Sekilas Info

OPINI KREATIF

MEMAHAMI GIMIK DALAM KOMUNIKASI; Mulai dari selebritis, Doni Monardo, Ridwan Kamil, Anies Baswedan hingga Murad Ismail

satumalukuID/freepik.com Diverse people showing speech bubble symbols

Sekadar tulisan ringan di akhir pekan. Belakangan ini, sejumlah publik figur atau juga pejabat publik kerap menggunakan gimik dalam berkomunikasi. Antara lain agar pesannya jauh lebih efektif pada khalayak yang hendak dipersuasi.

Apa lagi di era majunya teknologi informasi seperti saat ini, gimik makin menemukan memontumnya. Tentu ada gimik yang produktif atau positif, namun ada juga yang kontraproduktif atau terkesan negatif.

Dalam wikipedia, gimik (bahasa Inggris: gimmick) diartikan sebagai istilah umum yang merujuk kepada pemanfaatan kemasan, tampilan, alat tiruan, serangkaian adegan untuk mengelabuhi, memberikan kejutan, menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain.

Dalam tayangan televisi gimik kerap digunakan, seperti dalam acara Opera Van Java di Trans TV dengan menggunakan properti tiruan dalam sejumlah adegan. Sejumlah selebritis juga kadang menggunakan gimik untuk menaikan rating mereka di dunia hiburan.

Misalnya diberitakan sedang dekat atau pacaran, padahal hanya settingan. Digosipkan mau cerai atau ada konflik padahal sedang baik-baik saja, dan sejumlah gimik lainnya yang kerap menghiasi layar infotainment.

Di atas itu lebih terkesan gimik yang negatif atau setidaknya kurang edukatif. Tapi ada juga gimik yang bagus atau produktif. Yaitu gimik untuk memberikan kejutan, menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain.

Hal ini kerap digunakan dalam dunia marketing. Yaitu strategi marketing yang sengaja didesain untuk menarik perhatian calon pembeli. Caranya atara lain dengan menonjolkan diferensiasi (faktor pembeda suatu produk dengan bentuk lain), positioning, dan menggunakan kreativitas agar menarik minat calon pembeli.

Di era persaingan dan informasi yang jor-joran seperti saat ini, gimik hampir bisa dikatakan selalu berhasil menarik perhatian. Sehingga kerap digunakan oleh pemangku kewajiban atau pejabat pemerintahan.

Kita di Maluku punya pengalaman bagus dan menarik soal ini. Seperti penggunaan istilah emas biru dan emas hijau oleh Letjen. Doni Monardo saat menjabat sebagai Pangdam XVI/Pattimura.

Jenderal Doni sengaja mempersonifikasi potensi dan kekayaan di laut dan di darat (hutan) Maluku sebagai emas dengan warna yang lain. Penggunaan emas adalah diksi atau gimik untuk meyakinkan khalayak, khususnya di Maluku bahwa ini potensi besar yang dimiliki dan mesti dikelola dengan optimal.

Ada juga sejumlah gimik yang digunakan oleh kepala daerah untuk mempersuasi khalayaknya. Gimik digunakan agar ada kesan serius dan sungguh-sungguh, atau untuk lebih menarik perhatian.

Misalahnya Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat dalam kebijakan-kebijakan dan perubahan infrastruktur yang dilakukannya, ia mengakui kerap menggunakan gimik. “Perbaikan taman-taman dan program-program seperti teknopolis, smart city, dan creative city sejauh ini hanya sekadar ‘gimmick’ atau jargon," katanya kepada media.

Begitu pula dengan Anies Baswedan. Ia menggunakan gimik ‘Ajak Masyarakat Bayar Kembali ke Jakarta’ program yang diluncurkan Gubernur DKI Jakarta ini terkait Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB), yang merupakan kolaborasi sosial dari warga untuk warga lainnya yang membutuhkan, dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai fasilitator program. Diksi ‘bayar’ Jakarta tentu adalah gimik yang sengaja digunakan untuk menarik perhatian warga.

Lain lagi dengan di Maluku, belakangan dalam mengajak masyarakatnya untuk lebih peduli terhadap kondisi dan penanganan pandemi, Gubernur Maluku, Murad Ismail menantang pengkritik kinerja tim gugus tugas penanganan Covid-19 untuk tinggal serumah dengan pasien positif terpapar. Tantangan dari seorang pemimpin yang sebetulnya agar semua elemen lebih peduli dan taat protokol.

Ini bisa jadi adalah semacam gimik untuk menegaskan pada publik atau khalayak di wilayahnya agar jauh lebih peduli dan tak menganggap situasi ini main-main. Juga memberikan pesan bahwa ada banyak orang di garda depan, seperti tim medis yang sedang bekerja tak kenal lelah membendung laju pandemi ini.

Sayangnya, upaya meyakinkan dan mempersuasi lewat ‘gimik’ tantangan itu kemudian direspon oleh salah satu selebgram (ya namanya juga selebgram, tak bisa melewatkan peluang kontraversi) dengan mem-posting tantangan balik di akun Instagram-nya. Tapi bukan berani menjalani tantangan, dia bahkan menantang balik dengan menaikkan nilai taruhan, yaitu dengan jabatan. Bisa saja dia juga sedang ber-gimik.

Sejumlah pemuda lokal melihat ada seleb yang menantang balik Gubernur-nya, seperti mendapatkan peluang dan angin segar, mereka kemudian melancarkan tantangan balik di media sosial. Bukan pula menerima tantangan, tapi menantang balik dengan taruhan macam-macam.

Mereka menantang kepala daerahnya sendiri dengan memanfaatkan efek viral dari seleb yang notabene dari daerah lain, yang mungkin saja tidak paham kondisi sosial-kultural di Maluku. Bukan membangun narasi kritisnya sendiri, istilahnya ibarat menari, tapi dengan tifa yang ditabuh orang lain.

Ada peribahasa tua, juga gimik ‘tua’ atau lawas di Maluku yang sering kita dengar, kurang-lebih begini: “Beta suruh pi makan tai, la se pi makan tai?”. Artinya satu tantangan di Maluku itu tidak hanya bisa dilihat dari ungkapan yang tersampaikan atau tersurat saja, tapi juga dari yang tersirat dari pernyataan itu.

Ini yang agaknya kurang dipahami, yang pada akhirnya perdebatan publik justru bergeser pada tantang-menantang ini, bukan pada subtansi pernyataan Gubernur yang saya maknai hanya sekadar gimik itu. Satu tantangan pada publik agar mau lebih peduli dan waspada terhadap pandemi.

Tapi kesalahan atau ‘misinterpretation’ tidak serta merta ada pada menerima pesan. Pemberi pesan atau pengguna gimik dalam memberikan pesan juga mesti hati-hati, bila tak ingin niat gimik-nya itu diinterpretasikan keliru oleh khalayak, yang nyatanya punya kapasitas yang berbeda-beda dalam memahami satu pesan.

Kedepan tentu kita semua harus bisa responsif terhadap satu pesan komunikasi, tidak reaktif yang cenderung sumbu pendek. Di sisi lain para pemimpin atau pemangku kewajiban juga harus tepat dalam menggunakan diksi atau pun gimik, sehingga pesan dan komunikasi jauh lebih efektif.

Ambon, 21 Juni 2020

Penulis: Ikhsan Tualeka, adalah Magister Komunikasi Politik Universitas Paramadina Jakarta, saat ini Direktur Beta Kreatif.

Penulis: Ikhsan Tualeka
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!