Sekilas Info

HARAPAN DI MASA COVID 19

Wirausaha Muda Pertanian Menjaga Produksi Sayuran Hidroponik di Masa Pandemic Covid-19

satumalukuID/Freepik.com Ilustrasi pertanian hidropinik

Pendahuluan

Pandemic Covid 19 berdampak besar bagi produksi, distribusi dan ketersediaan pangan secara nasional. Ketahanan pangan masyarakat akan menurun terus menerus jika pandemic ini berkelanjutan. Kondisi ini bukan saja dirasakan oleh masyarakat golongan ekonomi lemah namun juga masyarakat golongan ekonomi tinggi.

Semua orang memiliki uang tetapi jika tidak ada produksi dan distribusi pangan, maka uang tidak bernilai karena tidak terpakai untuk dibelanjakan guna pemenuhan pangan keluarga.

Masyarakat membutuhkan pangan untuk dikonsumsi setiap hari. Pangan pokok yang dibutuhkan yakni sembilan bahan pokok, yang menjadi kebutuhan paling utama dalam keluarga. Kemudian ditunjang dengan ketersediaan pangan lain seperti sayuran. Ketersediaan sayuran dihasilkan oleh petani di daerah pedesaan dan tidak menutup kemungkinan di daerah perkotaan terdapat sekelompok orang yang mengusahakannya.

Di Kota Ambon, produksi sayuran di daerah perkotaan diusahakan oleh pemuda/pemudi tani, sebagai petani milenial atau wirausahawan muda pertanian untuk menyediakan sayuran organik di masa pandemic covid 19.

Tahun 2016, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian memperkenalkan salah satu program untuk pemuda/pemudi tani, yakni Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) bagi lulusan/alumni Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP), Perguruan Tinggi Mitra (PT-M) dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP).

Ini merupakan program untuk menggiatkan pemuda/pemudi yang berperan sebagai wirausahawan muda sehingga mampu menjadi job-creator di sektor pertanian. Program ini sangat membantu alumni Fakultas Pertanian melalui kucuran dana hibah kepada kelompok usahawan untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan dalam bidang pertanian. Melalui PWMP, alumni dapat menciptakan lapangan kerja

Tahun 2018-2020, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura mendapat kepercayaan untuk membentuk 16 kelompok alumni fakultas pertanian, yang di dalamnya ada alumni fakultas pertanian dan pemuda tani. Mereka direkrut untuk mengembangkan diri dalam kegiatan PWMP.

Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menghimpun alumni Fakultas Pertanian Universitas Pattimura untuk mengembangkan diri dalam kegiatan wirausaha muda pertanian. Hal ini penting karena selama ini para sarjana pertanian lebih cenderung memilih pekerjaan sebagai PNS dan tidak banyak yang menekuni kegiatan wirausaha di bidang pertanian tersebut. Oleh sebab itu Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian mulai menggalakkan kegiatan PWMP untuk menumbuhkan semangat para alumni untuk mengembangkan usaha pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.

Wirausahawan Muda Pertanian yakni alumni Fakultas Pertanian Universitas Pattimura yang mengusahakan sayuran hidroponik yakni kelompok JJ Hidrofarm, Kelompok Kewang Hidroponik, Kelompok OK Fress Hidoponik, kelompok MRP Farm Hidroponik, dan kelompok HG Hidroponik. Kelima kelompok PWMP inilah sebagai distributor sayuran hidroponik di Kota Ambon.  Kelompok usaha terdiri dari tiga orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai bidang kerja masing-masing untuk manajemen produksi, manajemen usaha dan manajemen pemasaran.

Manajemen Produksi

Hidroponik adalah lahan budidaya pertanian tanpa menggunakan media tanah, sehingga hidroponik merupakan aktivitas pertanian yang dijalankan dengan menggunakan air sebagai medium untuk menggantikan tanah. Sistem bercocok tanam secara hidroponik dapat memanfaatkan lahan sempit.

Pertanian dengan menggunakan sistem hidroponik memang tidak memerlukan lahan yang luas dalam pelaksanaannya, tetapi dalam bisnis pertanian hidroponik hanya layak dipertimbangkan mengingat dapat dilakukan di pekarangan rumah, atap rumah mau pun lahan lainnya. Kebutuhan pangan bagi manusia seperti sayuran dan buah–buahan semakin meningkat seiring perkembangan jumlah penduduk.

Namun hal tersebut tidak dibarengi dengan pertumbuhan lahan pertanian yang justru semakin sempit (Roidah, 2014). Menurut Haryanto et al. (2002) hidroponik dapat dilakukan pada ruang atau tempat yang terbatas. Rahimah (2012) menambahkan keuntungan teknologi hidroponik antara lain dapat menghemat biaya investasi sekitar 38%, mampu menghasilkan sayuran yang dipersyaratkan pasar, dan pemberian nutrisi yang sesuai membuat tanaman sehat sehingga lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Usaha mulai dirintis tahun 2018. Kenapa hidroponik menjadi pilihan karena terkendala beberapa faktor seperti ketersediaan lahan terbatas, harga sewa tanah tinggi, media tanah sulit diperoleh, lebih mudah dalam pembudidayaan, ramah lingkungan dan tanaman lebih cepat tumbuh.

Alternatif pertanian lahan terbatas, hidroponik muncul sebagai alternatif terutama di daerah perkotaan. Sistem ini memungkinkan sayuran ditanam di daerah yang kurang subur atau daerah sempit yang padat penduduknya. Selain itu, hidroponik dapat diusahakan sepanjang tahun tanpa mengenal musim sehingga harga jual hasil panen relatif stabil. Pemeliharaannya pun mudah karena tempat budi daya lebih bersih dan media tanam steril.

Tidak hanya itu, pengembangan hidroponik mempunyai prospek yang cerah, baik untuk mengisi kebutuhan dalam negeri maupun merebut peluang ekspor. Ramah lingkungan, hidroponik ramah lingkungan karena tidak memerlukan pemakaian herbisida dan pestisida beracun sehingga lebih ramah lingkungan dan sayuran yang dihasilkan pun akan lebih sehat. Bertanam dengan hidroponik akan menghasilkan sayuran berkualitas baik dan bebas residu kimia, yang pastinya sehat buat seluruh keluarga.

Hidroponik tidak membutuhkan air sebanyak berkebun secara konvensional. Hal ini karena hidroponik tidak memerlukan penyiraman sama sekali. Air hanya digunakan untuk penghantar nutrisi bagi tanaman (sirkulasi). Tanaman lebih cepat tumbuh, laju pertumbuhan tanaman hidroponik bisa mencapai 50% lebih cepat dibandingkan tanaman yang ditanam di tanah pada kondisi yang sama.

Penyebabnya, tanaman hidroponik langsung mendapatkan makanan dari air yang kaya nutrisi (nutrisi dan pH terkontrol). Kondisi ini juga membuat tanaman tidak perlu akar besar untuk mencari nutrisi. Dengan demikian, energi yang diperlukan untuk pertumbuhan akar lebih sedikit dan sisa energi bisa disalurkan ke bagian lain dari tanaman.

Tanaman hidroponik yang dihasilkan pun tumbuh sehat, kuat, dan bersih. (Pertanianku.com, 2015). Hasil penelitian Mustikarini et al, 2019 menyatakan bahwa masyarakat mengetahui cara budi daya sayuran organik bebas pestisida secara hidroponik terutama penerapan di perkarangan rumah sehingga memudahkan dalam memperoleh jenis sayuran yang bebas pestisida. Jenis sayuran yang diusahakan antara lain sawi sendok, pakcoy, selada, sawi putih, dan kangkung. Jumlah produksi sayuran hidroponik sekali panen per jenis mencapai 50-75 ikat. Berusaha hidroponik tidak mengenal musim, sehingga bisa bertanam dan berproduksi sepanjang saat.

Manajemen Usaha

Manajeman usaha mulai dari perencanaan usaha, pengorganisasian usaha, pelaksanaan usaha dan pengawasan usaha mutlak diperlukan untuk mengembangkan sebuah wirausaha hidroponik berkelanjutan. Kebutuhan peralatan usaha dan kebutuhan saprodi untuk pengembangan wirausaha penting untuk menunjang kontinutas produksi.

Wirausaha hidroponik sangat berdampak pada perubahan pola konsumsi masyarakat dari yang non organik ke organi. Wirausaha sayuran hidroponik diharapkan mengurangi pencemaran lingkungan. Perencanaan wirausaha mencakup semua kegiatan yang ditujukan untuk menyusun program kerja selama periode tertentu pada masa yang akan datang berdasarkan visi, misi, tujuan, serta sasaran organasi.

Perencanaan dilakukan pada bidang keuangan, pemasaran, produksi, persediaan dan lain-lain. Tujuan perencanaan adalah untuk menempatkan wirausaha hidroponik pada posisi yang terbaik berdasarkan kondisi bisnis dan permintaan konsumen pada masa mendatang.

Merumuskan visi dan misi wirausaha hidroponik. Visi wirausaha yaitu menjadikan bisnis hidroponik berkembang dan maju, sedangkan misinya adalah menyediakan produk yang berkualitas, bergizi tinggi dengan harga yang terjangkau; menyediakan produk yang fresh dan sehat bebas bahan kimia; dan berusaha untuk menyediakan produk yang dapat memuaskan konsumen.

Kemudian merumuskan nilai-nilai yang akan dianut oleh pengusaha hidroponik dalam memberikan yang terbaik bagi lingkungan internal dan lingkungan eksternal yang telah menjadi komitmen manajemen. Wirausaha hidroponik membutuhkan perencanaan yang baik supaya hasil akhir yang diperoleh akan lebih baik, tanpa perencanaan apalah artinya sebuah usaha akan berhasil. Pengorganisasian sebagai bagian kedua dari manajemen. Pengorganisasi adalah suatu proses membuat suatu hubungan formal di antara orang-orang dan sumberdaya lainnya yang ada untuk mencapai tujuan.

Wirausaha hidroponik harus memiliki organisasi yang jelas yakni tujuan wirausaha ini adalah untuk memuaskan konsumen dan memperoleh keuntungan yang terbaik dalam pengembangan wirausaha hidroponik kedepan. Wirausaha hidroponik dirintis oleh tiga orang yakni ketua, sekretaris dan bendahara. Ketiga orang ini mempunyai tugas dan fungsi yang sama yakni sama-sama mengorbankan pikiran, tenaga dan waktu untuk mengusahakan hidroponik secara berkelanjutan.

Pelaksanaan menjadi bagian dari manajemen terbagi atas kepemimpinan, pengarahan dan kordinasi. Kepemimpinan bagaimana seorang pemimpin menyalurkan semua kemampuannya pada aktivitas usaha untuk mencapai tujuan bersama. Terlihat pada wirausaha hidroponik, yang menjadi ketua kelompok berperan penting sebagai pemimpin untuk menyalurkan semua kemampuannya dalam semua aktivitas wirausaha hidroponik untuk mencapai tujuan bersama.

Pengarah menekankan bagaimana anggota diarahkan untuk mencapai tujuan wirausaha. Pengarahan ditujukan untuk menetapkan kewajiban dan tanggung jawab anggota, menciptakan hasrat untuk berhasil, dan mengawasi agar pekerjaan dilaksanakan dengan baik.

Terlihat bahwa wirausaha hidroponik diarahkan supaya dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis, tercipta hubungan yang baik diantara anggota kelompok, usaha diawasi supaya tujuan bersama dapat tercapai. Koordinasi ditekankan pada hubungan antar individu, atas berbagai aktivitas organisasi, sehingga diperoleh harmonisasi dalam setiap kegiatan. Tugas ketua kelompok mengkoordinasi hubungan antar individu pada wirausaha yang dipimpinnya supaya antara ketua dan anggota saling memahami dan mengerti fungsi dan perannya dalam pengembangan wirausaha hidroponik kedepan.

Manajemen Pemasaran

Peluang bisnis tanaman hidroponik baik untuk dikembangkan karena sangat menguntungkan. Tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik memiliki biaya yang cukup besar per satuannya, walaupun demikian wirausaha hidroponik ternyata cukup menguntungkan. Keuntungan yang diraih lebih banyak dibandingkan dengan budidaya konvensional di tanah.

Hasil panen sayuran hidroponik dijual secara online melalui medos. Konsumen yang tertarik langsung berkunjung ke lokasi produksi. Selain itu juga terjadi pesan antar ke rumah-rumah konsumen dan perkantoran.

Hal ini berlangsung baik di masa pandemic covid 19. Konsumen memesan langsung dari kelompok usaha kemudian diantar ke alamat konsumen. Selain itu hasil panen sayuran hidroponik langsung di pasarkan ke pasar modern Friz Market dan Supermarket Dian Pertiwi.

Penjualan sayuran hidroponik pada masa pandemic covid 19 sangat baik, banyak konsumen yang mencari sayuran hidroponik secara online atau ke pasar modern karena lebih terjamin dan sayurannya segar. Kelompok usaha PWMP merasa bahwa adanya pandemic covid 19 tidak menurunkan niat mereka untuk mengembangkan usaha, apalagi permintaan konsumen meningkat sehingga mereka harus meningkatkan penawaran sayuran hidroponik di pasar online maupun pasar modern.

Harga penjualan sayuran hidroponik ke konsumen sebesar Rp. 8000/kg. Harga ini bersih diterima kelompok usaha PWMP karena mereka sudah menghitung semua biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan usaha. Harga jual yang sama juga diberlakukan untuk penjualan ke pasar modern, namun di pasar modern terjadi penambahan harga sampai Rp.12.000/ikat. Hal ini dilakukan pasar modern karena mereka menghitung pajak penjualan, pajak bangunan, pengemasan produk, label produk dan merek dagang. Kebanyakan distributor pasar modern selalu memperhitungkan untung rugi usaha ketika menerima produk dari luar yang ditampilkan pada display penjualan.

Penulis: Natelda R. Timisela dan Febby J. Polnaya, adalah staf dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon.

Baca Juga

error: Content is protected !!