Sekilas Info

OPINI KREATIF

Peran Pemuda di Tengah Pandemi Covid-19

Pagi ini, pukul 08.30, saya dapat kesempatan on air di RRI Pro2 Ambon, topiknya sama dengan judul catatan pendek ini. Peran pemuda di tengah pandemi Covid-19.

Tema yang menarik, karena memang pemuda adalah energi terbesar satu komunitas. Kapasitasnya terlihat dari sejauh mana perannya di masyarakat.

Sepanjang garis sejarah, pemuda selalu tampil terdepan, apalagi di saat krisis. Menjadi bagian penting dari arus besar kepedulian sosial dan mengupayakan hadirnya solusi.

Di masa pendemi ini pun pemuda harus menunjukan kontribusi, setidaknya dengan menjadi bagian dari upaya memutus matarantai Covid-19. Bukan justru menambah masalah hingga beban kian berat.

Namun bicara pemuda tentu bukan perkara sederhana. Sebab belum tentu semua entitas ini ada pada perspektif yang sama. Dunia pemuda adalah atmosfir yang dinamis dalam tantangan zaman yang kompleks.

Memang ada banyak anak muda yang peduli, atau menunjukan kepeduliannya akan situasi semacam ini. Tapi tak sedikit pula pemuda yang apatis atau masa bodoh dengan situasi, bahkan terlihat kontra produktif.

Masih saja dengan gampang kita temukan anak muda yang berkerumun, misalnya dalam berujuk rasa dan aktivitas lainnya tanpa masker dan menjaga jarak aman. Meski itu kegiatan positif, tapi tidak mematuhi protokol juga rasanya less sensitive.

Belum lagi ada bagian dari pemuda, mungkin karena era majunya teknologi informasi, sehingga info hoaks dan tak kredibel pun dengan mudah hinggap dikalangan mereka. Hal ini turut mempengaruhi cara padang anak muda itu dalam melihat dan memahami realitas.

Misalnya saja, ada yang secara terang-terangan di media sosial menyimpulkan dan menyatakan kalau pandemi ini rekayasa atau konspirasi, sehingga tak perlu dihiraukan. Logika yang membuat orang-orang yang peduli tidak saja harus berhadapan dengan pandemi, tapi juga dengan anak muda yang sesat pikir ini.

Mereka ini makin percaya bahwa ada konspirasi karena mungkin melihat orang di daerah atau wilayah sekitar ternyata tak banyak yang meninggal seperti di negara-negara lain, yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ada pula yang menganggap Covid-19 sama saja dengan flu biasa, sehingga tak berbahaya.

Mereka lupa, atau mungkin tak mendapat informasi yang memadai, bahwa benar-tidaknya teori konspirasi yang diyakini, faktanya Covid-19 itu ada, hidup dan mewabah di tengah-tengah masyarakat. Dibuktikan secara medis dan banyak yang meninggal setelah terpapar.

Memang harus diakui Covid-19 tidak fatal dampaknya bagi orang yang bertubuh sehat. Tapi akan sangat berbahaya bagi kelompok rentan seperti manula dan orang-orang yang punya penyakit bawaan.

Artinya jika ada banyak orang muda yang tetap sehat, bisa jadi karena mereka dalam kondisi fisik yang prima dan imun tubuh yang stabil. Tapi jangan lupa, mereka yang sehat ini bisa saja menjadi carrier atau perantara berpindahnya virus ke orang lain atau anggota keluarganya yang masuk kelompok rentan.

Kondisi sewaktu-waktu bisa fatal, bila kita semua, khususnya anak-anak muda tidak responsif dan berperan aktif. Apalagi situasi pandemi ini bisa jadi masih lama, setidaknya hingga vaksinnya ditemukan, sementara hidup harus terus berjalan.

Mau tak mau kita semua harus adaptif, atau melakukan adaptasi kebiasaan baru dengan menghindar sebaik mungkin, agar tidak terpapar virus. Itu bisa dilakukan dengan lebih sering di rumah, pakai masker, jaga imun tubuh, jaga jarak, jaga kebersihan diri dan lingkungan.

Karena ada kemungkinan kita akan sering di rumah atau di ruang private, maka pilihan bagi anak-anak muda adalah memanfaatkan waktu di rumah dengan optimal dan kreatif. Banyak hal sejatinya bisa dilakukan.

Pertama, mengupayakan peningkatan keterampilan atau kapasitas diri. Ini bisa dilakukan dengan kursus bahasa asing, menulis, acting, olah vocal, melukis, membaca, dan lainnya, yang saat ini bisa dilakukan secara online atau melalui video tutorial.

Kedua, dengan menyalurkan hobi yang bermanfaat atau menghasilkan uang. Caranya bisa dengan berkebun, menulis buku, olahraga, membuat kerajinan atau hand made, atau bahkan menjadi YouTubers.

Ketiga, adalah dengan berbisnis atau bikin usaha dari rumah. Aktivis ini bisa dilakukan dengan cara daring atau online. Ada pun yang dijual bisa kuliner, hasil kebun sayur dan buah organik, bahkan hingga mencoba bisnis peternakan seperti ayam, sapi, kambing, dan lainnya.

Intinya anak muda harus tetap berkarya, inovatif dan kreatif dalam setiap kondisi, termasuk dalam situasi pandemi semacam ini. Anak muda harus menjadi bagian dari solusi, bukan turut menambah masalah. Salam sehat.

Ambon, 22 Juni 2020

Penulis: Ikhsan Tualeka, Direktur Beta Kreatif.

Penulis: Ikhsan Tualeka
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!