Sekilas Info

OPINI

Covid 19 dan Dampaknya

satumalukuID/Pixabay.com Ilustrasi berdiam diri di rumah.

Butterfly effect atau efek kupu-kupu disebut sebagai istilah yang menggambarkan bahwa satu aksi kecil mampu memberikan dampak yang begitu besar, bahkan tidak terduga. Semenjak kasus pertama yang muncul di Wuhan, China, Covid-19 kini sudah menyebar ke hampir seluruh negara di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya berdampak pada segi kesehatan, pandemi Covid-19 kini sudah berdampak signifikan pada perekonomian sampai dengan lingkungan.

Berani hidup berdampingan dengan Covid-19 tentu merupakan langkah yang sangat riskan, yang diambil oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kita harus mampu hidup berdamai dengan Covid-19, sampai nantinya vaksin ditemukan. Jumlah penambahan kasus yang masih saja tinggi dianggap tidak bisa terus menahan berputarnya roda perekonomian Indonesia.

Terhitung sampai dengan saat ini, angka terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sudah melebihi angka 70 ribu jiwa, dengan korban meninggal mencapai lebih dari 3.000 jiwa, dan yang dinyatakan sembuh mencapai lebih dari 36 ribu jiwa. Jawa Timur kini menjadi provinsi dengan kasus tertinggi. Sekitar 21,9 persen kasus yang terjadi di Indonesia berasal dari provinsi ini.

Dibandingkan negara tetangganya, dengan jumlah kasus terkonfirmasi sebanyak lebih dari 46 ribu orang, korban meninggal di Singapura tak melebihi angka 50 orang. Sangat jauh berbeda signifikan memang. Banyak hal yang tentunya bisa menjadi faktor penyebab tingginya jumlah korban jiwa dari pandemi ini.

Faktor tenaga dan peralatan medis bisa dijadikan sebagai salah satu penyebab tinggi atau rendahnya jumlah korban jiwa tersebut. Terbatasnya jumlah tenaga medis ternyata memang tidak mampu mengimbangi jumlah korban yang terus bertambah. Terbatasnya fasilitas medis juga menambah deretan masalah tersebut.

Di Maluku sendiri, kasus Covid 19 yang terkonfirmasi tercatat kini mencapai 900 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 17 orang. Jumlah ini berada di posisi 16 tertinggi, di bawah provinsi tetangganya, Maluku Utara.

Salah satu usaha yang dihimbau oleh pemerintah kepada masyarakat adalah untuk melakukan aktivitas di rumah saja, mulai dari bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, hingga beribadah di rumah.  Semua kegiatan dipaksa mengikuti perkembangan kecanggihan teknologi dan dilakukan secara online.

Semakin banyaknya aktivitas yang dihabiskan masyarakat Indonesia di rumah faktanya berbanding lurus dengan aktivitas belanja online yang dilakukan. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah barang yang terjual di e-commerce menunjukkan tren meningkat, dimana makanan dan minuman menjadi jenis barang dengan penjualan tertinggi.

BPS juga mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2020 adalah sebesar 2,97 persen. Angka ini terbilang cukup baik di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini jika dibandingkan dengan beberapa Negara lain, seperti Tiongkok, Thailand, Singapura hingga Jepang yang mencatatkan pertumbuhan ekonominya di angka negatif.

Kita boleh berbangga hati, tapi tentu tak boleh terlarut dalam kondisi ini. Jumlah korban yang masih terus saja bertambah tentu membuat kita harus semakin waspada dan semakin bijak dalam bersikap. Bahkan, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh negatif pada Triwulan II nanti. Pemerintah tentunya harus sudah bersiap untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi.

Sampah masker bekas pun belakangan menjadi isu yang mulai meresahkan. Kewajiban menggunakan masker saat berada di luar rumah ternyata turut menyumbang polusi terhadap lingkungan. Masker kain atau masker yang bisa dicuci bisa dijadikan sebagai solusi dan alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Meskipun faktanya masker kain tak mampu menyaring virus sebaik masker medis sekali pakai, namun pihak kesehatan sudah menyatakan bahwa masker kain cukup efektif untuk menangkal penyebaran virus, termasuk virus korona.

Kebutuhan masker yang tinggi juga turut dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi. Penyelundupan, penipuan, pencurian, hingga penimbunan perlengkapan medis, termasuk masker juga belakangan marak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Anggaran yang tak sedikit sudah dipersiapkan oleh pemerintah untuk menghadapi pandemi ini. Pemotongan anggaran di setiap Kementerian/Lembaga juga sudah dilakukan demi penanganan pandemi Covid-19 ini. Tak hanya itu, para dermawan mulai dari masyarakat biasa sampai dengan artis papan atas juga ikut turut memberikan sumbangan sukarela demi tercapainya satu tujuan, yakni segera berakhirnya pandemi Covid-19 ini.

WFH atau work from home sudah diberlakukan sejak 17 Maret 2020 kemarin. Segala upaya juga sudah dilakukan untuk membantu memutus mata rantai penyebaran virus berbahaya ini. Namun, masih saja banyak masyarakat yang “bandel” dan masih berkeliaran di luar rumah hingga berkerumun tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Hasrat untuk berlibur ke daerah wisata sampai hanya sekedar ingin hangout demi konten media sosial semata dijadikan mereka sebagai alasan untuk tak sanggup berdiam diri di rumah terlalu lama.

Memulai hidup new normal atau normal baru berarti harus mampu hidup berdampingan dengan virus berbahaya setiap harinya. Masyarakat benar-benar harus patuh dan tak boleh acuh serta menganggap remeh virus ini. Siapa yang bisa menjamin virus ini akan benar-benar lenyap dari bumi. Yang harus kita lakukan adalah tetap berupaya hidup bersih dan sehat, dan mematuhi segala protokol kesehatan yang dianjurkan, serta berharap semoga vaksin dari virus korona ini segera ditemukan dan kita bisa kembali ke kehidupan normal lama kita.

Penulis: Tri Asty Widita, S.S.T., bekerja sebagai Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik.

Penulis: Tri Asty Widita
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!