Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Max Auty, Dari Sepakbola Hingga Emas Tinju SEA Games 1981 dan Sopir Taksi di Ambon

Foto: Dok pribadi Max Auty saat ini di usia 64 tahun. Masih terlihat sehat dan bugar.

BANYAK warga Ambon yang sering memakai jasa angkutan taksi privat di sekitar kawasan SMP 4 dan jalan Said Perintah Pardeis, mungkin pernah menggunakan jasanya sebagai sopir taksi pangkalan tersebut. Namun tidak tahu siapa sebenarnya sang sopir itu di masa mudanya.

Berpostur cukup tinggi dan berbadan besar, karakternya tenang, tidak suka banyak bicara. Dibalik ketenangan dan sikap rendah hati itu. Ternyata dalam hal prestasi di olahraga tinju alias baku pukul di tahun 1970 an hingga 1980 an, figur ini adalah salah satu pahlawan olahraga Indonesia pada arena SEA Games 1981 di Manila, Filipina.

Dia lah Max Auty. Laki laki berdarah Ambon dan Papua ini lahir di Piru, Seram Bagian Barat, pada 3 Maret 1956 adalah anak dari Yance Auty dan Mince Pattiwalapia. Dia beristrikan Sien Molle dan mempunyai dua anak.

Max adalah salah satu penyumbang medali emas kontingen Indonesia pada kelas welter 67 kg di arena tinju SEA Games 1981 Manila. Selain Max, emas tinju juga direbut petinju kelas berat Lodewyk Akwan, asal Papua.

"Waktu itu. Indonesia loloskan lima petinju ke final. Diantaranya beta dan Wiem Gomies (Maluku), Erwinsyah (Sumut), Adi Swandana (Bali) dan Lodewyk Akwan (Papua). Di semifinal beta kalahkan Filipina dan di final menang atas Thailand," cerita Max, kenang momen emas itu kepada satumaluku.id saat bincang-bincang, Sabtu (18/7/2020).

Menurut Max, itulah kenangan paling manis dalam karier tinjunya. "Beta sempat terharu, bangga, saat pengalungan medali juara diikuti penaikkan bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya," ungkapnya.

Foto kiri: Max Auty bersama Ellyas Pical dan foto kanan; saat bertanding di final PON 1985 di Jakarta, didampingi pelatih tinju Maluku Otje Tehupeiory. (Dok Pribadi)

Kebanggaannya waktu itu juga lantaran di tim tinju SEA Games 1981 Manila, terdapat enam petinju Maluku dari 11 kelas yang dipertandingkan. Selain dirinya, lima lain adalah Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Polly Pesireron dan Wiem Gomies.

"Beta emas. Wiem Gomies raih perak. Sedangkan Herry, Elly, Charles dan Polly meraih perunggu. Kita sudah seperti saudara sendiri di Pelatnas. Hingga latihan persiapan di Rumania dan Jerman, kita selalu bersama. Rasanya seperti tim tinju Maluku ikut PON saja," tutur Max, tersenyum ingat era itu.

Ada kisah menarik tentang pertama kalinya Max berlatih tinju. Apa itu? Ternyata dia mengenal olahraga pertama kali bukanlah tinju. Tapi sepakbola. Loh kok bisa. Bagaimana ceritanya?

"Beta sejak remaja sudah hobi main sepakbola, bukan tinju. Malah beta waktu itu jadi kiper (penjaga gawang) di klub anak-anak Benteng. Sudah sering bertanding. Namun beta papa yang minta berhenti main bola kaki dan saran untuk berlatih tinju saja," kisahnya.

Apa alasan papa nya? Max katakan, orang tua nya selain seorang tentara, memang juga adalah seorang petinju. "Papa itu tentara sekaligus juga petinju. Nah, antua (beliau, red) kasihan lihat beta harus buang badan kiri kanan untuk tangkap dan halau bola supaya jangan masuk gawang. Antua juga pikir jadi petinju untuk ikut jejaknya dan Maluku lebih berprestasi di tinju," beber Max, tertawa kenang kemauan papa nya.

Max awalnya menolak saran orang tua nya. Dia tetap bermain bola kaki. Namun kemudian setuju latihan tinju tapi beri persyaratan kepada ayahnya. "Beta minta sepatu tinju bagus ada, baru mau berlatih tinju. Beta seng sangka, suatu hari papa ajak ke toko untuk beli sepatu tinju merek terkenal. Dari situ beta stop bola kaki lalu masuk sasana tinju," jelasnya, dengan dialek Ambon.

Dia kemudian awali latihan tinju pada sasana "Pela" di kawasan OSM Ambon sekitar tahun 1976. Pelatihnya waktu itu bernama Luck Wairisal. Lantas naik ring pertamanya di arena tinju Pasar Malam yang dulu berlokasi di kawasan Belakang Kota, dekat Benteng Victoria. "Beta masih ingat. Waktu itu menang lawan petinju marga Salakory," ujarnya.

Potensi dan bakat Max membuatnya dipantau tim pelatih Pertina Ambon. Dia kemudian direkrut masuk tim tinju Kota Ambon untuk ikut Kejurda dan jadi juara. Dari situ dirinya lantas masuk tim tinju Maluku dan pindah berlatih di sasana Garuda Pattimura asuhan pelatih legendaris Teddy Van Room dan Otje Tehupeiory.

Max akui untuk kelasnya welter saat mulai mewakili Maluku di even nasional, sebagai petinju baru dia harus bersaing ketat dengan lawan-lawan yang sudah berpengalaman seperti Koko Pangaribuan (Jatim), Alfonso Sihombing (DKI), Franky Simangunsong (Sumut), Minarto (Lampung), Rahman Boga (Aceh) dan Erwin Tobing (DKI).

"Beta pendatang baru di level nasional waktu itu. Mereka sudah pengalaman dan sering juara. Namun pelan tapi pasti, akhirnya kami saling mengalahkan. Puncaknya di Kejurnas sekaligus Pra PON 1981 di Makassar, beta tampil sebagai juara untuk pertama kalinya usai kalahkan Minarto di final," jelasnya.

(Foto kiri) Max Auty usai upacara pengalungan medali emas tinja kelas welter Sea Games 1981 di Manila, Filipina. Foto kanan: Max Auty bersama pelatih tim tinju Indonesia Henry Nanlohy saat bertanding di final arena Sea Games 1981 di Manila, Filipina.

Sukses di Kejurnas. Nama Max Auty mulai terangkat dan disegani. Hoki juara kembali berlanjut tahun yang sama di arena tinju PON X Jakarta. Medali emas dipersembahkan untuk Maluku setelah kalahkan Rahman Boga di final. Dia lantas direkrut masuk Pelatnas SEA Games 1981 di Manila. Itu pun setelah dalam seleksi menang dari Koko Pangaribuan.

Bagi Max, arena tinju PON X 1981 adalah momen fenomenal tinju di even bergengsi tersebut. Pasalnya, dari 11 kelas yang dipertandingkan, kontingen Maluku panen medali emas. Kala itu, Maluku merebut 7 medali emas atas nama Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Noche Thomas, Max Auty, Polly Pesireron dan Wiem Gomies. Sedangkan Beni Keliombar, Lutfy Mual dan Jeffry Manusama berhasil meraih perak dan perunggu.

"Waktu itu belum ada kategori tinju perempuan, masih laki laki saja. Dengan tujuh emas tinju, peringkat umum Maluku di PON X 1981 langsung naik ke 10 Besar, karena panen medali tinju tambah atletik juga," kisah Max. Di jaman tersebut, memang dua pelari jarak menengah dan jauh Maluku, Merry Manuhutu dan Helena Musila berada di masa kejayaan mereka.

Tahun berjalan. Max terus eksis di kelas welter nasional. Prestasi emas nya kembali dia persembahkan untuk kedua kalinya bagi kontingen Maluku pada arena tinju PON XII 1985 di Jakarta. "Di final tinju PON XI beta kalahkan Erwin Tobing dari DKI. Itu emas kedua beta untuk Maluku di PON," ujarnya.

Setelah itu, Max juga juarai Sarung Tinju Emas (STE) di Manado 1986. Namun saat itu dia sudah naik ke kelas menengah ringan 71 kg gantikan posisi Polly Pesireron yang pindah ke jalur tinju pro. Kelas yang sama dia main di President Cup 1986.

Prestasi internasional Max Auty selain juara SEA Games 1981 di Manila, ikut Pesta Sukan di Singapura meraih medali perak. Max juga tiga kali memperkuat tim Indonesia di turnamen Presiden Cup di Jakarta. Hasilnya dia peroleh 1 medali perak dan 2 perunggu. "Lawan yang beta masih ingat yaitu petinju Belanda kalahkan beta di semifinal dan dari Australia di final tahun 1986," katanya.

Karena telah melewati usia emasnya. Max kemudian gantung sarung tinju usai bertanding di STE dan President Cup 1986. "Beta istirahat habis ikut dua kejuaraan itu. Beta sudah berumur 30 an tahun ketika undur diri," ungkapnya.

Pasca istirahat dari ring tinju. Max memilih profesi sopir taksi intuk menopang hidupnya dan keluarganya. Tidak kah Max diangkat jadi pegawai seperti rekan lainnya? "Jaman walikota pak Dicky Wattimena. Memang banyak teman petinju diangkat jadi pegawai Pemkot Ambon. Hanya saja saat itu beta lagi ke Papua," tuturnya, seraya akui selama main bola kaki dan tinju dirinya tidak melanjutkan sekolah sampai SMA selesai.

"Kalau soal sopir. Beta sejak muda memang sudah bergaul dengan sopir angkot dan juga bawa angkot jurusan Airsalobar. Setelah stop tinju. Beta pilih bawa mobil pangkalan taksi," cerita Max.

Cukup lama dia menjadi sopir taksi milik orang lain. Namun pada pertengahan tahun 2000 an, sebagai juara tinju SEA Games 1981 Max dapat bantuan hari tua dari Menpora sebagai penghargaan untuk prestasinya bagi Indonesia sebesar Rp 100 juta. "Uang itu beta kredit mobil dan jadikan taksi milik sendiri. Itulah salah satu hasil beta dari tinju untuk masa depan," beber Max.

Dia tidak menyesali jalan hidupnya. Namun Max bangga pernah beri sumbangsih untuk Maluku dan juga bangsa Indonesia tercinta. "Medali medali dan penghargaan itulah kebanggaan beta kalau melihatnya di rumah," katanya, tertawa kecil.

Pengalaman dan dinamika hidupnya yang panjang. Tidak ingin ditularkan pada anaknya. Apalagi satu anak perempuannya yakni Mariska Auty sangat berminat jadi petinju. "Dia bilang mau jadi petinju. Gerakan tubuhnya bagus untuk tinju. Beta bilang dia kalau sekedar hobi tidak apa-apa. Tapi beta tidak mau dia naik ring. Beta minta dia konsen sekolah dan usahakan selesai sampai sarjana," harap Max.

Satu asa Max. Semoga tinju amatir Maluku dan Indonesia bangkit lagi. Pernah berjaya di level nasional dan internasional. "Itu harapan beta. Sekalian dangke bung. Sudah ngobrol tentang karier dan prestasi di tinju. Beta jadi ingat dulu dulu," kata Max, tersenyum lebar.

Ok Max. Prestasi dan kontribusi setia mu untuk Maluku, untuk Indonesia Raya. Telah dicatat dalam sejarah bangsa. "Ale pung jasa seng akan dilupakan. Tetap dikenang'. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!