Sekilas Info

PENANGANAN COVID 19

Disiplin Tinggi

satumalukuID/Freepik.com Ilustrasi penerapan protokol kesehatan terkait Covid-19.
Khusus untuk masyarakat Kota Ambon, kita kan masih dalam masa PSBB (tahap II). Kita sama-sama berdoa supaya angka terinfeksi bisa turun, dan saudara-saudara yang sedang di Rumah Pemulihan, segera dipulihkan, para dokter dan tenaga medis selalu sehat ~yang terinfeksi pun segera sembuh.
Data, secara global, menerangkan bahwa saat ini banyak orang tanpa gejala (OTG), dan itu berarti kita semua adalah kelompok rentan dan mudah terpapar. Bila kita semua menyadari akan hal itu, kita sudah harus membiasakan diri untuk menerima kondisi ini sebagai bagian dari proses kehidupan.
Saya menemukan, ada orang-orang yang ketika mengetahui bahwa seorang saudara terkonfirmasi, karena merasa dirinya bagian dari contact tracing dengan orang itu, lalu membawa diri secara mandiri untuk melakukan proses test (rapid dan swab pcr). Kemandirian ini wujud kesadaran akan pentingnya kesehatan, tetapi juga kepedulian kepada orang lain, minimal dalam keluarga dan meluas di lingkungan tempat tinggal/tempat kerjanya.
Berikutnya, kondisi ke depan nanti, kita harus menerapkan disiplin diri yang tinggi, mulai dari ketaatan memakai masker secara benar, mencuci tangan, jaga jarak dan hindari kontak fisik, mengkonsumsi vitamin dan makanan bergizi.
Ke depan, kita akan terbentuk sendiri, maksudnya setiap orang akan memiliki rasa malu ketika ia tidak memakai masker saat berada di luar rumah, atau kita tidak akan segan mengingatkan saudara yang tidak memakai masker; selain itu akan terbentuk semacam proteksi dini (self-protection) untuk tidak berjabat tangan ketika bertemu. Ada pola-pola baru dalam struktur perilaku individu dan kelompok yang otomatis akan terbentuk.
Beberapa hari belakangan ini, ketika gencarnya penerapan PSBB (di Kota Ambon) dan Normal Baru (seperti di Jakarta dan beberapa negara lainnya), ada beberapa perusahaan malah menyatakan keadaan “Never Normal”, bahwa mereka akan menerapkan sistem dan standard ketat dalam perilaku kerja di masa Normal Baru.
Apakah ini berarti ada pengurangan tenaga kerja, pembatasan jam kerja, pembatasan jumlah orang dalam satu ruang kerja, dlsb? Walahualam. Saya memahami kebijakan itu sebagai semacam kesadaran untuk tidak menjadikan lingkungan kerja sebagai cluster penyebaran virus di samping efisiensi yang ketat.
Di bidang keagamaan, semua orang sudah rindu untuk beribadah lagi di rumah ibadah. Tidak ada yang dapat mencegah atau melarang, tetapi memang perlu persiapan yang cukup matang juga, terutama untuk membentuk kesadaran umat dalam rangka turut berdisiplin tinggi saat beribadah di rumah ibadah.
Saya memberi contoh tentang prosedur penanggulangan Covid-19 yang diterapkan di Gedung Gereja Silo, Jemaat GPM Silo, Klasis Kota Ambon.
Satuan Tugas C19 Jemaat menerapkan tata protokol sebagai berikut:
(a) mencuci tangan di depan pintu gereja,
(b) penyemperotan tas dan pakaian yang dikenakan jemaat/pendeta,
(c) mengukur suhu tubuh,
(d) sterilisasi di Walang Sterilisasi,
(e) memakai sarung tangan (handschon),
(f) duduk di tempat yang diperuntukkan dan jaga jarak,
(g) tidak kontak fisik seperti jabat tangan sebelum dan sesudah ibadah,
(h) sebelum dan setelah ibadah dilakukan penyemperotan ruangan (disinfektasi) – malah saya melihat setelah ibadah ruang ibadah dipel oleh Tuagama Jemaat.
Ini baru salah satu aspek dari perlunya disiplin tinggi di masa transisi baru nanti. Kiranya Tuhan menolong kita semua.
Penulis: Elifas Maspaitella, adalah Sekretaris Umum Sinode GPM.

Baca Juga

error: Content is protected !!