Sekilas Info

Ditemukan Adanya Klaster Baru, Jumlah Kasus Covid di Kota Ambon Masih akan Bertambah Signifikan

Suasana Kota Ambon dan teluknya.

satumalukuID- Dinas Kesehatan (Dinkes) Ambon mengoptimalkan pelacakan masyarakat yang melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi virus corona jenis baru (COVID-19). Dua minggu ke depan, diprediksi jumlah kasus akan bertambah signifikan karena adanya klaster baru di sejumlah desa dan kelurahan.

"Sampai hari ini kita berupaya melakukan pelacakan di setiap desa dan kelurahan pada masyarakat yang melakukan kontak dengan pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Ambon Robert Chandra di Ambon, Rabu (17/6/2020).

Hingga saat ini, pihaknya telah melakukan pelacakan kepada kurang lebih 5.000 orang, yang terbagi dalam beberapa kategori, yakni melakukan kontak dengan orang dalam pemantauan (ODP) 2.114 orang, pasien dalam pengawasan(PDP) 526 orang, sedangkan total kasus positif COVID-19 mencapai 366 orang.

Selain itu, katanya, penelusuran bagi masyarakat yang telah melakukan tes cepat 484 orang yang dinyatakan reaktif dan 3.177 nonreaktif.

"Dari penelusuran yang yang telah ditangani terdapat peningkatan jumlah kasus yang signifikan, jumlah ini dipastikan akan mengalami peningkatan untuk dua minggu ke depan," katanya.

Peningkatan kasus tersebut, kata Chandra, disebabkan adanya klaster baru di sejumlah desa dan kelurahan di Kota Ambon.

Klaster baru terjadi di kawasan Negeri Batu Merah, Kelurahan Rijali, Waihaong, Desa Poka, Wayame, dan desa lainnya.

Klaster baru itu menyebar ke sejumlah kecamatan di Kota Ambon, yakni Sirimau, Nusaniwe, dan Teluk Ambon.

Ia mencontohkan di kawasan Negeri Batu Merah sekitar tiga hingga empat rumah terkonfirmasi positif dengan jumlah delapan orang.

"Batu Merah yang merupakan kawasan padat penduduk, tidak menutup kemungkinan untuk ditularkan ke orang lain di sekitar lingkungan pasien, karena itu petugas kita gencar melacak untuk mendapatkan informasi," ujarnya.

Dia mengatakan petugas yang melakukan pelacakan maupun proses tes cepat juga mendapat penolakan dari masyarakat.

"Walaupun mendapat penolakan yang disertai ancaman petugas kami tidak berhenti untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, agar dapat mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan," kata Chandra.

Baca Juga

error: Content is protected !!