinan IAIN Ambon. Namun, kelompok mahasiswa tersebut tak terima dengan kebijakan lembaga. Sebab, tuntutannya 50 persen, sementara kebijakan yang dikeluarkan lembaga 15 persen.

Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, di hadapan para mahasiswa yang melakukan aksi, meminta mereka untuk mengikuti aturan akademik. Bila ada mahasiswa yang tidak sanggup membayar UKT, diharapkan untuk mengambil cuti semester. Sebab, cuti semester tidak harus membayar UKT.

Hal itu disampaikan Hasbollah mengingat lembaga IAIN Ambon tidak dapat melakukan pemotongan UKT hingga 50 persen, sebagaimana dituntut para mahasiswa. Selain itu, tidak ada dasarnya. Bahkan, kata Rektor, UKT merupakan salah satu sumber pendapatan lembaga sesuai kebijakan pemerintah.

"Yang tidak bisa bayar UKT cuti saja,” tegas Hasbollah saat bertatap muka dengan mahasiswa di Gedung Student Center IAIN Ambon, sore tadi.

Hasbollah menjelaskan lebih jauh, jika pihaknya melakukan pemotongan hingga mencapai 50 persen UKT, maka tentunya seluruh kegiatan di IAIN Ambon akan dihentikan. Sebab, sumber keuangannya berasal dari UKT tersebut.

“Kalau pemotongan hingga 50 persen, maka tidak ada wisuda, KKN, magang sama berikan gaji pegawai honor,” tegas Hasbollah.

Dalam aksi blokade mahasiswa sore tadi terhadap Wamen PUPR RI, Hasbollah mengaku malu. Sebab, aksi mahasiswa tersebut berlangsung di vsaat beliau sedang berkunjung sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat kepada Kampus IAIN Ambon.

“Saya malu karena ada Wakil Menteri yang datang baru kalian demo. Padahal beliau datang karena peduli dengan kampus kita yang mengalami kerusakan akibat gempa,” sesalnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!