Sekilas Info

Keluarga Almarhum HK Kembali Polisikan Perawat RSUD Ambon Jomima Orno

satumalukuID/Freepik.com Ilustrasi Polisi

satumalukuID- Jomima Orno, perawat RSUD Ambon kembali dipolisikan, terkait dugaan pencemaran nama baik terhadap Bailamu Leuly, istri almarhum Hasan Keiya (HK), pasien Covid-19 yang meninggal dunia pada Jumat (26/7/2020) lalu. Dia dipolisikan di Ditreskrimsus Polda Maluku, Kota Ambon, Senin (27/7/2020).

Jomima dilaporkan atas pernyataannya yang dimuat pada sejumlah media sosial, terkait penganiayaan yang menimpa dirinya. Dia mengaku dianiaya oleh kurang lebih 15 orang tepat di hari wafatnya HK, mantan anggota DPRD Maluku Tengah tersebut.

Jomima tetap kokoh dengan pernyataannya yang menyebutkan satu dari belasan pelaku pengeroyokan dirinya adalah Bailamu Leuly, istri almarhum HK, yang disebutkan pihak keluarga ternyata saat itu sedang berada di Masohi, Ibukota Kabupaten Maluku Tengah.

“Sudah lapor tadi di Krimsus (Polda Maluku). Jam 9 pagi tadi dilaporkan dengan melampirkan seluruh bukti terkait dugaan pencemaran nama baik di medsos, terkait dengan ibu Jomima Orno melaporkan dan memfitnah keluarga besar Sahal Keiya (anak almarhum HK),” ungkap Abd Syukur Kaliki, Penasehat Hukum dari Keluarga Sahal Keiya, kepada wartawan.

Dalam laporan yang dimasukan Senin tadi, Syukur mengaku pihaknya melampirkan dua alat bukti media yang memposting pernyataan Jomima, ketika menuduh istri almarhum HK bersama anak-anaknya dan belasan orang lainnya telah menganiaya dirinya.

“Dalam laporan juga kami menyampaikan yang menjadi tanggapan kami adalah kenapa ibu Jomima dengan gamblang membeberkan hal yang salah di media sosial dan didampingi oleh pengacaranya, mengatakan seakan-akan yang menganiaya dirinya di Rumah Sakit (RSUD dr. M. Haulussy) Kudamati Ambon adalah istri almarhum Bailamu Leuly,” sesalnya.

Menurut Syukur, selain menyampaikan pernyataan Bailamu telah menganiaya dirinya, Jomima juga mengatakan anak-anaknya merangkul dan yang lain melakukan pengeroyokan.

“Dia menyampaikan anak-anak laki-laki almarhum yang memegang tangannya dan dipukuli babak belur oleh 15 orang. Jadi yang pertama bohong, yang kedua lebih bohong lagi. Ada kecenderungan dia bohong dipukuli 15 orang sampai babak belur,” tandasnya.

Syukur menyampaikan, saat dirinya mendampingi kliennya diperiksa penyidik di Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Nur Keyla, Sahlan Keyla dan Ida Laila Keyla dalam keterangan mereka tidak pernah memberikan keterangan telah memukul Jomima Orno.

“Tidak ada satu keterangan pun yang mengatakan memukul korban. Hanya 1 keterangan dari Nur Keyla yang mengatakan menampar tapi tidak mengenai muka Jomima, cuma mengenai bahu sebelah kanannya,” jelasnya.

Syukur mengaku menyangkan pernyataan Jomima Orno yang telah menambah-nambah keterangan palsu dan mengekspos di media sosial, seakan-akan perbuatan tersebut betul terjadi terhadap dirinya.

“Sudah konfrontir dua minggu yang lalu, ketika ibu Jomima dikonfrontir oleh keluarga almarhum di Polres pada unit satu juga. Ibu Jomima mengatakan iya saya dipukuli babak belur dan saya tahu yang memukuli saya adalah istrinya almarhum. Padahal sampai hari ini beliau masih di Masohi,” terangnya.

Menyoal terkait laporan pencemaran nama baik yang juga sedang bergulir di Polresta Pulau Ambon, Syukur membenarkannya. Dasar laporan berawal ketika Jomima melaporkan kasus penganiayaannya di Polresta. Salah satu pelaku adalah Bailamu Leuly, istri almarhum HK yang tidak tahu menahu terkait masalah tersebut karena sampai saat ini sedang berada di Masohi.

“Hari ini kami laporkan dia ke Mangga Dua Krimsus karena dia bikin pencemaran lewat ITE di media sosial. Jadi kalau di Polres itu dia bikin pencemaran nama baik di unit satu (Satreskrim). Laporan ini bukan untuk mencari maaf dari Ibu Jomima, tapi bahkan kami tidak akan menerima maaf lagi hingga sampai di pengadilan,” jelasnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!