Sekilas Info

OPINI

Belajar dari Meuw

satumalukuID/Istimewa

Empat orang anak laki laiki berlari dari lapangan menuju gedung sekolah, tempat adik adik mereka belajar. Kata ibu guru, setiap turun hujan, siswa kelas 5 dan 6 akan membantu membenarkan atap sekolah agar tidak bocor parah, dan bisa gunakan untuk belajar. Aku mengejar mereka masuk ke dalam ruang ruang kelas. Ruangan yang berukuran sekitar 2 x 2, yang terdiri dari 4 ruangan.

Air menggenang di mana-mana. Papan tulis basah dan meja kursi disingkirkan ke sudut ruangan. Kudapati mereka sudah berada di atap gedung sambil memegang daun rumbia. Merapikannya dan menambal bagian-bagian yang terbuka. Mereka memanjatnya begitu cepat, kuduga ini adalah hal yang biasa mereka lakukan. Selain hujan, mereka juga bertaruh dengan angin laut yang bertiup kencang. Menerbangkan satu demi satu atap.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Meuw sudah berdiri sejak tahun 2015. Letaknya di ujung Desa Tamilow, Maluku Tengah. Sebelumnya sekolah ini adalah bagian dari kelas jauh SD Inpres Lateri sejak tahun 2009. Pertama kali dibangun, hanya ada 22 siswa dan ruangan seadanya. Pada tahun 2013, masyarakat gotong royong membangun gedung sekolah.

Beberapa warga mengajukan proposal dana untuk pembuatan pondasi dan pengadaan materil lainnya, serta sebagian warga patungan untuk pengadaan atap. Saat itu Dusun Meuw ditempati oleh sekitar 40 kepala keluarga. Masing-masing kepala keluarga menyumbang Rp. 25.000,- untuk atap sekolah.

Hal ini tidak hanya terjadi sekali. Setiap ada kebocoran dan kerusakan, warga akan kembali memberi sumbangan. Kebutuhan atap sekolah cukup banyak, mengingat ukuran gedung yang besar. Atap yang terbuat dari daun rumbia memang tidak bisa bertahan lama, karena sering kali rusak. Akhirnya warga memilih untuk merenovasi sekolah dengan ukuran lebih kecil, agar kebutuhan atap bisa dikendalikan.

Beberapa waktu kemudian, sekolah menerima bantuan dari PNPM Mandiri untuk membangun gedung baru, yang lebih layak. Walau hanya tiga ruangan, aktivitas belajar jadi lebih optimal dari sebelumnya. Siswa kelas 1 sampai 4 berbagi ruangan di bangunan lama berdinding papan. Sedangkan siswa kelas 5 hingga 6, serta guru di ruangan baru yang terbuat dari beton.

Setiap tahun makin banyak siswa yang bersekolah di sini. Antusias belajar luar biasa. Masyarakat mendukung misi pendidikan ini. Ketika peralihan status sekolah, masyarakat membeli tanah ini dengan menyumbangkan Rp. 300.000,- per kepala keluarga.

Tanah sekolah resmi tersertifikasi dan milik bersama untuk pembangunan sumber daya manusia lewat pendidikan. Walau sekolah negeri, SDN Meuw berdiri diatas keringat banyak orang, sampai saat ini belum ada renovasi atau pengadaan gedung baru dari pemerintah daerah.

Dukungan untuk Meuw

Pada tahun 2014, antusias anak-anak belajar di sini makin luar biasa. Walau banyak keterbatasan, dari fasilitas, SDM hingga akses informasi, Semangat anak-anak untuk menimba ilmu tidak dapat diragukan. Kondisi sekolah ini diketahui oleh beberapa orang, dan pada saat itu diagendakan untuk membangun perpustakaan.

Buku buku digalang, banyak orang ikut menyumbang dari Pulau Jawa dan daerah lainnya. Beridiri tegak sebuah ruangan sederhana depan sekolah, dekat dengan bibir pantai, sebuah perpustakaan, hasil dari teman teman mahasiswa juga relawan memberi bantuan.

Masyarakat membantu dengan ikut memberikan hasil pertanian, dan dijadikan usaha. Beberapa relawan menjualnya untuk tambahan dana. Saat ini anak-anak sudah bisa menikmatinya untuk belajar kapan saja.

Beberapa waktu lalu, saat ditengok pada awal Juni 2020, tidak ada perubahan signifikan dari bentuk fisik sekolah. Walau sering disuarakan, SDN Meuw masih begitu-begitu saja.

Bahkan semakin parah. Meski ditunggu-tunggu, bantuan yang sering dijanjikan pun tak kunjung datang. Harapan masih ada, walau tidak jadi prioritas. Pada dua (2) tahun terakhir, beberapa oknum datang mengunjungi sekolah, mengambil gambar, menjanjikan pembangunan.

Beberapa kali meminta uang untuk proses administrasi katanya, karena berharap lebih para guru memberikan uang pribadi bahkan mencari hutang. Hal ini beberapa kali terjadi dan menjadi pembelajaran agar sekolah lebih berhati-hati

Pendidikan adalah hak masyarakat, dan pemerintah berkewajiban memenuhinya. Semoga sekolah Meuw segera diperhatikan oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

Penulis: Desi Rahmawaty, adalah aktivis peduli pendidikan di Maluku.

Penulis: Desi Rahmawaty
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!