Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Nico Thomas, Satu dari “Dinasti” Tinju Maluku yang Jadi Juara Dunia Pro

Dokumen Legenda Tinju asal Maluku Nico Thomas setelah gantung sarung tinju menjadi pelatih.

DUNIA tinju Indonesia khususnya Maluku, pernah miliki "dinasti" dalam olahraga baku pukul tersebut. Sebut saja seperti Gomies, Thomas, Van Room, Pesireron, Keliombar, Papilaya dan lainnya. Di level nasional juga kita kenal "dinasti" Bahari di Bali, Rambing di Jawa Tengah dan di beberapa provinsi lain.

Beta pakai istilah "dinasti" karena bukan saja kebetulan satu marga. Namun mereka adalah pelatih maupun petinju yang bersaudara atau generasi yang geluti tinju. Bahkan diantaranya ada yang anaknya juga atlet di olahraga keras ini.

Dalam catatan beta. "Dinasti" tinju Maluku bahkan Indonesia yang paling banyak anggotanya yaitu marga Thomas. Uniknya semua petinju marga ini kakak adik. Prestasi mereka pun mentereng. Mulai dari level daerah, nasional, internasional hingga juara dunia pun sudah diraih untuk negara.

Sebut saja nama-nama yang top di kelasnya masing-masing pada era nya. Yakni Nyong Thomas, Noche Thomas, Charles Thomas, Alex Thomas hingga Nico Thomas dan lainnya. Tiga diantaranya yaitu Noche, Charles dan Nico yang lebih populer. Ketiga nya mantan petinju nasional dan penyumbang medali tetap untuk Maluku di Kejurnas dan PON serta langganan skuat tim Indonesia.

Dari "dinasti" tersebut hanya Nicholas alias Nico Thomas yang dari tinju amatir hijrah ke jalur tinju profesional. Di tinju amatir dia punya seabrek prestasi mulai dari level yunior hingga senior. Dia sukses juara Kejurnas Yunior 1983 dan setahun kemudian 1984 juara senior kelas layang ringan 45 kg.

Namun Nico punya kesialan di arena PON 1985. Lolos hingga semifinal namun tim medis larang bertanding karena luka di pelipisnya. Dia akhirnya hanya peroleh medali perunggu untuk Maluku. Tetapi saat seleksi petinju untuk SEA Games di Bangkok 1985, justru Nico yang terpilih di kelasnya. Di SEA Games itu Nico sumbang medali perak untuk kontingen Indonesia. Setahun kemudian pada turnamen tinju internasional President Cup 1986 di Jakarta berhasil merebut medali emas.

"Beta dilatih pertama kali oleh kakak sendiri, Nyong Thomas. Naik ring diawali pada Kejurda Maluku 1982. Saat itu beta langsung juara dan sekaligus terpilih jadi petinju terbaik. Kemudian berbagai kejuaraan beta juara lagi. Lalu mulai berlatih di sasana Teddy Van Room di Belakang Soya," ungkap Nico yang kini bermukim di Jakarta via whatsapp, Rabu (15/7/2020).

Nico Thomas lahir di Ambon 10 Juni 1966 dari pasangan Julianus dan Helena Thomas. Dia alumni SMP Negeri 3 Ambon dan Sekolah Guru Olahraga (SGO) Ambon. Beristrikan Farida Ade Yani dan mempunyai tiga anak. KeluargaThomas dikenal sebagai keluarga petinju dan menetap di Lorong Mayang kawasan Trikora Ambon.

Kariernya di tinju amatir nasional berakhir manis tahun 1986 usai menjuarai kejuaraan internasional bergengsi President Cup. "Itu prestasi terakhir beta di amatir. Setelah itu beta pindah ke Jakarta dan masuk tinju prof. Beta diajak oleh pak Tinton Suprapto bergabung dengan sasana Arseto Tonsco. Pelatih beta di tinju prof adalah Charles Thomas. Itu beta kakak kandung juga," ungkap Nico.

Menurutnya, selama berkarier di tinju amatir. Ada hal yang sampai saat ini mengecewakan nya. Apa itu? "Kecewa karena kelas 45 kg tidak ada di Asian Games dan Olimpiade. Jad, beta tidak rasakan persaingan di dua arena itu sampai pindah ke tinju prof," ujarnya.

Debut sebagai petinju profesional nya dilakukan pada 3 November 1986 pada kelas terbang mini di Kota Malang. Ia melawan Hudi petinju asal sasana Gajayana Malang. "Beta menang. Dari situ kemudian tidak lama jadi juara Indonesia," kisahnya.

Momen saat Nico Thomas dinyatakan sebagai pemenang dan meraih gelar juara dunia tinju prof di kelas terbang mini IBF. Dia didampingi pelatih yang juga kakak kandungnya, Charles Thomas. -dokumen-

Kariernya di tinju prof terus melejit. Ia kemudian meraih gelar OPBF (Asia Pasifik). Cukup lama ia pertahankan gelar tersebut. "Bung masih ingat? Beta pernah pertahankan gelar OPBF di tanah kelahiran, Kota Ambon. Saat itu lawan petinju Korea Selatan," ingat Nico.

Kiprahnya di tinju prof makin hoki di tangan pelatih kakak nya sendiri Charles Thomas dan pembina Tinton Suprapto. Nico akhirnya mendapat kesempatan untuk mencoba merebut gelar juara dunia kelas terbang mini versi IBF, pada 24 Maret 1989 di Bangkok Thailand. Juaranya waktu itu petinju tuan rumah, Samuth Sithinaruepol.

Pertarungan keduanya berjalan ramai. Nico tidak gentar. Meskipun sang juara didukung penonton. Nico bertanding luar biasa. Peluh keringat bahkan ceceran darah tumpah di wajahnya. Hingga ronde 12, Nico dan sang juara baku pukul tak henti.

Ronde berakhir. Ia yakin akan dinyatakan menang sekaligus rebut juara dunia. Tetapi Nico harus kecewa. Pendam amarah. Hasil pertarungan itu tak ada pemenang alias draw, sama kuat. Karenanya gelar juara dunia tetap dipegang petinju Thailand itu.

Kesempatan rebut juara dunia sirna. Hanya karena keputusan kontroversial tersebut. "Mestinya beta sudah rebut juara dunia saat itu. Hasilnya draw, sangat kontroversial," katanya.

Nico pun menyimpan dendam. Kubu nya beberapa waktu kemudian mengajukan pertarungan ulang, revans. Kali ini diminta pertarungan ulang dilakukan di Jakarta. Istora Senayan dipilih sebagai tempat perebutan partai revans tersebut.

Impian nya bertarung ulang terwujud. Tiga bulan sejak hasil seri tersebut. IBF pun tetapkan jadwal tarung ulang 17 Juni 1989 di Jakarta. Peluang balas dendam pun tercapai. Ia berlatih keras dan disiplin dibawah bimbingan kakaknya. Porsi latihan fisik dan teknik ditambah.

Atmosfir pertarungan penuh aroma dendam atas keputusan pertarungan pertama yang kontroversial. Nico masuk Istora Senayan dengan pakaian khas Maluku. Diiringi tifa dan tarian cakalele. Pertarungan 12 ronde itu terjadi fight to fight sepanjang ronde. Baik Nico dan petinju Thailand tetap tangguh, ngotot hingga bel ronde terakhir tidak ada yang mengalah.

Keputusan akhir ada pada tiga hakim pertarungan tersebut. Bagaimana keputusan hakim ketika itu ? Nico dan Samuth Sithnaurepol pun menanti. Tiga hakim yang bertugas akhirnya memutuskan Nico yang dinyatakan menang angka dan otomatis merebut gelar juara dunia dari lawannya. Balas dendam Nico pun terbayar tuntas.

Pasalnya, hakim Luis Race (Hawaii) dan Alec Villacampo (Filipina) sama-sama memberikan nilai 115-111, sedangkan hakim asal Jepang Hideo Arai berikan nilai 119-108 untuk Nico. Gelar juara dunia tinju kelas terbang mini versi IBF pun menjadi miliknya pada usia 23 tahun.

Dia menjadi juara dunia kedua untuk Indonesia pasca seniornya sesama petinju Maluku, Ellyas Pical, merebutnya pada Mei 1985 di kelas bantam junior dengan memukul KO petinju Korsel, Ju Do Chun. "Puji syukur. Hasil kerja keras dan disiplin membuahkan hasil. Beta dedikasikan untuk bangsa tetcinta," ungkap Nico, kenang masa itu.

Sayangnya. Gelar bergengsi itu tidak bertahan lama digenggam nya. Karena Nico kemudian kalah dari Eric Chavez (Philipina) saat hendak mempertahankan gelarnya itu di Jakarta pada 21 September 1989. "Beta terlalu percaya diri. Jadi kecolongan," katanya soal kekalahan tersebut.

Atas prestasinya di tinju amatir dan profesional untuk Indonesia, Nico pada bulan Juni 2007 mendapatkan penghargaan dari pemerintah melalui Menpora waktu itu, Adhyaksa Dault, berupa satu unit rumah. "Harusnya petinju sekarang berprestasi dunia. Sebab fasilitas dan perhatian pemerintah sangat baik. Beda dengan era dulu," ucapnya.

Lalu apa profesi Nico sekarang? Ternyata dia masih tetap menggeluti dunia tinju sebagai pelatih di salah satu sasana tinju di Tangerang, Banten dan juga jadi pelatih tinju privat.

"Beta tetap di dunia tinju bung. Kini beta jadi pelatih setelah undur diri pada 15 April 2006. Beta 10 tahun bertahan di tinju prof. Aktifitas setiap hari sekarang, ya melatih baik di sasana maupun privat. Latihan privat ini tergantung permintaan yang berminat he he," jelas Nico, tertawa. Seraya mengatakan anaknya tidak berminat di tinju.

Meski sudah menetap di Jakarta. Nico masih berharap prestasi tinju Maluku bangkit lagi seperti di era para seniornya maupun di jamannya. "Bung beta masih ingat di PON 1981, Maluku nyaris sapu bersih medali emas dari 12 kelas. Juga perak perunggu pun diperoleh," tutur Nico mengingat masa kejayaan Maluku.

Ya. Kala Itu Maluku diperkuat juara-juara nasional dan SEA Games bahkan Asian Games di kelasnya masing-masing yaitu Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Lutfy Mual, Noche Thomas, Jeffry Manusama, Max Auty, Polly Pesireron, Wiem Gomies dan Beni Keliombar.

Harapan kita semua sama. Demi kontribusi untuk Indonesia tercinta. Dangke Nico untuk prestasi dan pengabdianmu yang akan tetap dikenang. Tercatat dalam lembaran sejarah olahraga negeri ini. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!