Sekilas Info

OPINI KREATIF

MELANESIAN BERSATULAH; Kesadaran Indentitas Bersama Sebagai Sebuah Kesatuan

Ada tampilan yang berbeda secara fisik, yang sejatinya memberikan petunjuk terhadap ras yang berdiam di pulau-pulau yang membentang dari Nusa Tenggara Timur, kepulauan Maluku melintasi tanah Papua hingga ke kepulauan Fiji. Ras ini kemudian dikenal sebagai Melanesia.

Pengelompokan Melanesia sebagai wilayah yang berbeda dengan wilayah lain, awalnya datang dari para penjelajah Eropa ketika melakukan ekspedisi menjelajahi Pasifik. Secara umum, ras Melanesia merupakan ras yang berkulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat dan memiliki profil tubuh atletis. Mengutip dari artikel, Tony Firman di Tirto.id (2016).

Dalam artikel yang sama, dituliskan bahwa pada 1756 Charles de Brosses berteori bahwa ada orang-orang ras kulit hitam yang mendiami wilayah Pasifik. Selanjutanya tahun 1825 Jean Baptiste Bory de Saint-Vincent and Jules Dumont d'Urville mengidentifikasi ras itu sebagai Melanesia, merujuk pada sekumpulan ras yang berbeda dari ras penghuni wilayah sekitarnya seperti ras Australian dan Neptunian.

Sementara Robert Codrington pada abad-19 dalam sejumlah karyanya, seperti The Melanesian Languages (1885) dan The Melanesians: Studies in Their Anthropology and Folk-lore (1891), mendefinisikan Melanesia itu termasuk wilayah Vanuatu, Kepulauan Solomon, Kaledonia Baru dan Fiji. Wilayah Nugini kemudian baru dimasukan ke ras Melanesia oleh para peneliti antropologi dalam studi-studi berikutnya.

Seiring dengan waktu, orang Eropa semakin melihat Melanesia sebagai kelompok masyarakat yang berbeda budaya, bukan lagi sekadar berbeda ras dan daerah. Codrington, bahkan menghasilkan serangkaian monograf pada orang Melanesia berdasarkan lama waktu mereka tinggal di wilayah tersebut.

Prof. Harry Truman Simanjuntak, Arkeolog senior dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, penulis Buku “Diaspora Melanesia di Nusantara”, menyebutkan sejak ribuan tahun lalu, sudah ada interaksi di antara ras Melanesia, jika dilihat dari peninggalan-peninggalan atau bukti-bukti arkeologi di Papua Nugini menyebar hingga Maluku, Maluku Utara, dan wilayah di sekitar itu.

Saat ini, secara populasi, ras Melanesia lebih banyak bermukim di wilayah yang diklaim sebagai Indonesia. Merujuk pada data dari Kemendikbud RI, jumlahnya ras Melanesia bisa mencapai 13 juta jiwa di negara yang lebih dari 85 persen populasinya tergolong ras mongoloid yang tersebar Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat

Sementara ras Melanesia tersebar lima provinsi di kawasan timur Indonesia, meliputi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Adapun jumlah penduduk Melanesia di negara-negara lainnya, bila digabungkan sekira sembilan juta Jiwa. Tersebar di negara Papua Nugini, Timor Leste, Vanuatu, Kaledonia Baru, Kepulauan Salomon, serta Fiji.

Di Indonesia, sebagai sebuah identitas, Melanesia tampaknya belum diperkenalkan secara jelas dan gamblang di bangku-bangku sekolah, hanya kerap diidentifikasi sebagai orang-orang Indonesia Timur. Makanya kata Melanesia masih asing bagi telinga orang Indonesia.

Belakangan Melanesia mulai diperkenalkan dan dikonsolidasikan. Pada Oktober 2015, diadakanlah Festival Budaya Melanesia untuk pertama kalinya, dan Indonesia didapuk sebagai penyelenggara. Sesuatu yang merupakan manifestasi dari mulai terbangunnya kesadaran kolektif.

Indonesia dipilih sebagai tuan rumah dengan pertimbangan sekitar 80 persen penduduk yang disebut Melanesia bermukim di wilayah Indonesia. Sebagaimana disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Kacung Marijan, dikutip dari Antara.

Adalah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang menjadi tuan rumah festival Melanesia. Festival tersebut dihadiri para pemangku kepentingan bidang kebudayaan dan seniman dari Indonesia, Fiji, Papua Nugini, Pulau Solomon, Timor Leste, Vanuatu dan Kaledonia Baru serta sejumlah perwakilan dari Melanesian Spearhead Group (MSG) yang berpusat di Vanuatu.

Dalam acara itu, disuguhkan berbagai macam kebudaayaan dari masing-masing wilayah Melanesia, terutama dari timur Indonesia. beragam tarian, seperti tarian suku Molow di Timor Tengah Selatan, tarian dari Papua, Maluku dan kepulauan di NTT. Juga diadakan pemutaran film bertema Melanesia.

Sayang nuansa kepentingan Indonesia atau setidaknya kepentingan luar negeri indonesia sulit ditepis. Wajar saja karena kegiatan itu turut difasilitasi oleh pemerintah Indonesia, yang ditengarai sebagai salah satu instrumen untuk melunakkan sejumlah dukungan negara di Pasifik terhadap isu Papua.

Terlepas dari kecurigaan itu, yang pasti upaya itu telah menjadi embrio bagi lahirnya kesadaran komunitas bangsa Melanesia untuk terus membangun komunikasi dan konsolidasi. Antara lain guna menjalin kerjasama lebih strategis dalam berbagai bidang, seperti; pendidikan, kebudayaan, sosial dan ekonomi.

Apa yang terjadi sejauh ini baru pada tataran kerjasama antar pemerintah dan baru sebatas organisasi yang dinamakan Melanesian Spearhead Group (MSG). Dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi antara negara-negara Melanesia.

Kedepan tentu perlu ada konsolidasi yang lebih kuat, terutama yang terbangun atas inisiatif dari kalangan masyatakat sipil. Para intelektual muda orang Melanesia (Melanesian) harus mau membuka diri dan pikiran guna membangun langkah-langkah konsolidatif yang lebih nyata dan terukur.

Momentum yang ada jangan dibiarkan berlalu. Kesadaran akan indentitas bersama sebagai sebuah kesatuan bangsa Melanesia, selain dapat mengakomudir tujuan-tujuan strategis bersama, secara politik bisa menjadi alat untuk penjaga keseimbangan pembangunan dan distribusi keadilan, terutama terhadap 80 persen Melanesian yang ada di kawasan timur Indonesia, yang terkesan masih termarginalkan oleh pemerintah setempat.

Kesadaran kolektif terhadap identitas pada satu sisi, dan masih sibuknya Indonesia pada berbagai persoalan di Jawa atau kawasan barat Indonesia lainnya, cenderung mengabaikan kawasan timur, bukan tak mungkin akan memicu lahirnya nasionalisme baru, berbasis bangsa-bangsa Melanesia yang mengejutkan. Melanesian, bersatulah.

#catatanputratimur

#melanesian

Penulis: Ikhsan Tualeka
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!