Sekilas Info

Konektivitas Ambon Kota Musik Dunia dan Sustainable Developments Goals 2030

Banyak pertanyaan yang muncul apakah konektivitas antara Ambon Kota Musik Dunia atau Ambon UNESCO City of Music dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dan apakah dampaknya Ambon Menjadi Kota Musik Dunia terhadap pembangunan kota Ambon?

SDGs merupakan pengganti Millennium Development Goals (MDGs) pada akhir September 2015, dan kemudian diberlakukan sebagai panduan pembangunan global yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2016 hingga 31 Desember 2030.  Tujuan tersebut mulai dibangun menjelang Konferensi Rio+20 tahun 2012 lalu, dan akhirnya mencapai standar yang dipakai sampai saat ini.

SDGs 2030 memiliki 17 tujuan (goals) sebagai berikut :

1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dimanapun;

2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan;

3. Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia;

4. Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua;

5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan;

6. Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua;

7. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua;

8. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tenaga kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua;

9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi;

10. Mengurangi ketimpangan didalam dan antar negara;

11. Membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan;

12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan;

13. Mengambil aksi segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya;

14. Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan;

15. Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi (penggurunan), dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati;

16. Mendukung masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua level;

17. Menguatkan ukuran implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan (https://www.sdg2030indonesia.org/page/1-tujuan-sdg)

Analisis keterkaitan Kota Ambon sebagai Kota Kota Musik dunia atau dalam konteks pendekatan UNESCO, lebih tepat disebutkan sebagai kota kreatif berbasis musik memiliki aksentuasi pada tujuan ke-11 SDGs 2030, “membangun kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan”; dimana dampaknya harus terpapar pada masalah-masalah sosial, ekonomi dan lingkungan.

Perlu dipahami selanjutnya adalah bahwa Kota Musik Dunia tidak hanya mencoba menghadirkan pertunjukkan musik saja namun lebih banyak kepada ekosistem musik yang sudah berbudaya di masyarakat kota Ambon, dimana keberlanjutannya tidak akan pernah mati dan sudah menjadi karakter Ambonnese. Yang masih menjadi permasalahan adalah bagaimana dampak dari ekosistem musik yang sudah tercipta terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

Tujuan ke-11 SDGs dalam implementasinya bila dilaksanakan secara akurat akan berdampak pada pencapaian  tujuan SDGs yang lain seperti tujuan 1 (kemiskinan), 2 (kelaparan), 3 (Kehidupan yang sehat), 4 (pendidikan), 5 (kesetaraan gender), 8 (pertumbuhan ekonomi), 9 (infrastruktur), 13 (perubahan iklim), dan 15 (kehidupan di daratan) apabila inti perencanaan kota mengarah kepada musik sebagai ikon utama untuk mengungkit sektor-sektor lain (lihat paragraph 3).

Kota musik dunia dengan fokus pada tujuan ke 11 SDGs pada dasarnya menganut model keberlanjutan mutakhir, sehingga bukan lagi sebatas pilar-pilar (yang melihat ekonomi, sosial dan lingkungan secara terpisah) atau triple bottom line (melihat adanya peririsan di antara ketiganya), tetapi lebih mengarah kepada model nested (melihat hubungan ketiganya secara komprehensif dimana ekonomi bagian dari sosial, dan sosial bagian dari lingkungan).

Artinya SDGs melihat bahwa tak ada tujuan yang terpisah apalagi bertentangan di antara ketiganya.  Secara tegas, ini juga berarti hanya bentuk-bentuk ekonomi yang tunduk pada kepentingan sosial dan kelestarian lingkungan yang diperkenankan untuk dibangun dalam periode 2016-2030 (Jalal, 2015 dalam https://www.mongabay.co.id/2015/11/12/opini).

Dari aspek lingkungan, Ambon Music Office (AMO) telah mengembangkan sebuah pola pendekatan (kolaborasi) lingkungan dengan musik yang disebutkan sebagai “Sound of Green (SoG)”.  Program ini mencoba menerapkan musik sebagai daya ungkit pelestarian lingkungan khusus lingkungan hutan yang perlu direstorasi dan dikonservasi guna menyediakan bahan baku (raw material) pembuatan suling bambu.

Bekerjasama dengan Balai pengelolaan DAS Maluku dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Ambon dan Pulau Ambon upaya ini telah dilakanakan berupa survey pendahuluan untuk mengetahui asek spasial dengan upaya penyediaan bibit anakan bambu sebanyak 40.000 anakan  yang akan ditanam di desa Tuni dan sekitarnya. Dimana masyarakat dilibatkan dalam upaya penyediaan bibit sampai dengan penanaman dalam bentuk Kebun Bibit Desa (KBD).

Upaya-upaya ini akan melibatkan pemerintahan desa atau dusun dan komunitas music (MBO). Kesadaran menanam dan melestarikan hutan telah menjawab beberapa tujuan SDGs untuk pelestarian lingkungan daratan, mengurangi emisi karbon, mengurang bencana dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan sekaligus menjadikan desa Tuni sebagai desa wisata berbasis musik.

Pemanfaatan limbah dari pemanenan tanaman bamboo dapat dijadikan sumber pencaharian yang berhubungan dengan ekonomi kreatif. Multi efek akan terjadi pada sebuah situs wisata dengan upaya menghadirkan wisatawan di desa Tuni.

Di sisi lain adanya workshop pembuatan suling mulai dari pemanenan sampai dengan bahan jadi berupa suling akan menjadi sumber pendidikan dan daya tarik wisata yang kemudian difinalisasi dengan sebuah pertunjukkan music di situs atau desa akan mendongkrak ekonomi masyarakat setempat apalagi bila disisipkan dengan kuliner tradisional.

Terkait dengan lingkungan, maka ekonomi yang dapat dikembangkan adalah ekonomi restoratif—yaitu yang memperbaiki kondisi lingkungan yang rusak—serta ekonomi konservatif—yaitu yang memelihara kondisi lingkungan yang masih baik—yang diperkenankan untuk eksis.  Inilah yang kerap dilabel sebagai ekonomi hijau (Green Economy). Sedangkan dalam konteksi kota kreatif, dapat diliat sebagai - ekonomi kreatif- karena berasal dari sebuah pekerjaan kreatifitas yang memiliki dampak ekonomi.

Dalam bentuk konseptualnya yang formal, lingkungan dinyatakan sebagai salah satu di antara 6 elemen esensial SDGs, yaitu: planet, people, dignity, prosperity, justice, dan partnership.  Apabila diperhatikan, elemen people dan dignity masuk ke dalam apa yang disebut sebagai sosial, sementara prosperity dan justice masuk ke dalam  ekonomi (Jalal, 2015 dalam https://www.mongabay.co.id/2015/11/12/opini).

Dari 17 Tujuan dan 169 Target SDGs, Lingkungan terutama diuraikan dalam Tujuan 12 (produksi dan konsumsi), Tujuan 13 (perubahan iklim), Tujuan 14 (lautan) dan Tujuan 15 (daratan). Namun juga sangat jelas terkait dengan Tujuan 6 (air dan sanitasi, terutama bagian pengelolaan sumberdaya air), Tujuan 7 (energi), Tujuan 9 (infrastruktur, industrialisasi dan inovasi) dan Tujuan 11 (kota dan pemukiman). Perhatian terhadap kota musik dunia dalam logikanya memiliki  tujuan yang berkaitan juga dengan (daya dukung) lingkungan.

Yang memiliki dampak juga terhadap Tujuan 1 (kemiskinan) maupun Tujuan 2 (kelaparan). Ini dapat dibuktikan dengan angka pengangguran di kota Ambon dapat ditekan dari 6,95 persen (2016) menjadi 4,94 persen (2018). Persentase pengangguran menurun 1,5 persen per tahun dan 0,15% per tahun untuk tingkat kemiskinan.

Fluktuasi angka masih terasa kecil karena masih butuh sinergitas antara masing-masing OPD di kota Ambon untuk memasukan musik sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan pendekatan ekonomi kreatif. Artinya bahwa masyarakat untuk keluar dari kemiskinan dan pengangguran tidak lagi dapat menggantungkan sepenuhnya kehidupannya dari sektor komoditi atau sektor pertanian dan lain sebagainya tetapi untuk mengarahkan pendapatannya dari peningkatan ekonominya dari kreatifitas.

Ambon Kota Musik Dunia dapat berperan sebagai motor pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakatnya perlu menerapkan beberapa strategi (ICCN, 2017) :

* Menciptakan lingkungan (ekosistem) yang kondusif bagi penciptaan modal intelektual, dengan cara merangkul komunitas, pelaku bisnis, dan akademisi;

* Melakukan pemetaan potensi dan keunggulan kota secara internal dan eksternal;

* Menentukan focus subsector ekonomi kreatif sebagai potensi dan keunggulan;

* Melakukan kerjasama dan koordinasi yang nyata antar actor pentahelix yang keberlangsungannya dapat dipastikan berdasarkan komitmen yang kuat dari semua actor;

* Memiliki landasan regulasi yang kuat dan harus masuk dalam dokumen rencana strategis – Rencana Pembangunan jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis Daerah sebagai payung hokum  dan kelembagaan atau OPD sector ekonomi kreatif yang dapat mengimplementasikan dan menjaga upaya pengembangan ekonomi kreatif; dan

* Memiliki kemampuan dan daya untuk berkelanjutan.

Ambon Kota Musik Dunia tetap didorong untuk menjaga keberlanjutannya dalam upaya mendukung Sustainable Development Goals SDGs) 2030 dunia global sebagai bagian dari kota musik bertaraf dunia.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office (AMO) dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

Penulis: Ronny Loppies
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!