Sekilas Info

OPINI KREATIF

PENDIDIKAN YANG MENJAWAB KEBUTUHAN; Catatan untuk Maluku Raya

Berikut ini kita akan sedikit membahas persoalan pendidikan. Sesuatu yang penting dan fundamen dalam memastikan kemajuan satu komunitas, bangsa dan negara.

Belajar dari negara lain yang lebih maju, pendidikan menjadi faktor kunci. Orientasi pendidikan, diarahkan kemana, dan untuk tujuan apa, jelas tergambar dalam paradigma, kurikulum, proses dan output dari pendidikan itu.

Secara umum, negara yang memiliki potensi sumber daya alam, biasanya mengarahkan pendidikan untuk menjawab kebutuhan pengelolaan potensi alam yang dimiliki. Sementara yang cadangan sumber daya alamnya relatif sedikit, pendidikan lebih fokuskan pada peningkatan kreativitas, inovasi dan penguasaan teknologi.

Ada pula negara yang mengarahkan pendidikan pada kedua hal di atas secara bersamaan. Yaitu ada dalam perlombaan penguasaan dan pencapaian teknologi, tapi sekaligus juga untuk menjawab tantangan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

Norwegia dan Chili adalah contoh bagaimana orientasi pendidikan dan penguasaan teknologi diarahkan pada pengelolaan semuber daya alam. Kedua negara ini berkembang menjadi negara eksportir ikan di dunia, sekalipun potensi lautnya kalah dibanding Indonesia.

Di Norwegia, ekosistem perikanan dibangun dari hulu sampai hilir, mulai dari produksi (tangkap dan budidaya), tahap pengolahan atau proses, hingga ke pemasaran. Hal ini memang terkait langsung dengan paradigma dan orientasi pembangunan dari pemerintah setempat.

Negara skandinavia yang juga terkenal karena pemandangan yang menakjubkan itu memiliki organisasi penelitian perikanan terkemuka, Institute of Marine Research. Wadah bagi para ahli ilmu pengetahuan laut bekerjasama dengan peneliti dari berbagai negara.

Begitu pula dengan Departemen Pendidikan dan Penelitian Norwegia yang terus menghasilkan sarjana dan magister teknologi rangking teratas dunia. Menunjukan orientasi dan komitmen dalam membagun dan mengembangkan potensi laut.

Chili juga sama. Negara di Amerika Latin dengan garis pantai membentang mulai dari Brasilia hingga ke ujung selatan Benua Amerika berbatasan dengan Argentina ini, juga menyadari garis pantai dan laut adalah potensi yang besar yang tak boleh diabaikan.

Sekali pun pada awalnya, nelayan Chili belum memiliki keterampilan dasar dalam budidaya ikan, khususnya Salmon. Tapi kerena pemerintah menyadari potensi yang dimiliki, mereka kemudian mengarahkan dan mengupayakan adaptasi teknologi terhadap budidaya Ikan Salmon.

Apa yang dilakukan Chili dalam membangun sektor perikanan tak terlepas dari visi kelutan dan perikanannya. Kemudian ditopang oleh lembaga-lembaga pendidikan, penelitian dan pengembangan yang kuat.

Keberadaan lembaga yang terus bekerja untuk menghasilkan inovasi teknologi budi daya, mampu menjadikan produk kelautan, khusus sektor perikanan Chili sangat kompetitif di pasar Internasional. Semua itu tentu tidak serta-merta, tapi diletakan dalam skema pembangunan.

Chili bahkan membutuhkan waktu hingga 20 tahun atau dua dekade untuk menjadi produsen Salmon nomor tiga tersebesar di dunia. Orientasi pendidikan turut memberi andil, semua terencana, tidak ‘tiba saat-tiba akal’.

Sesuatu yang berbeda dengan apa yang bisa disaksikan di tanah air, khususnya di Maluku Raya. Pendidikan seperti berjalan tanpa orientasi, membuat fungsi pendidikan dalam menjawab kebutuhan pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki, masih jauh dari harapan.

Sebagai daerah yang memiliki potensi alam serta wilayah laut yang besar dan luas, sampai saat ini tak kunjung berdiri pusat pendidikan, institut atau perguruan tinggi berbasis kemaritiman yang didirikan di wilayah Maluku Raya. Justru adanya di Pulau Jawa.

Belum ada lembaga riset dan pengembangan teknologi berbasis kelautan yang kemudian ditindaklanjuti dengan aplikasi serta pemanfaatannya di masyarakat, dalam bentuk pembangunan industri skala besar hingga dapat membuka lapangan kerja atau menyerap angkatan kerja. Ibarat memasak, masih jauh panggang dari api.

Kebutuhannya apa, yang dihasilkan atau dididik di bangku-bangku sekolah dan perguruan tinggi itu apa, belum nyambung dengan realitas kebutuhan. Semua itu dapat mudah diperiksa bila melihat kurikulum di daerah-daerah berbasis laut, yang tak jauh beda atau sama saja dengan di sekolah-sekolah di daerah kontinental atau wilayah daratan.

Realitas itu berimplikasi yang serius terhadap angka pengangguran di Maluku yang terus tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Maluku pada Februari 2019 menempati peringkat ketiga secara nasional yaitu sebesar 6,91 persen.

Lebih ironis lagi, dilihat dari tingkat pendidikan pada Februari 2019, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) paling tinggi diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 12,87 persen. TPT tertinggi berikutnya terdapat pada lulusan perguruan tinggi atau universitas sebesar 11,43 persen.

Dengan kata lain, belum banyak lapangan kerja yang tersedia atau disediakan hingga mampu menyerap tenaga kerja, atau juga para lulusan sekolah itu belum sesuai dengan lapangan kerja yang dibutuhkan. Tapi bisa jadi ini juga menjadi gambaran betapa pendidikan belum mampu menghasilkan inovator dan kreator muda dalam menjawab tantangan dan kebutuhan di masyarakat.

Fakta tingginya TPT, khususnya dari lulusan perguruan tinggi sebenarnya turut mengkonfirmasi orientasi pencari kerja di Maluku sejauh ini, yang rata-rata ingin menjadi Apartur Sipil Negara (ASN), atau setidaknya bekerja pada pemerintahan. Jalur ini formasinya tak akan mampu menyerap semua angkatan kerja terdidik itu.

Memang, hingga saat ini masih banyak anak-anak muda Maluku yang obsesinya sejak kecil adalah berseragam ASN. Profesi yang mudah dan dalam beberapa hal kerap kali tak memerlukan keterampilan dan kemampuan yang tinggi.

Jika kondisi semacam ini terus dibiarkan, sekali pun lahir dan besar di daerah yang kaya sumber daya alam, namun dari generasi ke generasi akan tetap hidup dalam kemiskinan dan ketertinggalan. Ibarat anak ayam mati di lumbung padi.

Pemerintah, baik eksekutif mau pun legislatif, pusat dan daerah perlu menumbuhkan sinergitas lintas sektoral termasuk dengan elemen masyarakat sipil, dunia usaha atau swasta dalam memajukan sektor pendidikan. Termasuk upaya yang lebih maju semacam reorientasi paradigma pendidikan.

Sebagai human invesment, pendidikan harus dilihat sebagai agenda penting dan strategis, orientasinya harus untuk menjawab realitas dan kebutuhan di masyarakat. Pendidikan harus menjadi lokomotif bagi perubahan sosial, peningkatan taraf hidup dan ekonomi satu masyarakat. Kaulitas pendidikan di satu negara selalu berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan warga negaranya.

#catatanputratimur

Penulis: Ikhsan Tualeka
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!