Sekilas Info

Meski di Situasi Pandemi Covid-19, Nilai Ekspor Maluku Sektor Non Migas Meningkat 400%

satumalukuID- Musim pandemi Covid-19 tidak menurunkan nilai ekspor khususnya pada sektor non migas tahun ini.

Terhitung sejak Januari-Mei 2020, nilai ekspor hasil laut yang didominasi ikan dan udang meningkat mencapai 400% bila dibanding dengan periode serupa di tahun 2019 kemarin.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, Elvis Pattiselano, mengaku, meski pandemi membatasi angkutan udara yang menjadi tumpuan ekspor langsung dari Ambon, tapi pihaknya bersyukur hal itu tidak berdampak secara signifikan.

“Kita kan tahu tumpuan ekspor hasil laut yang paling rutin itu adalah ekspor tuna fresh ke Jepang, yang setiap hari dilakukan saat kondisi normal. Tetapi saat pandemi ini pembatasan angkutan udara hanya satu minggu dua kali. Dua bulan sebelumnya sangat mempengaruhi volume dan intensitas ekspor menurun,” tutur Elvis, di Ambon, Kamis (25/6/2020).

Dia mengaku peningkatannya luar biasa jika dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Tahun ini nilai ekspor telah mencapai 29,5 juta USD.

“Angka ini sangat fantastis kalau kita bandingkan dengan tahun 2019 dimana satu tahun saja di 2019 Januari-Desember, nilai ekspor kita cuma 14,8 juta USD. Mengalami kenaikan 400%," ungkapnya.

Peningkatan tersebut, kata dia, dipengaruhi oleh ekspor komoditi udang ke Cina yang terus dilakukan normal oleh PT. Wahana Lestari Investama (WLI) di Opim, Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Apalagi, komoditi udang diangkut langsung dengan kapal dari pelabuhan perusahan.

“Setiap bulan 40 kontainer ke Cina, ada yang sekali ekspor langsung 40 kontainer ada yang sebulan 2 kali ekspor 20 kontainer satu kali jalan. Ekspor mereka tetap jalan lancar, tidak pernah putus. Ini yang membuat ekspor kita terus meningkat," ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, untuk nilai ekspor udang dari PT. WLI sendiri mencapai 3,8 juta USD satu kali ekspor. Sehingga WLI menjadi penopang untuk menutupi turunnya volume ekspor ikan akibat mewabahnya Covid-19.

“Jadi ikan ini menurun bukan karena tangkapan berkurang, tapi karena pembatasan penerbangan itu. Ini yang membuat ekspor ikan menurun. Sekarang tergantung pesawat, kalau ada pesawat masuk, berarti ada ekspor. Kalau tidak ada pesawat, ikan yang ditangkap hari ini misalnya, tidak bisa di ekspor," terangnya.

Menurutnya, jika volume ekspor komoditi udang ini terus berjalan normal hingga akhir tahun 2020, maka target ekspor dari sektor non migas di tahun 2020 ini bisa tercapai sebesar 40 juta USD. Dia berharap target tersebut bisa berjalan dengan lancar.

“Kalau mereka tetap stabil melakukan ekspor, maka target nilai ekspor non migas kita bisa tembus 40 juta US Dollar, ditambah dengan tuna, kepiting. Semua stakeholder tetap lakukan pelayanan, Bea Cukai, Perindag, Balai Karantina, Angkasa Pura, operator penerbangan, kita tetap berupaya berikan kemudahan-kemudahan bagi teman-teman eksportir yang menggunakan ekspor lewat udara. Ekspor lewat laut juga begitu. Tapi tetap dengan pengawasan," harapnya.

Penulis: Ian Toisutta
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!