Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Kompol Albert Papilaya, Legenda Tinju Amatir Indonesia yang Pernah Diajak Berkarir Pro di Amerika

Foto: DokPri Kompol Albert Papilaya, salah satu legenda tinju amatir Indonesia yang kini berkarir sebagai anggota Polri.

DUNIA tinju amatir Indonesia sempat berjaya di level Asia Tenggara, Asia bahkan antar benua seperti di arena Kejuaraan Dunia dan Olimpiade. Malah beberapa petinju amatir yang hengkang ke tinju profesional pun mereka tetap sukses.

Di era 1960 an hingga awal 2000, kita pernah punya petinju amatir handal semisal Said Fidal, Frans Soplanit, Frans VB, Wiem Gomies, Ferry Moniaga, Johny Riberu, Benni Maniani, Idwan Anwar, Jooje Waney, Rudi Siregar, Syamsul Anwar Harahap, Krismanto, Herry Maitimu, Ellyas Pical, Charles Thomas, Max Auty, Polly Pesireron, Lodewyk Akwan, Hendrik Simangunsong, Nico Thomas, Adrianus Taroreh, Ilham Lahia, Pino dan Nemo Bahari, Jhony Asadoma, Hermanses Ballo, La Paene Masara dan seabrek nama lainnya di masa kejayaannya.

Namun ada satu nama yakni Albert Papilaya yang tak bisa dilupakan. Figur inilah yang prestasinya sangat konsisten bertahan lama di level nasional maupun internasional seperti PON, SEA Games, Kejuaraan Asia, Kejuaraan Dunia hingga Olimpiade. Jadi boleh dinobatkan bahwa Albert adalah petinju amatir terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Data yang dihimpun satumaluku.id, Albert Papilaya mampu mempertahankan prestasi hebatnya selama sekitar 20 tahun di even bergengsi. Untuk level PON yang empat tahun sekali digelar, dia tampil lima kali sejak 1985 hingga tahun 2000. Dua kali bela Maluku di PON dia sumbangkan medaki perak dan emas. Lantas tiga kali perkuat DKI Jaya semuanya sukses meraih emas. Itu pun belum terhitung Kejurnas dan Sarung Tinju Emas (STE).

Petinju asal Negeri Itawaka Pulau Saparua namun lahir dan besar di Tobelo dan Ternate, Maluku Utara ini, kiprahnya terus melejit hingga ke level Asia Tenggara yaitu di arena SEA Games. Di multi even olahraga ASEAN dua tahun sekali itu dia jadi raja di kelasnya. Albert tercatat tujuh kali menjadi andalan kontingen Indonesia sejak 1989 hingga 2001. Hasilnya? Dia berhasil merebut 6 medali emas dan 1 perak. Luar biasa!

Tak sampai disitu. Dominasi dan pamor Albert sebagai petinju bertaraf internasional dia buktikan di ajang yang lebih bergengsi dan prestise. Yakni berhasil menjadi juara Asia empat kali bawa pulang medali emas di arena Asian Boxing Championship yaitu tahun 1985 di Nepal, 1992 di Filipina sekaligus lolos ikut Olimpiade di Barcelona 1992, 1993 di Cina dan 1997 di India.

Momen saat Albert Papilaya bertanding terakhir di SEA Games 2001 sebelum undur diri dari tinju. Ketika itu dia sukses rebut medali emas kelas berat ringan 81 kg. -dokumen-

Prestasi Albert empat kali juara Asia ini belum pernah dicapai petinju Indonesia lainnya. Ia selevel dengan petinju legendaris Indonesia asal Maluku, Wiem Gomies yang di masa jayanya dua kali juara Asian Games 1970 dan 1978 serta sekali juarai Kejuaraan Asia di tahun 1972 sekaigus lolos ikut Olimpiade Munich di tahun yang sama.

Sayangnya. Albert belum beruntung menjadi juara dunia atau juara Olimpiade yang bergengsi. Dua kali ikut kejuaraan dunia atau World Cup tahun 1989 di Rusia dan 1995 di Jerman, dia hanya berhasil lolos sampai babak perempat final atau 8 Besar di kedua even itu. Hal yang sama pun terjadi di arena Olimpiade Barcelona 1992. Dia menang atas petinju Polandia dan Tanzania. Namun kalah angka dari petinju Korsel di perempatfinal.

Selain even-even internasional resmi itu. Albert juga meraih prestasi emas dan perak di turnamen terbuka bergengsi seperti President Cup di Jakarta, Mayors Cuo di Filipina, Seoul Cup di Korsel, Morotius Cup di Afrika, Santau di Cina dan Asian Championship di India. "Banyak prestasi yang beta sudah lupa. Soalnya sudah lama sekali," ungkap Albert kepada satumaluku.id via whatsapp dari Jakarta, Sabtu (4/7/2020).

Diakuinya mengenal tinju pertama kali dilatih sang ayahnya sendiri, Thomas Papilaya, di sasana Sangaji Putra kota Ternate saat masih beranjak remaja. Tahun 1983 dia ikut seleksi untuk wakili kabupaten Maluku Utara ke PORDA Maluku di Ambon. Tahun itu pula dia direkrut masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku di Ambon serta dilatih pelatih Philipus Wattilete dan Otje Tehupeiory. Dari sini karier tinjunya mulai melejit.

Momen paling dikenangnya adalah saat bertanding di arena Olimpiade Barcelona 1992. Karena saat itu, dia sangat optmis bisa bikin sejarah sebagai petinju Indonesia pertama yang meraih medali Olimpiade. Di babak perempatfinal lawan petinju Korsel. Albert merasa sudah berada di atas angin namun wasit yang memimpin buat keputusan blunder dengan peringatan karena terus merangkul lawan.

"Padahal lawan yang duluan terus rangkul beta. Akhirnya poin beta dikurangi dan diberikan ke lawan. Apa boleh buat keputusan harus diterima," ungkap suami dari Jety Florence Nanere dan dua putra, Stevenson Filipus Papilaya dan Sugaray Leonard Papilaya ini.

Kolase Foto: (kiri) Saat menjadi Juara Asia 1992 sekaligus Pra Olimpiade Barcelona.( kanan) Saat menang di Kejuaraan Dunia 1995 di Berlin Jerman. Saat itu Albert Papilaya lolos hingga 8 Besar. -dokumen-

Kisah menarik lain di arena Olimpiade Barcelona 1992 yaitu Albert berkenalan dan berteman dengan petinju Amerika Serikat, Oscar De La Hoya. Oscar inilah yang kemudian menjadi petinju profesional top Amerika dan prestasinya hebat sehingga dijuluki The Golden Boy.

Ia saat ini bahkan menjadi promotor tinju terkenal dengan bendera The Golden Boy Promotion. Karena postur dan gaya bertinju serta pukulan tangan kanan yang keras selama tampil di Olimpiade, Albert sempat diajak bersama De La Hoya untuk berkarier tinju pro di Amerika oleh seorang promotor.

"Iya memang benar. Beta ditawarin bersama Oscar De La Hoya saat Olimpiade di Barcelona. Namun beta terikat sama pekerjaan sebagai anggota Polri, sehingga waktu itu, pak Jenderal Tri Sutrisno sebagai Panglima ABRI (Polri masih gabung dengan TNI, red) pada saat itu tidak mengijinkan. Beliau perintah harus kembali ke Indonesia. Jadi beta tidak berangkat,"" kisah Albert, yang sambil berkarier tinju memutuskan untuk ikut tes calon anggota Polri dan lulus masuk pendidikan Brimob di Pusdik Watukosek tahun 1990.

Selama menjadi anggota Brimob Polri, Albert tetap diijinkan mengikuti berbagai even resmi dan turnamen terbuka tinju untuk membela Indonesia. Prestasinya pun tetap mengkilap dan mendunia. "Karier sebagai anggota Brimob tidak halangi niat beta terus berprestasi. Karena didukung pimpinan. Beta tetap berlatih keras dan disiplin. Itu prinsip bila mau berprestasi," tutur Albert, yang adiknya almarhum Wellem Papilaya juga petinju nasional yang pernah meraih perak Asian Games di Seoul.

Karier tinju dan polisi-nya terus menanjak bersamaan. Lantaran itu, Albert mengaku diberi kesempatan ikut Pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) Polri di Sukabumi tahun 2000.

Waktu terus berjalan dan umur bertambah akhirnya Albert memutuskan berhenti tinju pada tahun 2001. Namun meski sudah tidak muda lagi, sebelum istirahat total dari tinju. Dengan bobot badan yang besar dan berat, Albert masih mampu sumbangkan medali emas untuk Indonesia di arena SEA Games 2001 pada kelas berat ringan 81 kg. Bahkan di kelas berat 91 kg pun dia sudah pernah mengalami nya dan tetap juara saat bertanding pada kejuaraan di India tahun 1997.

Kiprah dan prestasi Albert di olahraga baku pukul ini bukan saja fenomenal. Namun juga unik tapi nyata. Pasalnya, sejak awal geluti tinju dari remaja hingga prestasi dunia, dia sudah bertanding di semua kelas cabang tinju ini. Dari kelas layang 45 kg hingga kelas berat 91 kg sudah dilakukannya dan semuanya berprestasi.

"Dari kelas yang paling bawah 45 kg hingga terakhir 91 kg beta sudah rasakan. Jadi semua kelas sudah pernah beta main. Kelas berat 91 kg pun beta pernah juara di India tahun 1997. Yang paling lama di kelas 75 kg dan 81 kg. Sedangkan saat masih perkuat Maluku, beta main di kelas welter ringan 63,5 kg sesudah itu pindah ke DKI," ceritanya.

Lalu dimana kini Albert berada setelah undur diri dari dunia tinju tahun 2001 ? Ternyata dia serius tekuni karier sebagai anggota Polri. Setelah bertugas lama di Mako Pusat Brimob Kelapa Dua Mabes Polri, kemudian jadi Provost Pusat Brimob dan saat ini Albert bertugas di Polda Metro Jaya Jakarta dengan pangkat Komisaris Polisi (Kompol) alias satu bunga melati di pundaknya. "Sekarang beta dinas di Samapta Polda Metro Jaya sebagai Kepala Seksi (Kasi) Pasdal 2," ungkap Albert, mengakhiri kisahnya sebagai petinju maupun anggota Polri.

Selamat dan sukses selalu bung. Prestasimu akan dikenang dan menjadi legenda hidup tinju amatir Indonesia. (NP)

Baca Juga

error: Content is protected !!