Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Herry Maitimu, Raja Kelas Layang Indonesia asal Maluku yang “Dikepung” Sesama Petinju Maluku

Herry Maitimu kini masih tetap bergelut dengan ring tinju sebagai pelatih di Jambi. -dokumen pribadi-

LAHIR di Ambon pada 8 Maret 1957, siapa sangka remaja kawasan Batumeja asal Negeri Ema Kota Ambon yang berpostur "kacupeng" alias mungil ini, akhirnya jadi salah satu legenda tinju amatir Indonesia di kelas layang 48 kg.

Nyong itu adalah Herry Maitimu. Dia merupakan satu dari skuat tinju Maluku yang merajai berbagai arena tinju nasional dan internasional. Herry dkk pernah dijuluki "the dream team" di arena tinju amatir Indonesia pada masa 1970 an hingga 1980 an.

Tim tinju Maluku era itu diperkuat Herry Maitimu (layang), Ellyas Pical (terbang), Charles Thomas (bantam), Lutfy Mual (bulu), Noche Thomas (ringan), Jeffry Manusama (welter ringan), Max Auty (welter), Polly Pesireron (menengah ringan), Wiem Gomies (menengah), dan Beni Keliombar (berat ringan).

Dari mereka inilah tambang medali emas, perak dan perunggu sudah jaminan untuk Maluku, baik di even Kejurnas, Sarung Tinju Emas (STE) hingga PON. Prestasi fenomenal Herry Maitimu dkk terjadi di ring tinju PON X 1981 di Jakarta. Saat itu 7 medali emas sukses diraih kontingen Maluku dari 10 petinju, tiga sisanya meraih perak dan perunggu.

"Itu kenangan paling manis, bersejarah. Karena katong (kita, red) kontingen Maluku loloskan 8 petinju ke final dari 10 orang yang ikut PON. Tujuh diantaranya medali emas. Sisanya perak dan perunggu," ungkap Herry yang dihubungi satumaluku.id di Jambi via saluran Whatsapp nya, Jumat (24/7/2020).

Herry mengawali arena tinju sejak masa remaja di kawasan tempat tinggalnya yang dulu ada sasana Batumeja Boxing Camp (BBC) pada tahun 1974-1975. Jaman itu di Ambon terdapat banyak sasana tinju selain BBC, juga Mercury di Batugajah, Pari/Garuda Pattimura asuhan pelatih legendaris Teddy Van Room di Belakang Soya, Bara Sakti di Perigi Lima, Imanuel di Air Mata Cina, Pela di OSM, Benteng, Lateri dan lainnya.

Herry Maitimu (kiri) saat mengalahkan Agus Souisa dari Papua pada Kejurnas 1978 di Manado. -dokumen pribadi-

Si "kacupeng" mengenal tinju sejak masih duduk di bangku SMP Kristen Ambon dari kakaknya John Maitimu dan juga lingkungan kawasan tinggalnya di Batumeja. Tepatnya di sasana BBC yang berlokasi di kintal keluarga "dinasti" Gomies, samping Polda Maluku saat ini.

"Beta awalnya latihan tinju hanya ikut-ikutan saudara. Tidak naik bertanding di ring. Suatu hari beta nonton para petinju sasana BBC di keluarga Gomies latihan. Ada petinju nama Chaka Tomasoa, bilang beta panaku (penakut). Karena cuma bisa latihan tanpa bertanding dan jadi penonton saja. Dari situlah beta latihan resmi dengan senior seperti Tolly Gomies, Uche Gomies, Henk Latuheru, John Maitimu dan lainnya," kisahnya.

Setelah berlatih rutin. Herry mengaku meski masih berusia 17 tahun dirinya langsung naik ring di kategori senior. "Beta tidak pernah main di kategori yunior. Langsung di kelas layang senior," katanya. Ia awali kiprahnya saat menjuarai kelas layang atau kini disebut terbang yunior pada Kejurda Tinju Kota Ambon 1976. Even itu untuk seleksi tim tinju Kota Ambon ke PORDA di Ternate. Hasilnya, dia ke final ketemu petinju tuan rumah, Donald Patras. Lawannya itu tinggi jangkung. Kesannya dia meremehkan Herry yang berpostur kecil.

"Dia pikir pasti menang. Karena dia tinggi, beta kecil. Makanya sejak ronde pertama beta mepet dia dan berondong pukulan. Akhirnya dia kesulitan lepaskan pukulan dan hasilnya beta menang telak. Dari situ beta terpilih masuk tim tinju Maluku untuk kejuaraan STE 1976 di Ambon," tutur suami dari Ully Hutauruk dan papa dari Glen Maitimu.

Usai juara di Ternate. Pada even bergengsi STE II (golden gloves) 1976 di Sporthall Karpan Ambon, sebagai wajah baru di ring tinju nasional Herry tampil luar biasa, mengejutkan banyak kalangan. Langkahnya mulus sampai ke final dan melawan petinju pengalaman asal Maluku yang bela DKI Jaya, Ronny Sarimole. Herry menang dan merebut medali emas pertama even nasionalnya sekaligus diberi gelar petinju terbaik (the best boxer) saat itu.

Dari arena STE II di Ambon inilah Herry mulai "bertahta" sebagai raja kelas layang nasional Indonesia. Semua kejuaraan "dilahapnya". Herry bertahta kuasai kelas layang sangat lama, lebih dari 15 tahun. Namun demikian bukan berarti tak ada persaingan. Justru di kelasnya itu terjadi kompetisi yang ketat. Juga ada keunikan tersendiri.

Herry Maitimu bersama piala petinju terbaik (the best boxer) pada turnamen tinju internasional President Cup 1980 di Jakarta. -dokumen website-

Apa itu? Faktanya Lawan berat Herry yang ingin merebut "tahta" raja kelas layang Indonesia darinya di jaman itu, adalah petinju pengalaman berdarah Maluku yang bela provinsi lain. Misalnya Ucok Tanamal (Sumut), Ronny Sarimole (DKI Jaya), Frans Batuwael (Jabar), Agus Souisa (Papua) dan Azhadin Anhar (Aceh). Bahkan saat dekati undur diri dan tidak muda lagi, lawan beratnya petinju muda yang lagi menanjak justru dari Maluku yakni Hamdani Tomagola.

"Karier beta agak unik. Karena lawan berat malah petinju berdarah Maluku yang main di luar. Ada Ucok, Ronny, Frans, Agus. Malah Azhadin dari Aceh itu ibunya keturunan Maluku. Lalu muncul Agus Titaley sesama anak Batumeja tapi belum sempat main sama dia. Nah, sebelum undur diri, beta main lawan petinju muda Hamdani Tomagola. Beta bela Jambi saat itu. Kalau tak salah di semifinal Kejurnas atau PON. Teman-teman Ambon bilang, sudahlah Her, mengalah jua untuk adik-adik. Beta serba salah. Lantas bilang, sportif saja supaya fair. Kalau beta menang syukur, dia menang juga syukur. Akhirnya beta yang menang ha ha ha," kisah Herry, tertawa mengenangnya.

Herry bukan asal merajai kelas layang Indonesia hanya karena raih medali emas. Tetapi juga sering meraih gelar bergengsi lainnya. Prestasi seabreknya dimulai dari STE II 1976 di Ambon, Kejurnas setiap tahun dia juarai, hingga empat kali medali emas multi even PON yakni 1977 dan 1981 emas untuk Maluku serta 1985 dan 1989 buat Jambi.

Dia juga dinobatkan sebagai petinju terbaik (the best boxer) di STE 1976 di Ambon dan STE 1978 di Padang serta Kejurnas 1978 di Bandung, Kejurnas 1985 di Lampung dan Kejurnas 1988 di Jambi rebut emas sekaligus jadi petinju favorit.

"Beta sudah lupa berapa kali meraih juara. Yang pasti kebanyakan medali emasnya, dibanding perak atau perunggu baik untuk Maluku maupun Jambi dan Indonesia," ungkap Herry, sambil teringat pelatih legendaris Maluku Teddy Van Room dan Otje Tehupeiory serta pembina tinju Hadi Budoyo yang tangani dia dkk selama membela tanah kelahirannya.

Sementara di level arena internasional, Herry akui di kelasnya itu untuk pertarungan tinju anatir di dunia, didominasi petinju-petinju Asia terutama dari Korea, Jepang, Thailand, Filipina dan lainnya. Akibatnya persaingan sangat ketat. Hal ini membuat langkah Herry kurang cemerlang di even resmi seperti SEA Games dan Asian Games.

"Di SEA Ganes beberapa kali ikut hanya dapat perak dan perunggu. Kalau Asian Games dua kali beta ikut, di Bangkok 1978 dan di India 1982 hanya sampai delapan besar. Waktu di Bangkok saat Wiem Gomies menang di final dan raih emas keduanya di Asian Games, beta bersorak tanpa sadar loncat naik ring," beber Herry., tertawa.

Herry Maitimu (kiri) bersama istri dan anaknya. -dokumen pribadi-

Meski gagal merebut emas di dua multi even tetsebut. Namun dalam kejuaraan lain Herry sukses emas bahkan memperoleh gelar petinju terbaik. Diantaranya raih emas di ASEAN Cup 1986 di Singapura dan pada turnamen tinju internasional bergengsi President Cup di Jakarta, Herry sudah empat kali tampil di final dengan hasil merebut dua medali emas dan dua perak. Serta dua kali juga dinobatkan sebagai the best boxer yaitu tahun 1980 dan 1982.

"Di President Cup ada pengalaman menarik. Waktu final lawan petinju Uni Soviet (Rusia, red) Samil Shabirov ramai dan berimbang. Mestinya beta yang menang. Tapi wasit putuskan lawan menang karena lebih agresif. Kenangan lain tahun 1980 even ini juga, petinju Maluku wakili negara atas nama tim Indonesia Merah. Saat itu beta dan Ellyas Pical rebut emas, juga Elly terpilih sebagai petinju terbaik," ungkapnya.

Atas prestasi petinju-petinju Maluku di tim Indonesia Merah pada President Cup tersebut, PB Pertina lantas mengirimkan tim tinju Maluku ikut kejuaraan di Jerman dan Rumania.

"Itu penghargaan atas prestasi kita bela negara. Di Jerman dan Rumania beta peroleh medali perunggu," jelas Herry, yang hengkang dari Pertina Maluku untuk gabung ke Pertina Jambi tahun 1983 karena diangkat jadi karyawan PDAM Tirta Mayang Jambi.

Prestasi internasional lain yang masih diingatnya yakni medali perak Kejuaraan Tinju Asia 1977 di Jakarta (kalah dari petinju Jepang), perunggu SEA Ganes 1981 di Manila, perak pada Pesta Sukan 1985 di Brunei, perak pada ASEAN Cup di Kualalumpur dan perunggu di Bangkok. "Sudah lama. Jadi kurang ingat lagi," katanya.

Herry memilih mengakhiri karier panjangnya di dunia tinju amatir pada tahun 1989. Yaitu setelah dia masih mampu merebut medali emas di arena PON XII di Jakarta. Akhir yang manis tentunya bagi Herry. Lantaran saat masih muda kandaskan para petinju senior. Sebaliknya ketika sudah senior masih mampu taklukkan atlet-atlet muda potensial.

Usai gantung sarung tinju. Herry yang kerja di PDAM Jambi itu, tetap mengabdi di dunia tinju sebagai pelatih Pertina Jambi. Ia juga sempat menjadi pelatih tim tinju Indonesia di Pelatnas. Belakangan Herry malah juga berkecimpung sebagai pelatih Wushu Jambi. Kok bisa?

"Yah. Olahraga wushu kan butuh kelincahan kaki dan fisik. Beta diminta bantu latih juga untuk atletnya," jelas Herry, yang akui anaknya lebih suka basket dan sepakbola seperti istrinya yang mantan pemain sepakbola putri.

Meski sudah menetap di Jambi. Satu harapan Herry untuk tanah asalnya. Yaitu berharap prestasi tinju Maluku bisa bangkit berjaya kembali untuk Indonesia.

"Potensi petinju dan pelatih baik kan banyak di sana. Ayo bangkit dong. Seperti jaman kami, petinju daerah lain sudah grogi kalau tarik undian ketemu Maluku. Intinya itu di pembinaan rutin, berlatih keras dan disiplin serta ada kejuaraan," tutur Herry, yang ingin ada even Kejurnas atau STE di Ambon lagi.

"Yah mungkin beta bisa datang sekalian ketemu keluarga dan reuni dengan para mantan petinju nasional jaman beta yang masih menetap di Ambon," tambah mantan pelatih Pelatnas SEA Games XXIII/ Filipina 2005 ini.

Prestasi dan jasa Herry Maitimu yang begitu banyak untuk Indonesia, akhirnya dihargai saat dirinya sudah tua dan menjadi pelatih. Yakni pada tahun 2007 dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat melalui Menpora periode itu, Adhyaksa Dault, berupa sebuah unit rumah di Jambi.

Dangke banyak Herry Maitimu. Si "kacupeng" alias tubuh kecil, namun prestasi dan jasa mu besar untuk negeri ini. Ale raja tanpa istana. Tetap dikenang sang legenda. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!