Sekilas Info

KASUS KEKERASAN

Warga Kailolo Desak Polisi Usut Penemuan Mayat Diduga Dibunuh di Gedung Putih Mardika Ambon

satumalukuID/Embong Ilustrasi korban.

satumalukuID- Warga Desa Kailolo, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, mendesak pihak Kepolisian Resort Kota (Polresta) Pulau Ambon dan Pulau-Puau Lease, untuk mengusut sampai tuntas kasus penemuan mayat Sofian Marasabessy. Pria 49 tahun ini diduga dianiaya hingga tewas di Pasar Gedung Putih, Mardika, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Rabu (1/7/2020).

Almarhum ditemukan kemarin di pelataran Pasar Gedung Putih, atau tepatnya di depan ruko penjualan kain jendela (horden) milik Hamsani, sekira pukul 17.00 WIT. Dia tergeletak di atas lantai, tepatnya di bawah lapak dengan posisi terlentang.

Warga Kailolo yang bermukim di Lorong Putri, Negeri Batu Merah, Kecamatan Sirimau Ambon ini telah dimakamkan. Pihak keluarga enggan melakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun satumalukuID, disebutkan korban ditemukan pertama kali oleh Hamsani (40), pemilik kios tempat ditemukan mayat korban. Saksi saat itu datang ke kiosnya mengambil barang dagangan berupa kain horden sekira pukul 08.00 WIT. Kala itu, saksi melihat korban sementara terbaring dengan posisi terlentang di bawah lapak.

Melihat korban, saksi mengira jika saat itu almarhum dalam keadaan mabuk dan masih tertidur. Saat itu saksi takut membangunkan korban dan pergi membawa barang dagangannya tersebut. Setelah itu, sekira pukul 17.00 WIT, saksi kembali ke kios untuk kembali mengambil barang dagangan. Dia juga masih melihat korban dengan posisi dan tempat yang sama.

“Saksi kemudian menuju rumah Brigpol Budiana (Personil Polresta Ambon) untuk melaporkan kejadian tersebut. Kemudian bersama Budiana dan beberapa orang rekannya datang ke TKP untuk memastikan kondisi korban. Saat itu baru saksi tahu kalau korban telah meninggal,” kata sumber.

Setelah dilakukan olah TKP, korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Maluku, Tantui, Kota Ambon, malam kemarin. Untuk mengetahui penyebab kematian korban, pihak rumah sakit hendak melakukan otopsi. Sayangnya, keluarga korban enggan mengabulkan dengan menandatangani surat penolakan otopsi.

Meski menolak otopsi, tapi berdasarkan hasil visum luar oleh pihak rumah sakit menduga jika korban meninggal dunia akibat dipukul menggunakan benda tumpul di bagian kepala. Benturan benda tumpul tersebut mengakibatkan pendarahan pada bagian kepala korban. Bagian tubuh korban lainnya juga ditemukan sejumlah luka.

“Kalau hasil visum ada luka, hanya saja memang keluarga korban menolak untuk melakukan otopsi,” kata Kasat Reskrim Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease AKP. Gilang Prasetya kepada wartawan melalui telepon genggamnya, Kamis (2/7/2020).

Meski pihak keluarga menolak otopsi, tapi bukan berarti proses penyelidikan kasus itu tidak dilakukan polisi. Penyidik Satreskrim Polresta Pulau Ambon kini sedang berupaya melakukan penyelidikan sambil melihat akhirnya.

“Prinsipnya bukan tidak melanjutkan (proses hukum). Kalau memang tidak otopsi, kan bukti kami kan kurang. Pada prinsipnya kami tetap melakukan penyelidikan walau pun alat buktinya kurang. Kami upayakan dulu hasilnya seperti apa, nanti kita lihat di akhirnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pemuda Kailolo, Abdul Kadir Marasabessy, mendesak aparat kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut hingga tuntas. Pihaknya menduka kuat jika korban meninggal dunia setelah dianiaya Orang Tak Dikenal (OTK).

“Kita minta dengan tegas kepada polisi agar dapat mengusut kasus dugaan pembunuhan terhadap pemuda saya, masyarakat saya, saudara saya Sofian Marasabessy. Polisi jangan main-main dengan kasus ini,” tegas Abdul usai bertemu Kapolsek Sirimau di Pos Kota Ambon.

Permintaan tegas disampaikan kepada polisi, menyusul persitiwa serupa telah terjadi sebanyak 4 kali yang menimpa warganya. Hingga saat ini berbagai kasus itu tidak pernah terungkap.

“Maka hari ini beta selaku Kepala Pemuda Negeri Kailolo beta mohon untuk pihak kepolisian agar menindak tegas kasus dugaan pembunuhan tersebut. Karena beta seng mau ada hal-hal yang katong seng inginkan akang (terjadi),” tambahnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Desa Kailolo, Abdullah Marasabessy, kembali mempertegas agar kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia tersebut untuk segera diungkap.

“Ini pengalaman ke empat (kasus pembunuhan). Ini hal buruk dan kami masyarakat Kailolo sangat dirugikan, karena tidak ada kejelasan hukum. Sehingga kami mendesak agar kasus dugaan pembunuhan ini segera dituntaskan,” pintanya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!