Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Wiem Gomies, Legenda Tinju Kelas Menengah Asia yang Cinta Kampungnya di Hatalai Ambon

Documen Pribadi Wiem Gomies saat ini pada usia 74 tahun tetap jaga kebugaran fisiknya untuk kesehatan di kampungnya Hatalai yang asri maupun sebagai pelatih PPLP Maluku.

BICARA prestasi tinju amatir Indonesia. Maka kita pernah jaya di level benua Asia era 1960 an hingga hingga awal 1990. Puncaknya di era 1970 an Indonesia pernah punya beberapa juara Asia yakni Frans Van Bronchurst (VB), Wiem Gomies, Ferry Moniaga, Syamsul Anwar Harahap dan Benni Maniani. Disusul era 1980-1990 an munculnya Albert Papilaya, Pino Bahari dan Hendrik Simangunsong.

Dari para legenda tinju Asia itu. Nama Welhelem Gomies atau lebih dikenal dengan panggilan Wiem Gomies punya prestasi bersejarah yang belum dicapai atlet lainnya di Indonesia hingga kini. Yakni dua kali meraih medali emas kelas menengah even resmi empat tahunan, Asian Games tahun 1970 dan 1978 di Bangkok Thailand.

Selain itu, dia juga berhasil menjadi juara di Kejuaraan Asia 1971 di Teheran Iran, juara SEA Games 1977 di Malaysia, juara kejuaraan tinju internasional President Cup 1976 di Jakarta. Serta sekali ikut even bergengsi dunia yaitu Olimpiade Munchen Jerman tahun 1972. Sedangkan untuk medali perak dan perunggu di level internasional sering didapatnya. Saking banyak jadi sudah lupa.

Untuk level nasional di Indonesia. Sejak kemunculannya Wiem Gomies langsung merajai kelasnya. Semua kejuaraan sudah dia juara mulai dari Kejurnas, Sarung Tinju Emas ((STE/Golden Gkoves) hingga multi even lima tahunan yakni Pekan Olahraga Nasional (PON). Di PON sudah tiga kali diikutinya dan semuanya rebut emas untuk Maluku yaitu PON 1969 Surabaya, PON 1973 Jakarta dan PON 1981 Jakarta. Meskipun dirinya pernah hengkang bela DKI Jaya namun ia kembali ke Maluku.

Wiem Gomies lahir di Ambon pada 31 Desember 1945. Kini berusia 74 tahun dan masih bergelut di dunia tinju sebagai pelatih kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku. Dia beristrikan Rina Tuankotta dan memiliki 8 anak. Tiga diantaranya mantan atlet yakni Clarena Gomies (Pelari/Atletik) serta Bara Gomies dan Ferat Gomies (Tinju). Prestasi Bara lebih menonjol hingga mewakili Maluku dan juga tim Indonesia. Dua adiknya juga mantan petinju nasional Eddy Gomies dan Piet Gomies yang saat itu bela DKI.

Beta dan Om Wiem saling kenal dekat sejak 1994. Saat beta masih menjadi reporter olahraga harian Suara Maluku. Sudah sering menjadikannya sebagai nara sumber. Namun di era digital dan media online, keinginan untuk mengabadikan kisahnya muncul lagi.

Karena itu melalui anaknya Clarena, beta berhasil bincang-bincang di telepon dengannya yang kini menetap di Negeri Hatalai, kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. Tanah asal atau kampung halaman di jasirah Leitimur Pulau Ambon yang sangat dicintainya.

Apa kabar Om Wiem? Masih ingat beta? Begitu ucap beta ketika telepon tersambung. "Masih ingat bung. Beta baik dan sehat. Bung apa kabar? Sudah lama baru katong ngobrol nih. Syukur bung bisa telepon melalui beta anak ," begitu tutur Om Wiem memulai petcakapan telepon, Sabtu (11/7/2020).

Panjang lebar kita dua ngobrol hampir satu jam lama nya. Banyak kisah diungkapkan nya. Bahkan ada beberapa kisah yang baru Om Wiem ceritakan. Misalnya saja bagaimana pertama kali dia berlatih tinju dan latihan fisik yang dijalaninya sendiri.

Bagaimana pula sebagai petinju top Indonesia di masa kejayaan nya, dia tidak pikir materi atau harta dan tidak tergiur untuk menetap di Jakarta saja. Malah lebih memilih kembali ke kampungnya di Negeri Hatalai. Meskipun sebagai juara Asian Games dua kali, nasib masa depan yang dijanjikan untuknya baik di Ambon dan Jakarta tidak terwujud.

Karena itu ia sudah pernah hendak pindah ke tinju prof dan masuk sasana Halilintar Jakarta. Belum sempat naik ring tinju prof, Wiem Gomies dipanggil PB Pertina untuk bela Indonesia di turnamen internasional Presiden Cup 1976 (raih emas) dan juga Kejuaraan Asia (rebut perak karena kalah kontroversial di final akibat pelipisnya diseruduk kepala lawannya).

Wiem Gomies dengan tiga medali emas yaitu dua kali juara Asian Games dan sekali emas Kejuaraan Asia. Foto ini saat sudah undur diri sebagai petinju pada 1983'-1984. (Dok Pribadi)

Kemudian mengapa dia gagal di Olimpiade Munchen Jerman tahun 1972? Hingga dua kali dirinya bisa sukses juara Asian Games 1970 dan 1978 di Bangkok Thailand. Sampai mengapa dijuluki sebagai petinju "pendeta".

Om Wiem bercerita. Dia berlatih tinju agak terlambat di saat usianya sudah jalan 21 tahun. Padahal sejak remaja suka olahraga tinju dan mengidolakan Sugar Ray Leonard, petinju legendaris Amerika. Pertama ikut latihan tinju pun ada kisahnya tersendiri.

"Sekitar tahun 1967. Beta pacar yang kini jadi istri. Rumahnya dekat sasana tinju pak Teddy Van Room di Belakang Soya. Setiap saat ke pacar rumah, beta lihat pak Teddy sedang beri latihan para petinju. Hati jadi tergerak ikut latihan. Maka beta bergabung di sasana itu. Pertama kali naik ring pada Kejurda Maluku main di kelas welter 64 kg dan ikut Porwil Iramasuka di Manado. Beta langsung juara. Karena itu terpilih masuk Pelatda kontingen Maluku untuk ke PON Surabaya tahun 1969," kisahnya.

Di arena tinju PON 1969 itu. Om Wiem lolos ke final dan harus berhadapan dengan petinju andalan Indonesia saat itu, Said Fidal dari DKI Jaya. "Said Fidal waktu itu petinju nasional top. Tapi beta seng takut. Rame katong dua main di final. Beta akhirnya dinyatakan menang dan rebut emas PON untuk Maluku. Sejak beta kalahkan dia. Pamor nya mulai menurun. Dari situ beta direkrut masuk Pelatnas di Jakarta," tuturnya dengan dialek Ambon, sambil teringat jasa pelatih almarhum Teddy Van Room dan Otje Tehupeiory yang melatih di awal kariernya.

Ia mengaku. Fisik dan staminanya sudah terbentuk dan terlatih dengan sendirinya. Lantaran setiap kali pergi berlatih dari kampungnya di Hatalai ke kawasan Belakang Soya di sasana Teddy Van Room sekitar 8 Km, dia jalan kaki dan juga berlari naik tanjakan, bukit dan jalan setapak baik latihan pagi maupun sore. "Waktu itu jalan raya baru sampai di Kayu Putih. Belum sampai tembus kampung-kampung di gunung," kenangnya.

Sejak masuk Pelatnas tim tinju Indonesia usai PON 1969, dia terus berlatih keras dengan disiplin sebab merupakan petinju baru di Pelatnas. Bahkan sejak saat itu dirinya jadi penghuni tetap Pelatnas dan jarang pulang ke Ambon. Bersama rekan-rekannya mereka dipersiapkan ikut Asian Games 1970 di Bangkok. Hasilnya luar biasa, mengejutkan. Pasalnya, belum lama berlatih tinju, Om Wiem sukses merebut medali emas kelas menengah 75 kg. Di final dia mengalahkan Arif Malik dari Pakistan.

"Petinju Pakistan itu juara Asia dua kali. Di final beta pukul dia KO," katanya mengenang. Di even tersebut selain emas dari Wiem Gomies, tim tinju Indonesua juga peroleh empat perunggu dari Idham Anwar, Jotje Waney, Ferry Moniaga dan Rudi Siregar. Usai rebut emas di Bangkok. Om Wiem ikut kejuaraan Asia 1971 di Teheran Iran. "Beta juara lagi. Dan lolos ke Olimpiade Munchen setahun kemudian," ujarnya.

Di arena Olimpiade Munchen 1972. Tinju Indonesia diwakili oleh Wiem Gomies dan Ferry Moniaga. Ada cerita pahit yang dialami Wiem Gomies. Beberapa pekan sebelum ke Olimpiade, pelatihnya meninggal dan disusul kemudian asisten pelatihnya. Konsentrasinya sempat terganggu, ia bahkan terus menangis dan sempat berpikir batal ke Olimpiade.

"Beta sedih terus waktu itu. Tapi yang paling sial waktu tarik undian. Beta ternyata ketemu petinju Uni Soviet (Rusia). Dia juara dunia waktu itu dan raja KO. Beta sempat dipukul jatuh namun lanjut sampai selesai tapi kalah," ceritanya, sambil ingat peristiwa teroris "Black September" masuk meneror di kompleks atlet Olimpiade Munchen saat itu.

Wiem tak patah semangat. Dia terus berlatih dengan disiplin. Hasilnya jadi juara di turnamen internasional Presiden Cup I 1976. Disusul kemudian raih emas SEA Games 1977 di Malaysia. Ketika dipanggil lagi ke Pelatnas untuk persiapan Asian Games 1978 di Bangkok, usia Wiem sudah tidak muda lagi. Ia telah berusia 33 tahun ketika itu. Namun hasilnya luar biasa dan mencetak sejarah. Karena kedua kalinya merebut emas untuk Indonesia.

"Beta terharu menangis lihat bendera merah putih berkibar. Karena beta sudah menikah dan punya tiga anak waktu itu. Puji Tuhan," ungkap penerima berbagai penghargaan pemerintah RI ini.

Di arena pesta olahraga bangsa'-bangsa benua Asia tersebut, selain medali emas kelas menengah 75 kg oleh Wiem Gomies setelah kalahkan petinju Korea Utara Park Bong Mun di final, Indonesia juga meraih medali perak oleh Johny Riberu serta perunggu oleh Benny Maniani dan Krismanto.

Om Wiem akui kesuksesan nya itu karena faktor disiplin dan berlatih keras. Tanpa itu menurutnya sulit berprestasi maksimal. "Sebab tinju ini olahraga baku pukul. Jadi faktor fisik dan stamina sangat penting selain teknik. Sehingga butuh disiplin diri maupun disiplin berlatih keras. Itu kuncinya. Tentunya juga butuh pengalaman berrtanding yang banyak," bebernya, yang sudah pernah bertanding dan berlatih di Belanda, Kuba, Amerika, Jerman, Inggris, Jepang dan lainnya.

Di sisi lain. Meski sudah menjadi petinju terkenal dan pembuat sejarah tinju Indonrsia di Asian Games dan lebih banyak berada di Jakarta. Tetapi Wiem Gomies mengakui dirinya tidak betah dan kurang cocok hidup di ibukota. Ia tetap lebih suka menetap di Ambon, tepatnya di kampungnya Negeri Hatalai.

Mengapa? "Beta sempat pindah bela DKI Jakarta dan dijanjikan pekerjaan. Namun beta tetap ingin kembali ke Ambon. Alasannya beta rasa tidak cocok dan kurang nyaman saja hidup di Jakarta. Beta lebih suka suasana alam, selain istri dan anak tinggal di Ambon. Makanya pilih kembali pulang ke kampung sekaligus mengabdi untuk Maluku," jelas Wiem, yang beberapa kali menjadi pelatih nasional setelah undur diri sebagai petinju tahun 1983-1984.

Usai undur diri dan jadi pelatih. Wiem juga sempat diminta bantu melatih mantan rekannya di amatir yang telah hijrah ke tinju prof, Ellyas Pical, yang akhirnya jadi petinju Indonesia pertama juara dunia tinju prof 1985. "Elly punya kelebihan dan talenta. Dia layak jadi juara dunia," tutur Om Wiem, sambil ingat dirinya dan Ellyas dkk tim tinju Maluku pernah merajai Kejurnas dan PON. Bahkan skuat tinju Maluku pernah dijadikan tim Indonesia Merah di Presiden Cup dan ikut kejuaraan bawa nama Indonesia di Jerman.

Terus kenapa sering dijuluki juga petinju "pendeta" ? Ditanya demikian, Om Wiem sempat tertawa lepas. Menurutnya, itu mungkin karena sifatnya yang tenang kalau tidak berlatih atau bertanding. Begitu pula kalau belum atau sesudah bertanding, dirinya kurang suka jalan-jalan cari hiburan, apalagi hiburan malam tidak disukainya.

"Waktu di Eropa, Amerika dan Thailand. Beta tidak pernah ke hiburan malam. Saat di Jepang, pernah bersama rekan-rekan petinju diajak jalan-jalan. Beta kira ke restoran. Padahal klub orang dewasa. Beta kaget llihatnya dan beta memilih keluar tunggu di luar tempat itu. Sifat beta itu yang sesama petinju sebut bapa pendeta," kisahnya sambil tertawa, seraya bilang itu bagian dari disiplin diri.

Lalu bagaimana Om Wiem lihat perkembangan tinju amatir Maluku dan Indonesia umumnya? "Kita punya potensi petinju banyak. Namun sulit berkembang karena pembinaan tidak rutin dan berjenjang seperti dulu. Mau berlatih keras pun kalau kejuaraan minim atau tidak ada, mau bikin apa? Petinju bagus kalau kurang bertanding, apa bisa tahu kekuatan dan kelemahan dia dan lawannya? Serta petinju sekarang pikirnya dapat apa? Dan cepat puas padahal baru juara nasional. Bukan pikir juara di internasional. Kuncinya disiplin,"" beber Om Wiem.

Kini Om Wiem di usia yang tidak muda lagi mengabdikan dirinya, ilmunya dan pengalaman mendunia nya kepada para petinju muda asuhannya di PPLP Tinju Maluku. Serta bila ada kesempatan ia habiskan waktu di dusunnya di kampung tercinta, Negeri Hatalai. "Dangke bung. Sudah kontak untuk bacarita inga beta dolo-dolo," akhirinya, dengan dialek Ambon kental.

Semoga sehat terus ya sang legenda, mantan raja tinju amatir kelas menengah Asia, pembuat sejarah olahraga Indonesia dan pembawa bendera merah putih di Olimpiade Munchen 1972. Tuhan memberkatimu. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!