Sekilas Info

OPINI KREATIF

MENYOAL AKSES LITERASI, POTRET KETIDAKADILAN

Di tengah berbagai keterbatasan, terutama dalam mengupayakan pendidikan yang lebih baik dan berkualitas, upaya peningkatan kapasitas masyarakat dapat terus dilakukan. Salah satunya adalah lewat membudayakan literasi.

Agenda penting karena literasi dapat menjadi semacam substitusi dan juga ‘suplemen’ tambahan bagi generasi muda untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan. Sehingga ada pemahaman yang lebih objektif terhadap realitas sosial dan berujung pada tindakan sosial yang lebih relevan.

Jepang bisa menjadi negara yang maju, karena memiliki budaya literasi yang tinggi. Di Negeri Sakura itu ada tradisi membaca 10 menit sebelum masuk kelas bagi siswa di sekolah. Tidak saja itu, terdapat pula gerakan ‘20 minutes reading of mother and child’, yaitu gerakan yang mewajibkan ibu mengajak anaknya membaca selama 20 menit sebelum tidur.

Juga ada budaya Tachiyomi atau membaca gratisan di toko buku sambil berdiri. Buku-buku baru yang dipajang di rak yang biasanya disegel plastiknya, di Jepang sengaja dibiarkan terbuka agar pengunjung mudah melakukan Tachiyomi. Begitu pentingnya buku dan budaya literasi diposisikan.

Jepang dan sejumlah negara maju seperti Finlandia, Swedia, Belanda dan Australia bisa ada dalam budaya literasi yang tinggi, karena pemerintahnya memiliki visi dan perhatian yang besar terhadap literasi warganya. Sehingga akses menjadi mudah atau dipermudah. Memang untuk membangun budaya literasi sangat terkait dengan dimensi akses terhadap bahan literasi.

Itu pula mengapa Miller dan McKenna (2016) dalam buku World Literacy: How Countries Rank And Why It Matters, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas dan budaya literasi, menempatkan dimensi akses masyarakat dalam mendapatkan bahan literasi, seperti perpustakaan, toko buku dan media massa, sebagai hal yang penting dan mendasar, selain dimensi kecakapan, dimensi literasi alternatif, serta dimensi budaya.

Dimensi yang masih jauh dari harapan, terutama bagi masyarakat kepulauan seperti di Maluku. Akses terhadap buku bacaan bukanlah perkara gampang. Sekalipun ada perpustakaan dan toko buku, lokasinya mungkin hanya di ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota, yang tentu akan sulit dijangkau oleh mereka yang ada di pelosok atau dari pulau yang berbeda.

Lain hal dengan daerah wilayah daratan yang luas, seperti di Jawa, karena sekalipun tinggal dalam rentang jarak yang jauh dengan perpustakaan dan toko buku, tapi masih relatif mudah menjangkau. Apalagi dengan tersedianya moda transportasi yang memadai. Mobilitas akan cepat dan murah.

Misalnya bila ingin mencari dan membaca buku baru atau koleksi yang langka. Pelajar atau mahasiswa dari Bogor, Tanggerang atau Bekasi, tinggal naik kereta listrik atau Bus Trans Jakarta, duduk manis di gerbong kereta atau bus ber-AC yang nyaman, untuk tiba di Perpustakaan Nasional yang berada di dekat Stasiun Gambir, tepat di depan Monas Jakarta.

Begitu pula dengan warga dari Tulungagung atau Kediri di Jawa Timur, tinggal naik kereta bila hendak meminjam buku ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) atau membeli buku di Surabaya. Berangkat pagi, dan kembali ke rumah sore hari. Sudah bisa mengakses dengan meminjam atau membeli buku yang dibutuhkan.

Tidak hanya itu, Perpusda dan toko buku di berbagai kabupaten dan kota atau daerah-daerah yang relatif ‘maju’ itu juga tersedia, dan bisa pula dengan mudah diakses menggunakan transportasi umum, kendaraan pribadi atau pun jalan kaki. Ya, dengan kata lain negera benar-benar hadir pada mereka.

Pola distribusi buku di Indonesia memang tidak merata. Toko-toko buku yang memadai sangat terkonsentrasi pada kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Semarang. Bahkan jika memperhitungkan daya serap pasar buku di Indonesia, lebih dari 40 persen buku diserap oleh pembaca di wilayah Jabodetabek.

Bandingkan dengan di Maluku. Misalnya bila hendak mengakses perpusataakan atau toko buku, masyarakat dari Leti, Moa dan Lakor untuk ke Tiakur Ibu Kota Kabupaten Maluku Barat Daya, atau dari Wakom, Maikoor dan Rebi ke Dobo Ibu kota Kepulauan Aru, sangat sulit, apalagi hingga harus ke Perpusda Maluku dan toko buku di Ambon, bisa dibayangkan sendiri.

Sebenarnya tak perlu jauh-jauh mencontohkan akses dari wilayah selatan Maluku untuk ke Ambon. Warga dari Buano di Seram Bagian Barat, Banda di Maluku Tengah atau dari Ambalau di Buru Selatan yang jaraknya relatif dekat ke ibu kota provinsi pun, akses masih sulit, mahal dan yang pasti membutuhkan waktu yang lama, karena jadwal transportasi yang kadang tidak menentu.

Kemiskinan dan ketertinggalan lebih memperburuk situasi, sungguh realitas yang mencerminkan persentuhan negara dengan warga negara yang tak sama. Hadirnya negara dalam kehidupan warga negara tergantung di mana warga itu lahir dan dibesarkan. Jika di kawasan timur Indonesia, terutama Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua, siap-siap gigit ujung baju.

Sekalipun saat ini sudah ada buku digital yang bisa diakses lewat internet, tapi semua paham betul, layanan internet masih sulit atau tak tersedia di banyak tempat di kawasan timur Indonesia, hingga ketimpangan semakin lebar, juga mengerdilkan daya saing dan kreativitas. Menjadikan minimnya akses terhadap literasi juga adalah potret ketidakadilan.

Pilihan yang paling tepat adalah perlu ada perlakuan secara khusus atau pendekatan yang lebih responsif dan afirmatif kapada daerah yang akses terhadap buku bacaan masih sangat sulit, terbatas dan mahal. Negara harus hadir dan mengupayakan itu, ketimpangan sejauh ini harus bisa dijawab lewat implementasi kebijakan dan program yang lebih adil dan terukur.

Caranya tentu dengan membuat perpustakaan berbasis kampung, desa atau negeri yang bahkan dilengkapi dengan fasilitas pustaka digital yang dapat diakses melalui internet yang telah disediakan. Termasuk mewajibkan membaca buku bagi anak-anak di jam-jam tertentu. Tanpa itu jangan berharap ada lompatan yang signifikan dalam memperpendek jarak ketertinggalan indeks pembagunan manusia, khususnya yang hidup di kawasan timur Indonesia.

Kebiasaan atau budaya literasi sangat terkait dengan akses dan ketersediaan bahan bacaan, untuk itu negara harus hadir, disokong masyarakat sipil. Bila tidak, akan sulit untuk lahir generasi hebat dengan pandangan yang jauh melampaui zaman. Sulit rasanya menemukan generasi muda yang produktif dan kreatif, aktivis yang progresif, wakil rakyat aspiratif, hingga pemimpin yang visioner bila tak tumbuh dalam budaya literasi yang kuat.

#catatanputratimur

Penulis: Ikhsan Tualeka
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!