Sekilas Info

KISAH INSPIRATIF

Polanunu Melintas Jalan Kebudayaan

satumalukuID/Istimewa dr. Abdurahman Polanunu

Aspek kebudayaan (culture) warga masyarakat pada suatu daerah, yang berbeda dengan warga masyarakat pendatang, memerlukan adanya pemahaman menyangkut dengan kebudayaan setempat. Sebab warga masyarakat setempat memiliki tatanan nilai, dan norma yang berbeda dengan warga masyarakat pendatang. Sehingga jika adanya pemahaman, maka akan adanya harmonisasi kehidupan warga yang baik. Namun jika sebaliknya warga pendatang tidak memahaminya, maka tentu akan terjadi disharmonisasi antara mereka dengan para pendatang.

Perspektif pemahaman itu lah, yang kemudian mampu di maknai dan diimplementasikan dengan baik oleh dr. Abdurahman Polanunu, tatkala ia bertugas sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kesehatan Provinsi Jambi periode 1999-2002.

Dia melintas jalan kebudayaan, dari kebudayaan Maluku yang majemuk, hingga kebudayaan Jambi dengan ciri khas Melayu, Islam. Kisah ini dituturkannya kepada saya, tatakala bertemu di Godzilla Net milik putranya di kawasan Wailela pada 27 Juni 2020 kemarin.

Menurutnya, saat ia tiba di Jambi dan bertugas di sana, ia disambut dengan baik oleh Gubernur Provinsi Jambi, yang kala itu dijabat oleh Abdurrahman Sayoeti dan jajaran Pemerintah Provinsi Jambi. Dikemudian hari jabatan ini dipegang oleh Zulkifli Nurdin, dimana anaknya Zumi Zola yang juga akhirnya menjadi gubernur di tahun 2016 di daerah ini. dr. Polanunu menuturkan waktu itu Zumi Zola masih berada pada Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Begitu pula ia disambut para pegawai di Kanwil Kesehatan Provinsi Jambi dengan baik. Suatu pertanda mereka antusias dengan kehadirannya di tempat tugas yang baru itu.

Dalam perkembangannya, mereka ternyata tidak terlalu simpati dengan orang luar, yang menduduki jabatan birokrasi pemerintahan di sana. Lantaran mereka lebih simpati dengan putra daerah yang menduduki jabatan birokrasi pemerintahan di sana.

Dengan kondisi ini, ia tidak pantang mundur melainkan maju terus, dimana ia melakukan pembinaan dengan serius dan instens. Sampai kemudian sikap-sikap kedaerahan yang dominan itu perlahan-lahan menghilang. Begitu juga para pegawainya tidak disiplin, dimana sebagian kecil dari mereka datang dan pulang sesuka mereka saja, lantaran mereka tidak menganggap pimpinan mereka di kantor.

Kondisi ini terjadi karena rata-rata mereka, yang berstatus kepala bidang memiliki pendapatan melebihi kepala kantor, lantaran memiliki kebun sawit. Hingga tidak seluruhnya masuk kantor, tapi sebagai pimpinan akhirnya ia memberikan peringatan keras kepada mereka, dimana jika sampai dengan enam kali tidak masuk kantor, maka akan diusulkan untuk di non aktifkan dari pegawai.

Pada akhirnya penegakkan disiplin dari dr. Polanunu itu sukses, dimana mereka datang dan pulang dari kantor tepat pada waktunya. Begitu juga mereka menghargai pimpinannya.

Di sisi lain, menurut dr. Polanunu, jika waktunya salat magrib tiba, warga setempat di Jambi berhenti dari aktifitas mereka, lantas menutup warung dan toko sampai dengan pagi tiba, barulah mereka beraktifitas kembali. Sehingga untuk makan malam pun susah, lantaran warung sudah tutup. Kalau sudah demikian, maka pilihannya adalah ke hotel untuk memesan menu makan di sana.

Begitu pula, salah satu cara untuk menarik simpati mereka yakni, memahami kebudayaan mereka. Jambi, sebagai provinsi yang mayoritas penduduknya beretnis Melayu, yang Islam, maka penduduknya juga religius. Oleh karena itu, aktifitas yang Islami juga perlu diterapkan di kantornya, seperti intensitas salat sebagaimana perintah-Nya.

Sehingga kadang-kadang ia menyempatkan waktu menjadi imam dari jamaah di kantornya. Hal ini yang kemudian lebih mendekatkannya dengan para pegawai di kantornya, sekaligus suatu cara pendekatan dan pembinaan yang sukses.

Penulis: M. J. Latuconsina, adalah pemerhati masalah sosial politik, tinggal di Ambon.

Penulis: M.J. Latuconsina
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!